Tampilkan postingan dengan label worst man eaters. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label worst man eaters. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

9 Worst Man-Eaters: THE X FACTOR

Ikhtitâm:

Di alam liar, harimau, hiu, singa, beruang, buaya, serigala, ular, dan sejenisnya, sama-sama dikenal dengan reputasi sebagai predator puncak dalam ekosistem masing-masing. Secara umum, mereka hanya menjadi ancaman bagi binatang lain yang memang merupakan mangsa alami mereka. Namun, dalam situasi tertentu, para predator ini kerapkali harus bertemu dan terlibat kontak fisik dengan para homo sapiens.

Belakangan ini memang amat jarang adanya laporan serangan predator atas manusia yang berakibat fatal (selain serangan ular berbisa yang relatif konstan pertahun). Malah sebenarnya para predator cenderung menghindar dari terlibat kontak dengan manusia. Kalaupun terjadi pertemuan, maka, tentu saja, senjata alami semacam taring dan cakar tak mampu melawan senjata rakitan manusia yang semakin lama berkembang semakin mematikan. Sehingga kebanyakan ‘perseteruan’ predator-manusia selalu berakhir dengan kematian bagi para predator itu. Belum lagi dalam kasus saat predator berubah status dari ‘pemangsa’ menjadi ‘mangsa’ di mata serakah (sebagian) manusia.

Statistik memang menunjukkan, ular adalah predator yang paling banyak menyebabkan kematian manusia. Namun pembunuhan oleh ular ataupun spesies buas lainnya, pada umumnya, tidak dilakukan dalam rangka ‘memangsa’, tapi lebih atas dasar pertahanan diri atau adanya unsur ‘kebetulan’; mereka melihat manusia sebagai sebuah ancaman. Namun bagaimanapun, para predator dalam catatan-catatan tersebut di atas, secara individual, benar-benar menjadi amat agresif, mematikan, dan mendudukkan manusia dalam ranking teratas daftar menu mereka.

Paling tidak, ada lima faktor yang melatar belakangi kasus-kasus serangan binatang atas manusia: Pertama, ‘perebutan’ sumber makanan dan hak hidup di lingkungan yang sama. Kasus Gustave, Tom, dan para beruang bisa menjadi contoh.

Kedua, murni asal terkam. Faktor kedua ini banyak ditemui dalam kasus serangan hiu dan para macan semisal harimau serta singa. Dalam perspektif hiu, orang yang sedang berenang, dilihat dari bawah, amat mirip dengan anjing laut, mangsa alami mereka. Dalam konteks serangan macan, menurut penelitian, manusia yang sedang membungkuk atau jongkok lebih banyak diserang daripada mereka yang berdiri tegak.

Ketiga, faktor keterbatasan fisik (baik karena cacat atau karena usia lanjut) yang manjadi hambatan serius untuk mendapatkan makanan secara alami. Insiden amukan para macan di Champawat dan Panar adalah contoh yang cukup gamblang. Tak tertutup kemungkinan, mengganasnya singa The Ghost dan The Darkness juga dilatar-belakangi hal yang sama. Namun saya lebih cenderung mengaitkan insiden Tsavo itu dengan faktor kedua di atas. Tapi, seandainya yang mengamuk adalah seekor singa, bukan dua ekor, maka kemungkinan terlibatnya faktor ketiga ini menjadi semakin besar.

Keempat, naluri untuk bertahan saat terancam. Pada situasi seperti ini, siapapun atau apapun akan melakukan hal yang sama: bertahan dan membela diri sesuai kemampuan, sebagaimana telah ditunjukkan Si Buas dari Gevauden. Tapi seandainya si Pemangsa Misterius di Perancis itu adalah benar serigala, maka faktor pertama pun akan menjadi logis.

Kelima, semakin berkurangnya habitat disebabkan perubahan cuaca yang ekstrim. Namun konsekwensi dari hal ini –sebagaimana faktor keempat— tidak hanya menyebabkan terjadinya serangan predator atas manusia, tapi serangan binatang pada umumnya, bahkan yang ‘sekelas’ semut dan lebah sekalipun.

Faktor apapun yang terjadi, jika sampai melahirkan seekor pemangsa manusia, maka resikonya akan sangat besar. Seekor predator yang sudah mencapai level pemangsa manusia, diyakini secara ilmiah akan tetap membunuh walaupun tidak sedang kelaparan.

Pada akhirnya, setiap insiden penyerangan binatang atas manusia, baik yang spektakuler sebagaimana dalam daftar di atas, atau yang sekedar mengakibatkan cedera ringan, biasanya selalu melahirkan pertanyaan yang sama: “siapa melanggar batas siapa?”

Jawabannya bisa kita cari dalam kedirian kita masing-masing sebagai “khalifah” di bumi ini…

Wa-Llâhu Subhânahû wa Ta’âlâ a’lam bi-s shawâb…

***

Partelon, Muharram 1433 H – Desember 2011
Al-Faqîr ilâ Rahmati Rabbi-hi-l ‘Allâm,
Zainur Rahmân Hammâm

Jumat, 02 Desember 2011

9 Worst Man-Eaters #02 - RATU PEMBUNUH DARI CHAMPAWAT

Melanjutkan kisah penyerangan warga macan paling sepktakuler di India, sekarang saya akan memperkenalkan jenis macan kedua, yaitu harimau, tepatnya harimau Bengala (Panthera tigris tigris).

Dalam hal kasus serangan harimau atas manusia, dari semua jenis harimau, tak satupun yang menyamai rekor korban serangan harimau Bengala (saya sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi target harimau Bengala, hiks…). Dan di antara beberapa insiden serangan harimau Bengala, yang paling spektakuler adalah penyerangan seekor harimau betina pada tahun 1907 (atau 1911 menurut versi lain).

Mulanya, betina garang yang dijuluki “Harimau Betina dari Champawat” ini melakukan pembantaian di Nepal dan menewaskan 200-an orang. Para pemburu dikerahkan namun harimau itu terlalu licin untuk ditaklukkan. Ia menjadi jarang memunculkan diri, seolah mengerti bahwa nyawanya terancam. Pemerintah Nepal akhirnya memutuskan untuk mengerahkan sepasukan tentara guna memburunya. Namun bahkan Tentara Nepal-pun gagal membunuhnya. Mereka hanya berhasil mendesak posisi harimau itu ke sungai Sarda, yang memisahkan wilayah Nepal dengan India. Sang harimau menyeberang ke India, dan melanjutkan ‘aktifitas’nya di sana dan merenggut nyawa 236 orang penduduk. Dilaporkan bahwa setiap kali harimau ini melakukan pembunuhan, ia menjadi semakin berani dan nekad. Ia mulai melakukan intimidasi, teror dan penyerangan di siang hari. Para penduduk tak lagi berani meninggalkan rumah mereka untuk berakrtifitas, karena auman sang harimau masih sering terdengar di sekitar mereka.

Jim Corbett pun terpanggil. Pemburu berpengalaman yang pada usia 8 tahun telah sukses membunuh seekor leopard ini berhasil menemukan jejak sang harimau dengan menyusuri ceceran darah dan potongan tubuh korban terakhirnya, seorang gadis berusia 16 tahun. Jim Corbett adalah seorang pemberani, namun toh pria itu tak bisa menahan kengeriannya melihat pemandangan horor di hadapannya.

Corbett menembak mati sang Maut Loreng dari Champawat itu. Keberhasilan ini semakin melambungkan nama Jim Corbett. Ia bahkan dianggap sebagai ‘orang suci’ oleh sebagian penduduk setempat. Untuk menghormati pejuang konservasi alam India ini, sejak 1955 hutan lindung Ramgangga resmi diberi nama “Taman Nasional Corbett” (Anehnya, dari sekian jenis fauna khas India, justru hanya harimau Bengala yang tidak ditemui di sini.) Tentara berpangkat kolonel dan bernama lengkap Edward James Corbett ini menulis sebuah buku berjudul Man-Eaters of Kumaon (terbit 1944). Dalam buku itu, ia mengungkapkan secara detil pengalamannya dalam memburu dan membunuh sejumlah harimau serta leopard pemangsa manusia sejak 1900-an sampai 1930-an.

Bicara jumlah korban, tak disangsikan lagi bahwa “Harimau Betina dari Champawat” ini adalah predator pembunuh manusia paling ‘produktif’ dalam sejarah. Rekor korban kebuasannya yang berjumlah total 436 orang tewas (tanpa menutup kemungkinan ada korban lain yang tak tercatat), nyaris tak tertandingi, bahkan oleh manusia yang menjadi pembunuh berantai paling gila sekalipun. Mungkin, hanya ada 1 orang pembunuh berantai yang menyamai, bahkan mengalahkan reputasi “Harimau Betina dari Champawat”, yaitu seorang Putri Bangsawan berkebangsaan Hungaria bernama Elizabeth Báthory (1560 – 1614). Konon, wanita ini ingin mempertahankan kemudaannya dengan mandi darah perawan. Maka, bersama empat pembantunya, ia membunuh lebih dari 650 orang gadis. ‘Lucunya’, tuan putri haus darah ini dikenal dengan julukan “Harimau Betina dari Csejte“!

KOMENTAR SAYA: Harimau dikenal sebagai keluarga macan paling besar dibanding anggota panthera yang lain, khususnya sub-spesies harimau Siberia, yang bisa mencapai ukuran panjang lebih dari 3 meter dan bobot 300 kg. Tak seperti singa, harimau lebih suka berburu sendirian dan dikenal sebagai ambush predator (pemangsa yang menggunakan metode menyergap untuk menangkap korbannya).

Harimau Bengala sendiri merupakan salah satu dari 6 sub-spesies harimau yang masih eksis saat ini (setelah 3 jenis harimau dinyatakan punah, yakni harimau Kaspia, harimau Jawa dan harimau Bali). 5 sub-spesies lainnya adalah harimau Siberia (Panthera tigris altaica), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau Indochina (Panthera tigris corbetti), harimau Cina Selatan (Panthera tigris amoyensis), dan harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni). Habitat harimau Bengala meliputi India, Bangladesh, Nepal dan Buthan. Walaupun populasinya berjumlah sekitar 3000-an ekor di negara-negara tersebut, dan terbesar dibanding populasi jenis harimau lain, harimau Bengala ditetapkan berstatus “genting (endangered)” oleh Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature - IUCN).

Dengan populasi harimau sebesar itu, ditambah banyaknya hunian manusia terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan, India dan Bangladesh menjadi negara ‘penghasil’ kasus serangan harimau terbesar di dunia. Desa Bandhavgarh dan desa Sundarban bisa mewakili kedua negara tersebut sebagai daerah ajang pembantaian harimau atas manusia. Di Bandhavgarh, serangan harimau memang tergolong langka, bahkan sempat tidak laporan sama sekali. Namun sejak tahun 2004, mulai ada laporan masuk tentang insiden penyerangan harimau, dan frekwensinya tiap tahun cenderung meningkat. Adapun daerah yang benar-benar menjadi ajang perburuan bagi para harimau Bengala adalah Sundarban. Di desa yang dalam bahasa Bengali berarti “rimba yang indah” ini , korban tewas akibat serangan harimau Bengala berkisar 50-60 orang per tahun! (Apakah orang-orang di sana mulai berfikir untuk merubah nama desa mereka? Entahlah…)

***

Secara spesifik, kerutalan si Betina dari Champawat maupun Leopard Panar, berdasarkan data dan informasi yang saya dapatkan, dipicu oleh kondisi ‘terpaksa’. Kedua macan ini dilaporkan mengalami cedera oleh ulah pemburu. Cedera itu membuat mereka tak mampu berburu binatang-binatang liar yang selama ini menjadi mangsa alaminya. Sebagai perbandingan, seekor harimau yang sehat saja rata-rata hanya sukses 1 kali dari 15 kali perburuannya.

Terdorong upaya untuk bisa survive, akhirnya macan-macan ini turun gunung dan mengalihkan sasarannya pada mangsa yang lebih mudah diperoleh dan jumlahnya pun melimpah: manusia. Dan wajar jika kemudian mereka menjadi ketagihan dan mengakibatkan jumlah korban yang besar. Illustrasinya begini: Anda tak bisa mendapatkan makanan yang biasa Anda peroleh. Anda menjadi kelaparan. Lalu Anda disuguhi makanan lain yang berbeda dari yang selama ini Anda konsumsi. Rasa lapar tentu membuat Anda akan segera menyantapnya tanpa perlu berpikir dua kali. Lalu tiba-tiba Anda menyadari satu hal: makanan baru ini lebih nikmat daripada yang biasa Anda makan, dan ketersediaannya pun lebih dari cukup serta mudah pula diperoleh. So, why not?

(Bersambung ke Man-Eaters # 01, In Syâ' Allâh)

Minggu, 27 November 2011

9 Worst Man-Eaters #03 - TARIAN MAUT LEOPARD INDIA

Saudara-saudara, mari sejenak kita tinggalkan Afrika dan kembali mengunjungi India, salah satu negeri eksotik di Asia. Kali ini saya akan memperkenalkan dua spesies predator yang masih berkerabat dengan singa, alias sama-sama macan, namun dengan tampilan fisik yang lebih ‘fashionable’, yakni harimau dan leopard. Sebelum insiden serangan beruang sloth di Maysore, kedua jenis macan itu lebih dahulu telah menorehkan tinta darah paling merah dalam lembaran sejarah kontak binatang-manusia di India dan sekitarnya pada abad XIX dan awal abad XX.

Baiklah, saya mulai dari macan pertama, yaitu leopard India (Panthera pardus fusca).

Yang paling legendaris dari berbagai kasus serangan leopard terhadap manusia, khususnya di India, adalah serangan yang terjadi pada tahun 1910, oleh seekor leopard jantan asal Kumaon, daerah pegunungan di bagian Utara India. Diketahui bahwa leopard ini paling aktif ‘berburu’ di Provinsi Panar. Keganasan dan kebrutalannya telah menyebabkan korban tewas sebanyak 400 orang!

Sebelumnya, pada kurun 1857-1867, juga pernah terjadi serangan seekor leopard. Kebrutalan macan tutul berjuluk “Pemakan Manusia dari Kahani” itu tercatat menewaskan 200 orang. Sayangnya, saya belum menemukan data-data yang menjelaskan secara detil insiden ini.

Lalu pada kurun 1918 dan 1926 di Rudraprayag, India, sekitar 125 orang tewas oleh serangan seekor leopard (yang belakang diduga kuat terlepas dari sebuah Menagerie). Leopard ‘iseng’ ini membuntuti dan membantai para peziarah yang tengah menuju sebuah kuil Hindu di India Utara.

Pada akhirnya, kebanyakan pemangsa manusia selalu berbagi nasib yang sama, tewas di ujung senjata manusia. Adalah seorang pemburu terkenal sekaligus pejuang konservasi alam, Jim Corbett (1875-1955), yang berhasil menghentikan angkara murka leopard Panar maupun leopard Rudraprayag.

KOMENTAR SAYA: Di antara keluarga panthera, leopard adalah yang terkecil ukuran tubuhnya, namun tak kurang mematikan daripada para kerabatnya. Bahkan seorang pemburu profesional bernama John Taylor (1904–1969) pernah menyatakan bahwa jika ukuran seekor leopard menyamai ukuran singa, itu akan membuatnya sepuluh kali lebih berbahaya. Kenneth Anderson, penulis Man-Eaters and Jungle Killers dan pemburu profesional yang sukses menghentikan aksi beruang Maysore, menyatakan bahwa justru karena ukuran fisiknya itulah, leopard lebih menakutkan daripada harimau. Dengan postur seperti itu, leopard bisa mengintai dari tempat-tempat tersembunyi yang tidak muat untuk seekor harimau. Karakternya yang berani sekaligus licik, dipadukan dengan kemampuannya untuk menyelinap layaknya siluman, membuat leopard menjadi tak tertandingi.

Inilah mungkin, kenapa para harimau, sebuas apapun, jarang berani menyerang masuk ke pemukiman padat penduduk. Berbeda dengan leopard, yang dikenal suka nekad dan berani mengamuk memasuki perkampungan.

Di India secara khusus, leopard masih menyebar teror. Di tahun 2011 ini saja, yang saya tahu, telah terjadi dua kali serangan. Pertama, pada Januari 2011. Seekor leopard belusukan ke desa Malgadh, mengamuk dan melukai setidaknya 4 orang penduduk dan seorang polisi hutan, sebelum akhirnya ditangkap oleh tim dari Gir Fondation di Taman Indroda.

Lalu, pada 19 Juli 2011 yang lalu, giliran desa Prakash Nagar, 600 km. dari Kalkuta, mendapat ‘kunjungan kehormatan’. Seekor leopard berhasil melukai 6 penduduk, seorang polisi, dan 4 orang jagawana. Macan cantik ini akhirnya bisa ditangkap, dan beberapa waktu kemudian ia mati karena cedera oleh pisau dan pentungan.

Dengan kecantikan kulit dan keganasannya, leopard mungkin dapat menyatukan dua gelar sekaligus: The Beauty and The Beast!

(Bersambung ke Man-Eaters # 02, In Syâ' Allâh)

Rabu, 16 November 2011

9 Worst Man-Eaters #04 - THE GHOST AND THE DARKNESS

Amerika, Asia dan Eropa telah kita jelajahi. Saatnya sekarang kita berkunjung ke benua hitam Afrika, rumah dari banyak predator tangguh dan hebat.

Di daratan, tak diragukan lagi, bahwa predator teratas dan paling disegani adalah singa. Hampir semua binatang di Afrika, mulai dari yang berukuran kecil seperti warthog; yang sedang seperti antelop dan zebra; sampai yang besar semacam kerbau liar, kuda Nil, jerapah, bahkan gajah, adalah mangsa potensial bagi keluarga singa, dan tentu saja, tanpa mengecualikan manusia.

DR. Craig Packer, pakar biologi dari universitas Stanford dan ahli senior di Serengeti Lion Project, memperkirakan bahwa (minimal) 200 orang/tahun menjadi korban serangan binatang semacam singa, buaya, gajah, kuda Nil, dan ular. 70 dari jumlah tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab para singa. Menurutnya, antara tahun 1990-2004, singa telah menyerang 815 orang di Tanzania, 563 di antaranya tewas. Sebelumnya, pada tahun 1932, di kota Njombe, Tanzania, pernah terjadi serangan brutal sejumlah besar singa atas manusia dan menewaskan 1500 (bahkan ada yang menyebutkan 2000) orang!

Namun, secara individual, singa pemangsa manusia yang rekor jumlah korbannya paling spektakuler adalah dua bersaudara singa jantan yang menjadi hantu-hantu penyebar maut pada tahun 1889. (Belakangan diketahui bahwa keduanya adalah subspesies singa Tsavo [Panthera leo nubica]. Singa jantan Tsavo dikenal memiliki perbedaan yang cukup mencolok dibanding singa jantan lain pada umumnya, yaitu surai yang pendek dan jauh dari kata “gondrong”).

Inggris --sebagai negara penjajah saat itu—tengah memulai proyek pembangunan jembatan kereta api di atas sungai Tsavo, Kenya. Dan kedua singa tersebut ternyata ikut “ambil bagian” dalam proyek yang sama, namun dengan cara berbeda: menyerang dan membantai para pekerja!

Mulanya, kedua singa itu menyergap para pekerja dalam tenda-tenda mereka di malam hari, menyeret mereka ke hutan dan melahap mereka. Tapi dalam waktu singkat, keduanya semakin berani dan tidak lagi main sembunyi-sembunyi. Mereka langsung menyerang dan memangsa korbannya di sekitar tenda.

Keganasan, kelicikan, dan ukuran fisik para singa ini begitu luar biasa (dilaporkan bahwa masing-masing berukuran panjang 3 meter) sehingga banyak pribumi meyakini bahwa mereka bukanlah singa-singa biasa, tapi reinkarnasi dari raja-raja lokal kuno yang berusaha mengusir para penjajah (kepercayaan bahwa seorang raja yang mati akan dilahirkan kembali sebagai singa pernah sangat mengakar di kalangan pribumi Afrika Timur). Kedua singa pemakan manusia yang mendapat julukan “The Ghost” dan “The Darkness” ini membuat ratusan pekerja begitu takut sehingga mereka memutuskan lari keluar dari Tsavo. Pembangunan jalur kereta api itu pun macet, karena tak seorang pun rela hati menjadi korban berikutnya.

Akhirnya, Letnan Kolonel John Henry Patterson (1867-1947), pimpinan dan penanggung jawab proyek pembangunan jalur kereta api itu, memutuskan bahwa satu-satunya solusi untuk mengakhiri mimpi buruk ini adalah dengan membunuh kedua pemangsa manusia tersebut. Dan pada 9 Desember 1898, Patterson berhasil melukai salah satu dari kedua singa itu dengan sebutir peluru kaliber 303. Sang singa berhasil lolos, lalu malamnya ia kembali dan menguntit Patterson yang masih terus memburunya. Berkali-kali Patterson menembak singa itu, namun hasilnya baru diketahui setelah malam berganti siang. Singa itu ditemukan sudah tak bernyawa.

20 hari kemudian, dia berhadapan langsung dengan singa kedua. Patterson menghadiahinya lima tembakan, namun singa ini benar-benar tangguh. Ia bangkit kembali dan menyerang Patterson. Patterson nyaris menjadi salah satu daftar korban sang singa. Pria itu kembali memberondongnya. Sang singa akhirnya tumbang tak bernyawa dengan dua peluru bersarang di dadanya dan sebutir lagi menembus kepalanya.

Selama proses perburuannya, Patterson juga menemukan gua sarang kedua singa itu. Di dalamnya ia menemukan banyak potongan tubuh manusia, potongan pakaian dan berbagai perlengkapan. Hingga kini, gua itu tetap lestari. Dan meskipun banyak tulang manusia yang digali dan ditemukan, namun dipercaya, bahwa di balik tanah lembab dan relung-relung gua yang gelap, sisa-sisanya masih tetap ada.

Sampai sekarang, tak ada yang bisa memastikan jumlah korban keganasan “The Ghost” dan “The Darkness” ini. Patterson mengklaim bahwa kedua singa itu telah menewaskan 135 orang. Beberapa ahli menyatakan, bahwa yang dimakan ‘hanya’ sekitar 35 korban. Penelitian terbaru, yang dilakukan oleh Tom Gnoske dan Julian Kerbis Peterhansa pada 2001 dan dipublikasikan dalam The Journal of the East African Natural History Society, mengindikasikan bahwa sangat mungkin korban tewas melampaui angka 100. Walau bagaimanapun, antara “membunuh saja” dengan “membunuh dan memakan” tentu berbeda. Pernyataan bahwa korban yang dimakan adalah 35 tidak berarti bahwa kedua singa Tsavo ini tidak membunuh lebih banyak orang yang lain.

Pada 1924, setelah lebih 25 tahun menjadi karpet penghias lantai Patterson, kulit kedua singa ini dijual ke Museum Chicago. Dengan taxidermis (seni mengawetkan binatang), kedua singa itu direkonstruksi dan sampai sekarang masih terpajang di museum tersebut. Konon, dalam rangka mengembalikan “Sang Hantu dan Sang Kegelapan” ke Tsavo, Pemerintah Kenya berminat membangun sebuah museum yang didedikasikan untuk singa-singa ini. Tapi, Stephen Hopkins, seorang sutradara kelahiran Jamaika, lebih dulu ‘menghidupkan’ singa-singa ini pada 1996 lewat film berjudul “The Ghost and the Darkness” dan melibatkan aktor watak kawakan Michael Douglas dan Val Kilmer.

KOMENTAR SAYA: Singa, bersama harimau, jaguar dan leopard, adalah keluarga kucing paling besar yang termasuk dalam jenis panthera. Namun singa memiliki ‘gaya hidup’ yang unik dan berbeda dari ketiga saudaranya. Jika ‘kucing’ lain pada umumnya ‘makan, makan sendiri; tidur pun aku sendiri’, maka singa lebih menyukai hidup dalam sebuah ‘organisasi sosial’; sebuah kelompok yang dikenal dengan istilah “pride”. Di setiap habitat singa seperti di Afrika dan sebagian Asia, lazim terdapat beberapa pride yang memiliki wilayah kekuasaannya masing-masing dan dijaga secara ketat. Memasuki wilayah kekuasaan pride lain dapat memicu timbulnya perang terbuka.

Dalam sebuah pride, singa jantan dewasa bertugas sebagai raja, pelindung pride dan tukang bikin anak, sementara tugas berburu dan memberi makan anggota pride sepenuhnya menjadi tanggung jawab para betina (walaupun beberapa singa jantan muda –bahkan sang ketua juga- sesekali ikut berpartisipasi aktif dalam perburuan, terutama jika sasarannya berukuran besar).

Satu pride umumnya beranggotakan belasan bahkan sampai puluhan anggota yang terdiri dari singa-singa betina, anak-anak mereka, dan seekor jantan dewasa sebagai ‘kepala keluarga’ (pernah diketahui sebuah pride yang beranggotakan 30 ekor singa). Tak jarang pula, satu pride dikepalai 2 singa jantan atau lebih (diistilahkan dengan “koalisi”) yang masih memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat. Namun ‘koalisi’ ini biasanya tak akan bertahan lama. Saat seekor pejantan mencapai kematangan seksual, ia akan menjadi dominan dalam rangka menyingkirkan pejantan yang lain.

Menurut tradisi singa, jika dalam sebuah pride terdapat satu atau beberapa anak jantan yang beranjak dewasa, maka mereka ‘diharuskan’ keluar dari pride itu untuk membentuk pride-nya sendiri. Biasanya, singa-singa jantan yang ‘terusir’ ini akan berkelana selama beberapa waktu, sambil mempersiapkan ‘fisik dan mental’ mereka, sampai mereka siap untuk menantang dan bertarung habis-habisan dengan singa jantan lain untuk merebut pride-nya. (Inilah versi harfiah dari Pride Fighting Championship, he… he… he…)

Pada masa-masa sebelum dan sesudah perang perebutan pride inilah, akan dijumpai singa-singa jantan dewasa yang tak berada dalam sebuah pride, baik singa pengelana yang akan merebut kekuasaan atau singa pecundang yang tergusur dari tahtanya. Pada periode ini, mereka tertuntut untuk bisa berburu dan mencari makan sendiri. Di lain pihak, fisik yang besar dan berat, serta (kebanyakan memiliki) surai yang lebat, menjadi hambatan bagi singa-singa jantan ini untuk gesit berburu dengan metode reguler: “kejar dan tangkap”. Belum lagi seekor singa jantan yang turun tahta juga terkendala kondisi fisik karena faktor usia atau cedera serius. Maka, pada saat-saat seperi ini, singa jantan akan menjadi semakin agresif , buas, dan cenderung oportunis. Untuk mengisi perutnya, tanpa ‘malu-malu’ mereka akan merampas hasil buruan predator lain, mengkonsumsi bangkai, atau menyerang bayi-bayi binatang dan mangsa lain yang mudah ditangkap. Dan celakanya, di mata mereka, manusia termasuk ‘mangsa yang mudah dan relatif tanpa perlawanan berarti’.

Nah, sangat mungkin, insiden Tsavo di atas terjadi dalam suasana pra-pasca ‘pemindahan kekoeasaan dan lain-lain’ tersebut.

(Bersambung ke Man-Eaters #03, In Syâ' Allâh)

Selasa, 15 November 2011

9 Worst Man-Eaters #05 - SI BUAS DARI GÉVAUDAN

Dari sekian banyak pemangsa manusia tersadis dalam catatan sejarah, barangkali La Bête du Gévaudan (The Beast of Gévaudan – Si Buas Dari Gévaudan) inilah yang paling misterius; tak teridentifikasi dengan jelas spesiesnya.

Pada kurun masa 1764-1767, Propinsi Gévaudan, Prancis, tercekam dalam terror serangan makhluk buas, yang lebih suka menyerang manusia dan bahkan mengabaikan mangsa lain semacam binatang ternak maupun hewan domestik lainnya. Binatang ini menyerang 200 orang lebih. Dari 113 korban tewas, 98 diantaranya dimakan.

Mereka yang beruntung masih hidup setelah bertemu dengannya, memiki perspektif berbeda dalam mendeskripsikan si buas ini. Ada yang dengan ringkas menyebutnya sebagai “iblis”. Ada pula yang menganggapnya sebagai “Loup Garou“ (werewolf – manusia serigala). Beberapa, dengan sedikit lebih detail, menggambarkannya sebagai binatang serupa serigala berukuran besar, berwarna merah dan menebarkan aroma tak sedap.

Selain buas, pembunuh ini juga cerdik. Berkali-kali dia lolos dari sergapan para pemburu bahkan sepasukan tentara yang dikerahkan untuk membasminya. Namun, sepandai-pandai tupai, eh… salah; sepandai-pandai si buas ini menghindar, akhirnya ia jatuh juga. Pada 1767, seorang pemburu bernama Jean Chastel (1708 -1790) berhasil menamatkan riwayatnya, konon, dengan menggunakan peluru perak. Setelah membuka perut makhluk itu, Chastel menemukan sisa-sisa tubuh manusia korban terakhirnya.

Walaupun semua laporan mengarah pada serigala, namun tak satupun yang sesuai dengan ciri-ciri serigala Eropa yang umum dikenal pada masa itu. Banyak ahli percaya bahwa si buas ini sangat mungkin adalah hyena yang barangkali terlepas dari Menagerie (sejenis tempat penangkaran binatang yang populer di Prancis pada abad ke-17, dan merupakan salah satu cikal bakal dari apa yang kita kenal sebagai “Kebun Binatang”). Menurut mereka, deskripsi “lebih besar dari serigala, berwarna merah dan berbau tidak sedap” lebih cocok dialamatkan pada hyena, sejenis anjing liar yang banyak hidup di dataran Afrika dan sebagian wilayah Asia.

Namun demikian, tetap saja belum ada yang bisa memastikan, binatang apa sebenarnya si Buas ini. Memang, kisah dramatis tentang perburuannya pernah difilmkan oleh Christiophe Gans lewat “Brotherhood of The Wolf” (2001) dengan Mark Dacascos sebagai salah satu pemeran. Namun, disamping tidak tampil sebagai ‘binatang’ film utama (tak seperti hiu dalam JAWS, misalnya), si buas ini juga tak jelas bentuknya; serigala bukan, hyena-pun tidak. Tapi, jika hanya sebagai tambahan bahan bagi kita untuk membayangkan kebuasannya, film garapan sutradara asal Perancis ini cukup lumayan. (eh, kok jadi review film ya? Hiks…)

KOMENTAR SAYA: Asumsi para ahli bahwa si Buas dari Gévaudan adalah hyena (dubuk) rasanya lebih logis. Apalagi dengan adanya catatan sejarah bahwa hyena --terutama spesies hyena tutul (Crocuta crocuta) dan hyena belang (Hyaena hyaena)-- juga dikenal sebagai pemangsa manusia yang potensial. Sekedar illustrasi, pada kurun 1956-1961, serangan hyena di Republik Malawi, tepatnya di sepanjang dataran Phalombe sampai ke Pegunungan Michesi, telah menewaskan 24 orang. Dan pada 1962, sepasang hyena yang masing-masing berbobot 77 kg. dan 72 kg. bertanggung jawab atas tewasnya 27 orang di Mlanje, Malawi.

Walaupun hyena sering dianggap sebagai ‘pemulung pengecut’ di antara sesama predator di Afrika (karena kesukaannya memunguti bangkai, mencuri, bahkan -dengan mengandalkan ‘keroyokan’- merampas hasil buruan pemangsa lain), namun ia sebenarnya adalah salah satu predator kuat. Dengan modal rahang berkekuatan 800-1000 psi., hyena (khususnya hyena tutul) menjadi predator darat dengan rahang penghancur tulang terkuat, yang membuatnya dikenal sebagai musuh bebuyutan dari predator darat paling berkuasa di Afrika, singa.

Selain itu, di antara sesama ‘preman pasar daging’ di Afrika, hyena barangkali adalah predator paling ‘tidak berperasaan’. Setelah berhasil menjatuhkan mangsanya, singa dan predator sejenisnya lebih dulu akan mengincar dan menerkam bagian leher atau tenggorokan si mangsa lalu menggigit kuat-kuat bagian itu untuk memutus jalur pernafasan. Setelah si mangsa benar-benar mati, barulah mereka memakannya. Sedangkan hyena tak mau direpotkan dengan prosedur berbelit seperti itu. Saat menyerang, ia akan menancapkan taringnya di bagian manapun tubuh korbannya, lalu merengkah bagian itu, mencabiknya, dan memakannya, saat si korban masih hidup. Pendeknya, jika kelompok macan berpedoman pada panduan: “bunuh dulu, baru makan”, maka hyena merasa cukup dengan: “makan dulu, Bro. Mau mati mau ga terserah!”

Adapun pemicu timbulnya serangan si buas ini, dengan asumsi bahwa itu memang hyena yang terlepas dari menagerie, sangat mungkin adalah karena ia salah masuk alam. Ia tiba-tiba berada di sebuah dunia yang begitu asing dan dikelilingi pula oleh makhluk asing. Mulanya ia mungkin hanya panik. Paniknya seekor binatang tentu tidak disalurkan dalam bentuk teriakan-teriakan histeris, tapi lari menghindar atau malah menyerang manusia yang –menurutnya—mengancam keselamatannya. Dalam hal ini, nampaknya naluri sang hyena sebagai predator memberinya informasi, bahwa makhluk-makhluk asing dihadapannya tidak saja bisa ia kalahkan, namun juga bisa menjadi menu makan malamnya.

(Bersambung ke Man-Eaters #04, In Syâ' Allâh)

Sabtu, 12 November 2011

9 Worst Man-Eaters #06 - BERUANG BRUTAL DARI MYSORE

Salah satu jenis beruang hitam yang habitatnya hanya ada di India dan Srilanka adalah beruang sloth (beruang ‘pemalas’ - Ursus ursinus). Tak seperti namanya, beruang ini tercatat sebagai salah satu beruang paling agresif dan dilaporkan banyak menyerang manusia di India, rata-rata satu kali serangan per minggu, dan menyebabkan banyak korban tewas maupun luka-luka. Meski demikian, para beruang ini amat jarang memakan daging menusia, dan lebih memilih mengkonsumsi buah-buahan, madu dan rayap. Namun, pada kurun 1950-an, di Mysore, sebuah kota dalam wilayah Negara Bagian Karnataka, India, seekor beruang sloth mendadak menjadi terkenal sebagai spesialis pemangsa manusia.

Ada banyak versi tentang asal-usul beruang pembunuh Maysore ini. Beberapa lebih menyerupai dongeng dengan kisah roman a la film King Kong (1933). Dikisahkan, bahwa seekor beruang sloth jantan menculik seorang gadis desa untuk ia jadikan pasangannya (alamaaaaaaak!). Gadis itu berhasil diselamatkan penduduk. Si Beruang menjadi murka. Ia membantai sejumlah penduduk sebagai aksi balas dendam.

Versi lain, yang relatif ‘normal’, menyatakan bahwa beruang ini adalah betina yang mengamuk membunuhi orang-orang yang telah membunuh anaknya. Namun menurut para ahli, beruang ini barangkali terluka oleh ulah tangan manusia, lalu menjadi sangat agresif.

Apapun, yang jelas, aksi tunggal beruang Mysore ini bertanggung jawab atas insiden penyerangan yang menyebabkan 12 orang tewas (3 diantaranya dimakan) dan lebih dari 20 orang lainnya terluka parah (bahkan beberapa ada yang kehilangan anggota badan)!

Melalui tiga kali usaha perburuan, seorang penulis sekaligus pemburu ulung, Kenneth Anderson (1910–1974), berhasil menewaskan beruang ini, lalu menuliskan kisah berdarah itu dalam bukunya, Man-Eaters and Jungle Killers (1957), pada bab “The Black Bear of Mysore”.

KOMENTAR SAYA: Fisik beruang sloth, sebagaimana umumnya keluarga beruang hitam, tidaklah sebesar beruang kutub dan beruang cokelat. Dewasanya ‘hanya’ berukuran panjang 1,9 meter dan bobot sekitar 100 kg. Namun jika sedang marah, taring dan cakarnya bisa menjadi ancaman serius. Insiden di Mysore bisa menjadi peringatan nyata.

‘Balas dendam’ memang cukup bagus untuk menjelaskan latar-belakang terjadinya insiden tersebut (daripada menceritakan romantisme model binatang buas). Intinya, yang berperan penting adalah unsur ‘ketidak harmonisan antar tetangga’ dalam sebuah habitat yang relatif berdekatan.

Analisa lain yang bisa saya kemukakan adalah, dimungkinkan bahwa tingginya intensitas konflik manusia dengan beruang sloth (termasuk di Mysore) merupakan ekses dari tradisi kuno bernama “Tarian Beruang” (semacam topeng monyet di Indonesia) yang telah dikenal sejak abad ke-16. Di beberapa daerah di India, tradisi ini banyak diminati dan cukup menjanjikan secara ekonomis. Orang-orang mulai menangkapi beruang-beruang muda untuk dilatih sebagai ‘penari’. Barangkali, sekali lagi: barangkali, ada proses pelatihan yang semena-mena dan tanpa mengindahkan ‘perasaan’ beruang-beruang tersebut. Salah satu dari mereka lalu memutuskan untuk memberontak dan menunjukkan bahwa “beruang juga predator”.

Belakangan, tradisi yang oleh para pencinta binatang dan pejuang pelestarian alam dianggap kejam ini mulai dihilangkan. Beberapa gerakan perlindungan binatang semacam International Animal Rescue (IAR) dan Wildlife SOS (WSOS) Cabang India sejak 2006 gencar mengkampanyekan penghapusan tradisi tersebut. Mereka bekerjasama dengan pemerintah India untuk mempertegas pemberlakuan undang-undang larangan penangkapan dan jual-beli beruang sloth. Pada 2009 lalu, pejabat berwenang di India memastikan bahwa tak ada lagi beruang sloth yang masih aktif sebagai ‘penari jalanan’.

(Bersambung ke Man-Eaters # 05, In Syâ' Allâh)

Minggu, 06 November 2011

9 Worst Man-Eaters #07 - KESAGAKE: MONSTER JEPANG SEBENARNYA

Saat mendengar kata “monster” dan “Jepang”, barangkali dalam benak kita akan segera tergambar Gojira; monster fiktif yang menteror layar-layar bioskop di Jepang sejak 1950-an; atau puluhan monster lain yang biasa menjadi lawan para superhero Jepang semacam Megaloman dan Ultraman. Namun monster Jepang yang sebenarnya dan yang paling mematikan adalah seekor beruang cokelat (mengingat insiden ini terjadi di Jepang, maka kemungkina besar yang dimaksud adalah Beruang Cokelat Amur - Ursus arctos lasiotus). Ia menjadi momok paling menakutkan di Hokkaido pada kisaran Desember 1915.

Pada masa itu, desa Sankebetsu, yang merupakan salah satu desa dalam wilayah Hokkaido, Jepang, adalah sebuah desa yang luas namun dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. Hutan di sekitar desa itu adalah habitat bagi beruang cokelat, jenis beruang terbesar kedua setelah beruang kutub. Salah satu beruang tersebut, yang sangat dikenal oleh warga desa, adalah jantan berukuran besar yang mereka panggil dengan nama Kesagake. Kesagake acapkali turun gunung dan memasuki desa Sankebetsu untuk menjarah hasil panen jagung penduduk. Dianggap sebagai pengganggu, Kesagake pernah ditembak oleh 2 penduduk, membuatnya lari ke gunung dalam keadaan cedera. Penduduk desa mengira, mereka telah membuat beruang itu belajar takut pada manusia dan menjauh dari ladang. Tapi mereka salah!

Pada 9 Desember 1915, si Bola Bulu Cokelat Kesagake muncul lagi, dan mendobrak masuk ke sebuah rumah keluarga petani bernama Ota. Di rumah itu hanya ada Abe Mayu, isteri Ota, dan anak mereka yang masih bayi. Setelah membantai si bayi, Kesagake beralih menyerang si Ibu. Wanita itu mulanya melawan dengan melempari si beruang dengan obor, namun sia –sia belaka. Kesagake menyeretnya masuk hutan. Saat penduduk tiba di rumah itu, mereka hanya menemukan darah membasahi dinding dan lantai. 30 orang penduduk mengejar Kesagake ke hutan dan berhasil menyusulnya. Mereka juga berhasil menembak beruang itu, namun gagal membunuhnya. Pada akhirnya, terpandam dibalik timbunan salju di bawah sebatang cemara, mereka menemukan jenazah, tepatnya, sisa jenazah Abe Mayu, yang hanya berupa potongan kepala dan bagian kaki wanita malang itu (sebagaimana umumnya beruang menyimpan sisa buruannya untuk disantap lain waktu).
Nikmatnya daging manusia membuat Kesagake ketagihan. Dia kembali ‘berkunjung’ ke pertanian Ota. Penduduk yang telah bersiaga segera mengejarnya. Namun mereka terkecoh. Kesagake menyelinap kembali ke perkampungan yang kini tak terjaga itu. Ia menyerang rumah keluarga Miyake dan melukai semua penghuniya. Beberapa orang memang dapat menyelamatkan diri, namun, 2 orang anak kecil dan seorang wanita hamil terbunuh. Saat penduduk desa menyadari kesalahan mereka dan bergegas kembali ke desa, mereka hanya menemukan mayat-mayat bergelimpangan berkubang darah.

Hanya dalam 2 hari, Kesagake telah membantai enam orang!

Seorang pemburu terkenal spesialis beruang, Yamamoto Heikichi, didatangkan. Mulanya ia menolak, karena, menurutnya, beruang yang didentifikasi penduduk sebagai Kesagake telah terbunuh sebelum penyerangan di Sankebetsu. Namun penduduk bergeming. Si pemburu pun bersedia ikut serta memburu si beruang. Dan dialah yang akhirnya berhasil membunuh Kesagake. Dari bangkainya, diketahui bahwa beruang itu memang berukuran monster: panjang nyaris 3 meter dan berbobot 380 kg.! Dari perutnya, dikeluarkan sisa-sisa tubuh manusia.

Horror ini belum sepenuhnya berakhir. Seorang korban selamat akhirnya meninggal karena cedera yang terlalu parah. Para penduduk pun memilih meninggalkan desa Sankebetsu dan menjadikan desa itu sebagai kota hantu. Bahkan sampai saat inipun, insiden Sankebetsu tetap tercatat sebagai serangan binatang buas paling brutal dalam sejarah Jepang. Dan novel berjudul “The Bear Wind” (1965) karya Yukio Togawa serta “The Bear Storm” (1977) karya Akira Yoshimura mengabadikan insiden tragis ini.

KOMENTAR SAYA: Secara fisik, beruang cokelat memang yang terbesar di antara para beruang; kedua di bawah beruang kutub (Ursus maritimus). Hampir semua jenis beruang adalah omnivora (kecuali beruang kutub yang diyakini merupakan karnivora tulen). Beberapa jenis beruang (khususnya yang berukuran kecil) malah lebih memilih buah-buahan dan tumbuhan untuk dikonsumsi walaupun tentu mereka tak menolak disuguhi daging. Sedangkan beruang-beruang yang berukuran lebih besar lebih dikenal sebagai pemburu. Beruang kutub terkenal dengan kesukaannya memangsa anjing laut, sementara beruang cokelat (termasuk beruang grizzly) menyukai ikan salmon, rusa dan babi hutan.



Berdekatannya habitat beruang dengan hunian manusia biasanya menjadi pemicu munculnya kasus serangan beruang atas manusia. Di beberapa daerah di Amerika Utara, beruang-beruang yang berkeliaran di jalan-jalan raya dan halaman rumah merupakan pemandangan yang biasa. Para beruang ini suka sekali mengaduk-ngaduk tong sampah. Namun di tempat itu malah amat jarang terjadi serangan fatal; manusia dan beruang di sana sudah bisa menerima kehadiran masing-masing dan cukup ada rasa saling hormat di antara mereka. Kalupun ada yang merasa terganggu, penduduk tinggal menghubungi sebuah unit khusus penanganan binatang liar. Merekalah akan menangani ‘pengunjung’ yang tak dikehendaki itu dengan baik tanpa harus ‘menyinggung perasaan’nya.

Nah, kasus di Sankebetsu bisa dijadikan illustrasi dari resiko hilangnya rasa saling menghormati itu.

Selain itu, nampaknya peristiwa itu terjadi pada musim dingin. Walaupun beruang cokelat bukanlah jenis beruang yang berhibernasi (tidur panjang) secara penuh di musim dingin, namun di musim ini mereka lebih membatasi aktifitas dan memilih menyembunyikan diri di tempat-tempat terlindung semacam gua, ceruk gunung dan semacamnya. Kecuali saat benar-benar lapar, barulah beruang-beruang ini bergentayangan. Dan Kesagake barangkali adalah salah satunya.

Dari situ kita bisa belajar, bahwa melukai seekor beruang yang kelaparan bukanlah tindakan bijaksana.

(Bersambung ke Man-Eaters # 06, In Syâ' Allâh)

Jumat, 28 Oktober 2011

9 Worst Man-Eaters #08 - “JAWS” DI NEW JERSEY

Saat kepergok seekor pemangsa di darat, barangkali kita masih bisa menyelamatkan diri dengan lari atau memanjat pohon. Namun saat kita berenang di laut atau sungai, dan menjadi incaran predator penguasa air, saat itulah situasi ‘skak-mat’ yang sebenarnya! ‘Kesuksesan’ banyak predator air dalam memangsa manusia, adalah karena manusia menjadi amat terbatas geraknya di alam yang bukan alamnya.

Salah satu predator air paling menakutkan adalah hiu. Dan di laut, merekalah ‘raja rimbanya’.

Sesungguhnya, menjelang abad XX, jenis-jenis hiu belum banyak dikenal. Beberapa ilmuwan malah mengklaim bahwa hiu sama sekali tidak berbahaya. Namun, pada bulan Juli, 1916, lewat serangan hiu beruntun di sepanjang pantai New Jersey, para predator puncak di lautan ini ‘unjuk gigi’ (dalam arti harfiah) dan menunjukkan bahwa mereka pantas dihormati dan diakui sebagai penguasa 71 persen wilayah permukaan bumi. Kasus ini adalah salah satu dari sedikit kasus serangan hiu yang mendefinisikan arti kata sebenarnya dari “hiu pemangsa manusia”.

Korban pertama adalah seorang pemuda bernama Charles Vansant yang tengah berenang bersama anjingnya. Dia diserang seeokor hiu yang belum diketahui jenisnya. Penjaga pantai bergegas berusaha menyelamatkannya, namun terlambat. Vansant tewas kehabisan darah sebelum ia sempat dibawa ke rumah sakit. Segumpal daging tercabik hilang dari salah satu kakinya.
Selang 5 hari kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli, seseorang melaporkan melihat sebuah ‘(perahu)kano merah’ terbalik di tengah laut. Saat ditelusuri, baru diketahui, bahwa apa yang disebut ‘kano merah’ itu ternyata adalah genangan darah seorang pria yang baru saja diserang seekor hiu. Mereka berusaha menyelamatkan dan membawa pria malang bernama Charles Bruder itu ke pantai. Namun lagi-lagi terlambat. Bruder meninggal dengan tubuh terkoyak. (Sampai di sini saya ga bisa memastikan, apakah hanya kebetulan ataukah sang hiu memang punya ‘urusan pribadi’ dengan siapapun yang bernama depan “Charles”?!)

Celakanya, walaupun selama beberapa hari, beberapa hiu terlihat berseliweran di seputar area serangan itu, para ilmuwan masih saja nekad menyatakan bahwa yang bertanggung jawab bukanlah hiu, tapi bisa jadi paus pembunuh (orca) atau penyu (what??? Penyu??? Pliiiiiiiiiiiiiiis dwech! *keplok2 jidat*). Tak heran jika kemudian mereka mengabaikan laporan bahwa terlihat seekor hiu di sebuah sungai dekat kota Matawan (termasuk wilayah Monmouth County, New Jersey). Ah, hiu apa pula yang kelayapan sampai ke air tawar?! Tapi, pada 12 Juli, 6 hari setelah peristiwa penyerangan pada Charles Bruder, si predator bertubuh torpedo ini kembali beraksi. Lester Stillwell, seorang anak berusia 11 tahun, yang tengah berenang di sungai itu diserang dan diseret ke dalam air. Warga kota bergegas menuju te-ka-pe, dan seorang pria, Stanley Fisher, nekad terjun ke air untuk menyelamatkan sisa tubuh si anak. Namun ia pun menerima serangan secara brutal, dan akhirnya tewas karena luka-lukanya yang parah! Dan tak sampai 30 menit kemudian, seorang pemuda juga diserang. Jiwanya memang bisa diselamatkan, namun dengan banyak luka koyak di sekujur tubuhnya.2 hari kemudian, seekor hiu betina muda jenis hiu putih besar (Great White Shark) tertangkap di Teluk Raritan, dekat Matawan. Dalam perutnya ditemukan sisa-sisa tubuh manusia. Namun tidak diyakini sepenuhnya, bahwa keseluruhan serangan di New Jersey adalah ulah si betina ini. Serangan di daerah pantai boleh jadi memang kerjaan hiu putih yang tertangkap itu. Namun serangan di sungai, dipercaya, adalah ulah hiu banteng (Bull Shark) yang memang punya keistimewaan bisa hidup di air laut dan air tawar serta mampu berburu di dua ekosistem yang berbeda itu.

Walaupun demikian, sejak insiden New Jersey inilah, hiu putih yang memang berpenampilan paling monster ‘resmi’ menyandang reputasi hitam sebagai “hiu pemakan manusia”. Dan insiden ini pula yang konon menginspirasi lahirnya novel legendaris karya Peter Benchley, “Jaws”, dan sukses diadaptasi ke layar lebar oleh sineas kondang, Steven Spielberg.

KOMENTAR SAYA: Tercipta berbekal satu set gigi tajam dan insting untuk menggunakannya ‘dengan benar’, ditambah kenyataan bahwa mangsanya cukup banyak sedangkan musuh alaminya relatif terbatas, menobatkan para hiu sebagai the most perfect killing machine!

Dari 350 lebih jenis hiu, hampir semuanya merupakan para penyerang agresif yang –tentu saja- berpotensi untuk menyerang dan melukai manusia. Apalagi banyak bukti yang menunjukkan bahwa serangan seekor hiu tak dimotivasi oleh rasa lapar semata. Menurut investigasi Arsip Serangan Hiu Internasional (International Shark Attack File - ISAF) rilisan 19 Januari 2011, dari seluruh dugaan serangan hiu atas manusia sampai tahun 2010, 30.85% adalah serangan akibat hiu-hiu tersebut terprovokasi; 14.69% tak tercatat secara detil; dan 31.62% murni merupakan serangan ‘iseng’. Diketahui juga, bahwa rata-rata terjadi 3-4 kali serangan pertahun. Subhâna-Llâh! Sebuah angka yang fantastis mengingat mereka tidak ‘tinggal serumah’ dengan kita.

Selain sisi agresifitasnya yang tinggi, para hiu juga memiliki beberapa keunggulan yang mempertegas posisi mereka sebagai pemangsa laut paling menakutkan. Antara lain, pertama, hiu adalah predator yang punya rasa penasaran cukup tinggi. Jika ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ di hadapannya, ia akan memeriksa benda itu –celakanya, bukan dengan cara mengendus seperti kucing atau binatang lain, tapi—dengan cara menggigit; seolah ingin meyakinkan diri apakah benda itu bisa ia makan atau tidak. Beberapa kasus gigitan pada manusia diawali dengan acara ‘pemeriksaan’ ini. Dengan kata lain, jika ia penasaran pada salah satu bagian tubuh seseorang, semisal kaki, ia akan menggigitnya. Logikanya, si pemilik kaki tentu akan kaget lalu bergegas menghindar, biasanya dengan panik. Gerakan-gerakan ribut inilah yang justru memancing hiu untuk mengejar guna menuntaskan rasa penasarannya. Jika sampai ada darah, maka jangan salahkan kalau hiu tersebut berubah niat, dari ‘ingin tahu’ menjadi ‘ingin makan’!

Kedua, hiu dikenal sebagai salah satu binatamg yang paling tak kenal takut. Saat berada dalam posisi terancam, banyak penelitian menunjukkan, seekor hiu lebih memilih menyongsong bahaya daripada menghindar (tentu sambil berharap, siapa tahu bahaya itu ternyata makanan yang nikmat).

Ketiga, jangan lupakan: mulutnya! Mulut hiu memang dirancang sepenuhnya mematikan. Di situ terdapat rahang yang kekuatan tekanannya mencapai 2000-4000 psi. (pounds per square inch). Di atas rahang yang kekuatannya mampu menghancurkan cangkang penyu ini, terdapat barisan gigi berkelas razor-sharp teeth. Bahkan, beberapa hiu memiliki barisan gigi tajam yang kedua sisinya bergerigi seperti gergaji (selain hiu, binatang yang memiliki gigi bergerigi –sepanjang yang saya tahu- hanyalah komodo, itupun hanya di bagian sisi belakang saja). Dengan mulut yang seolah gudang penyimpanan berbagai jenis senjata tajam itu, seekor hiu bisa melakukan apa saja pada mangsanya, seperti menusuk, mencabik, menyayat, mengoyak, memotong dan merengkah; kecuali mengunyah.
Tidak itu saja. Gigi yang Anda lihat di barisan depan belum separuh dari keseluruhan koleksi gigi hiu. Di balik barisan terdepan terdapat paling tidak 4-7 baris gigi lagi. Barisan gigi di belakang ini akan maju dan menggantikan gigi di depannya yang tanggal (Mirip dalam sholat berjamaah; manakala seorang makmum batal lalu keluar dari shaff-nya, maka makmum di belakangnya –dengan syarat tertentu- maju untuk mengisi bagian shaff yang lowong, begitu kira-kira. Inilah barangkali mengapa tidak pernah terdengar ada pepatah “seperti hiu ompong”, hihihi…)

Walau demikian, jenis hiu yang serangannya benar-benar berpotensi mematikan barangkali ‘hanya’ ada beberapa, yaitu hiu putih besar (Carcharodon carcharias), hiu harimau (Galeocerdo cuvier), hiu kepala martil sub-spesies great hammerhead (Sphyrna mokarran), hiu harimau pasir (Carcharias taurus), hiu banteng (Carcharhinus leucas), hiu biru (Prionace glauca), hiu mako bersirip panjang (Isurus paucus), hiu mako bersirip pendek (Isurus oxyrinchus), hiu oceanic whitetip (Carcharhinus longimanus), dan hiu lemon (Negaprion brevirostris).

Yang terbesar adalah hiu putih (dewasanya rata-rata berukuran panjang 6 - 6,5 meter, bahkan ada yang mencapai 7 meter), disusul hiu macan dan great hammerhead (masing-masing tercatat bisa mencapai panjang lebih dari 6 meter). Sisanya berkisar antara 2 – 4 meter lebih. Di antara mereka, hiu putih adalah monster yang paling mematikan. Tercatat, hingga saat ini, dari 138 kematian akibat serangan hiu, hiu putih menempati ranking pertama dengan korban tewas 65 orang. Ranking kedua adalah hiu harimau (27 orang), dan ranking ketiga diduduki hiu banteng (25 orang). Walaupun ukuran tubuhnya tidak terlalu ‘wah’ (rata-rata ‘hanya’ 3,5 – 4 meter), hiu banteng adalah yang paling agresif dibanding hiu lain. Dan didukung kemampuannya beradaptasi dengan baik di perairan tawar, maka wilayah perburuannya pun menjadi semakin luas. Tak heran, jika dalam hal rekor jumlah manusia yang ia bunuh, hiu gemuk ini nyaris menyaingi (dan bukan tidak mungkin suatu saat mengungguli) kedua ‘kakak’nya.(Bersambung ke Man-Eaters # 07, In Syâ' Allâh)

Selasa, 25 Oktober 2011

9 Worst Man-Eaters #09 - TOM: TEROR BERJARI DUA

Muqaddimah:

Setiap binatang buas tentu saja berpotensi mematikan pada manusia. Namun secara individual, belum ada yang kebrutalannya menyamai para pemangsa (predator) sadis yang akan saya perkenalkan lewat catatan ini; yang aksinya telah menaikkan level mereka ke jenjang pemakan manusia (man-eaters) paling mengerikan dalam sejarah dan dengan jumlah korban tewas yang cukup fantastis (saya sebutkan secara countdown dengan mempertimbangkan jumlah manusia yang menjadi korban mereka.). Mereka ini adalah tipe predator yang telah memaksimalkan killing-insting mereka dan beberapa di antaranya membantai manusia dengan ‘senang hati’!.

Let's open up the gate, and the countdown to extinction is coming!

***

#09 - TOM: TEROR BERJARI DUA

Ini adalah sebuah kisah lama, dan berkembang semakin menuju ke arah mitos dan legenda, tentang pertempuran abadi para penduduk sekitar rawa-rawa Alabama dengan raksasa yang menurut mereka “Iblis Bermata Merah”.

Selama kurun 1920-an, rawa-rawa di sepanjang pinggiran Alabama sampai Florida telah terbenam dalam teror monster berujud seekor aligator Amerika jantan (biasa disebut bull-gator) bermata merah dan berukuran panjang mencapai 4,5 meter. Selain itu, yang juga istimewa dari fisik aligator ini adalah, ia dilaporkan nyaris kehilangan seluruh jemari kakinya, kecuali 2 jari kaki depan bagian kiri. Ini diketahui dari jejak-jejak yang tercetak di permukaan lumpur dan pasir setiap kali ia naik ke darat. Konon, ia kehilangan jemarinya dalam sebuah perangkap besi yang dipasang orang untuk menangkapnya. Kondisi inilah yang membuat aligator tersebut juga mendapat nama ‘akrab’ “Two Toed Tom (Tom Si Dua Jari)”.

Warga setempat mengklaim, bahwa gator ini bukan gator biasa, tapi “demon sent from hell to terrorize them“. Dengan ‘santai’, reptil berperisai ini menunjukkan bahwa bukan hanya ciri fisik yang membuatnya pantas disebut monster, tapi juga kelakuannya: mengabaikan mangsa alaminya dan beralih memburu makhluk-makhluk yang sering ia lihat berada di pinggir sungai dan mudah ditangkap. Ia mulai membantai binatang ternak semacam sapi dan keledai, serta mulai pula menyerang manusia (terutama dari kalangan wanita, yang pada masa itu sering mencuci pakaian mereka di pinggir rawa)!

Frekwensi serangannya yang cukup tinggi membuat banyak orang berusaha memburu dan membunuhnya, tapi selalu gagal. Bahkan dikisahkan, seorang petani setempat bernama Pap Haines begitu mendendam pada Tom karena telah membunuh keledai kesayangannya. Haines menyatakan perang dengan Tom. Dan selama 20 tahun berikutnya, pria ini pun mengupayakan berbagai cara untuk menangkap si Tom ini, hidup atau mati, namun tak juga kunjung berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan cara ekstrim; menghujani area rawa yang diperkirakan menjadi tempat alligator itu berkubang dengan 15 timba penuh dinamit!

Ledakan bertubi-tubi itu –mungkin- berhasil membunuh semua penghuni area, kecuali Tom!

Kenyataan ini terbukti tak lama setelah Haines bersama 8 orang tetangga yang membantunya mengakhiri pengeboman. Mereka mendengar suara keras cipratan air dari bagian lain area yang mereka ledakkan. Yang membuat mereka merinding, cipratan itu diselingi jeritan ngeri seorang wanita. Mereka bergegas menuju sumber jeritan itu, dan sempat melihat kilatan mata merah yang sangat mereka kenal sebelum pemiliknya menghilang ke bawah permukaan air. Awalnya tak diketahui, siapa yang menjadi korban salah satu rahang paling mematikan itu, sampai beberapa waktu kemudian, di pinggiran rawa itu, mengambang sisa tubuh seorang anak gadis berusia 12 tahun yang ternyata adalah cucu Haines!

Sesungguhnyalah, kisah di atas dan kisah-kisah lain yang sejenis dengannya tentang sepak terjang si Tom, hingga saat ini, sulit dibedakan, mana yang benar-benar fakta dan mana yang sekedar dongeng. Namun semuanya mengindikasikan, bahwa Tom Si Dua Jari adalah nyata dan menguasai rawa-rawa itu selama bertahun-tahun.

Sampai pada kurun 1980-an, masih ada laporan, bahwa sesekali terlihat seekor aligator besar berjemur di sekitar rawa itu, yang diidentifikasi sebagai Tom dengan melihat jejak ‘dua jari’-nya yang terkenal.

KOMENTAR SAYA: Aligator adalah salah satu keluarga reptil tertua yang masih bertahan hidup di planet kita. Secara fisik, kakak sepupu kadal ini sering dikonotasikan dengan buaya (tidak heran jika terkadang ‘guru’ Bahasa Inggris kita, Pak Gugel, menterjemah kata “alligator” dengan “buaya”, hi… hi… hi…). Ada satu hal yang paling jelas untuk membedakan mereka, yakni bentuk moncong aligator yang lebih lebar dan lebih pendek daripada moncong buaya. Selain itu, tubuh aligator juga relatif lebih bulat. Namun –dengan barisan 70-an gigi tajam tak beraturan di rahangnya—aligator amat tidak pantas disebut “imut”.

Saat ini, hanya ada dua jenis aligator, yaitu aligator Amerika (Alligator mississippiensis) dan aligator China (Alligator sinensis). Aligator China berukuran lebih kecil. Dewasanya tercatat hanya sepanjang sekitar 3 meter. Sedangkan aligator Amerika dewasa bisa mencapai ukuran 4 - 4,5 meter. Namun, jika seekor aligator dapat mencapai usia maksimalnya, ukurannya bisa terus tumbuh. Di Lousiana, pernah ada seekor aligator ‘sepuh’ yang mencapai panjang 5,48 m.Ia, sebagaimana keluarganya yang lain, yakni buaya, gavial, dan kaiman, adalah para predator puncak di habitat dan ekosistem masing-masing. Kalaupun di antara mereka ada (dan –sayangnya- memang ada!) yang ‘naik kelas’ menjadi pemangsa manusia, tentu ada hal-hal spesifik yang melatar-belakanginya.

Cacat fisik memang dapat menyebabkan seekor predator menyerang manusia. Tak mampu memburu mangsa alami, ia kemudian berusaha memenuhi kebutuhan makannya dengan mengincar apapun yang mudah diperoleh, seperti binatang ternak dan manusia. Namun bagi keluarga buaya, cacat fisik tidaklah terlalu berpengaruh. Bahkan lumrah dijumpai, seekor pejantan dominan memiliki banyak cacat fisik di tubuhnya. Akan tetapi, selama masih memiliki ekor dan moncong yang belum ompong, para buaya tetap sangat berbahaya! Apalagi dari tulisan di atas dapat dipahami, bahwa si Tom ini sudah jahat sebelum ia kehilangan jemarinya.

Dimungkinkan, habitatnya yang berdekatan dengan daerah hunian manusia yang membuat aligator ini menjadi legenda menakutkan. Dalam setiap perkampungan pinggir sungai, selalu ada manusia dan ternak yang beraktifitas di dekat air. Mulanya, mungkin, Tom berhasil menerkam seekor ternak yang banyak berkeliaran di situ. Sukses ini membuatnya ketagihan dan memutuskan untuk menjadikan daerah itu sebagai wilayah perburuannya. Akibatnya, makhluk apapun yang mendekati air, binatang atau manusia, akan menjadi mangsa potensial baginya.

Sebenarnya, dari segi jumlah korban (yang tercatat hanya 1 orang), tak ada yang istimewa dari insiden serangan Tom ini. Dengan populasi sekitar 5 juta ekor di seluruh daerah perairan Amerika, pertemuan aligator dengan manusia yang berujung pada sebuah serangan menjadi tak terlalu mengherankan. Dilaporkan, bahwa dari 275 kali serangan dalam kurun 60-an tahun terakhir, ‘hanya’ 38 yang mengakibatkan jatuh korban tewas (yang paling spektakuler barangkali insiden yang terjadi bulan Mei 2006; dalam waktu tidak sampai satu minggu, terjadi 3 kali serangan aligator dan menewaskan 3 warga Florida).

Barangkali, sisi dramatis-lah yang membuat kisah penyerangan Tom menjadi menarik untuk diceritakan berulang-ulang. Dengan deskripsi “aligator raksasa bermata merah dan berjari hanya dua”, lalu kombinasikan dengan bumbu “tak bisa dibunuh bahkan dengan dinamit sekalipun”, maka Anda akan mendapatkan tokoh monster legenda baru selevel King Kong dan Gojira . Saya membayangkan, pengakuan-pengakuan yang semacam “…tadi kami melihatnya; aligator itu memang raksasa!”, atau: “waktu saya bersama si anu dan si anu memancing, saya terpeleset lumpur, dan jatuh tepat di samping jejak kaki berjari dua …”, atau: “waktu menyelam, aku jelas melihat sepasang sinar merah di antara keruhnya air…” barangkali masih kerap terdengar dan ini jelas mengundang minat imajinasi pendengarnya untuk terus ‘menghidupkan’ Tom.

Lalu, apakah saat ini Tom memang masih hidup? Sampai sekarang, belum terdengar satupun kabar bahwa pemangsa berjari dua ini telah tertangkap atau paling tidak ditemukan bangkainya. Namun, dengan asumsi bahwa saat terakhir kali terlihat, dan berdasarkan ukuran rubuhnya, Tom merupakan aligator berusia lanjut, sementara usia normal seekor aligator berada pada kisaran 50-70 tahun (walaupun pernah ada laporan tentang seekor aligator yang mencapai usia 100 tahun lebih), maka, meski amat kecil kemungkinannya, jawabannya tetaplah “mungkin”!

(Bersambung, In Syâ' Allâh)