Tampilkan postingan dengan label man-eater croc. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label man-eater croc. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

9 Worst Man-Eaters #01 - GUSTAVE: MESIN PEMBUNUH MASA KINI

Welcome to the Final Countdown!

Sebuas-buasnya para predator dalam catatan-catatan sebelumnya, toh mereka (paling tidak, diyakini) telah tiada. Kebrutalan dan keganasan mereka saat ini hanya menjadi horor dalam memori manusia. Mereka tak lagi menjadi ancaman; ya, mereka semua… kecuali yang satu ini!

Kembali ke Afrika, tepatnya di Republik Burundi, sebuah negara yang dilanda konflik parah sepanjang pertengahan abad XX. Perbedaan politik warga suku Tutsi dan Hutu telah melahirkan kerusuhan dan perang saudara berkepanjangan di negara yang telah berusia 5 abad ini. Tanah memerah oleh darah yang tertumpah. Korban berjatuhan. Namun, seolah tak mau ketinggalan, ada spesies makhluk lain yang ikut meramaikan pesta kematian di Burundi. Dan sialnya, walaupun sejak Agustus 2008 lalu kondisi politik di Burundi berangsur pulih, sang makhluk nampaknya belum tertarik untuk mengakhiri apa yang telah dimulainya sejak 20 tahun terakhir ini; seekor buaya Nil jantan (Crocodylus niloticus) berukuran raksasa. Dengan panjang lebih dari 6 meter dan berbobot sekitar 1 ton, buaya yang dikenal dengan panggilan akrab "Gustave" ini sukses menebar teror di sepanjang sungai Rusizi sampai ke pantai Utara danau Tanganyika!

Ukuran buaya ini memang mengukuhkannya sebagai predator tunggal terbesar di seluruh Afrika (karena pada umumnya, saat ini, buaya Nil berukuran panjang maksimal sekitar 5 meter). Namun bukan ukuran fisik semata yang membuat buaya dari Burundi ini menjadi monster menakutkan, tapi juga reputasinya sebagai pemangsa manusia paling besar yang sampai sekarang masih hidup dan (sangat mungkin) masih aktif. Dilaporkan, bahwa hingga saat ini, buaya itu telah membunuh lebih dari 300 orang!

Menurut penduduk setempat, Gustave sudah menaikkan peringkatnya dari predator buas menjadi pembunuh kejam. Dikatakan bahwa ia membunuh “just for fun”, tidak lagi semata-mata untuk makan. Seringkali ia meninggalkan korbannya begitu saja tanpa dimakan. Setiap kali ia berhasil membunuh, ia akan menghilang seperti hantu sampai berbulan-bulan, lalu muncul di tempat-tempat yang berbeda dan kembali melakukan pembunuhan. Oleh karenanya sulit diperkirakan kapan dan dimana ia akan mengulangi aksinya.

Para pemburu dan bahkan sekelompok pasukan bersenjata pernah berusaha membunuhnya, tapi tak ada yang berhasil (setelah insiden Si Buas dari Gevauden dan Harimau Betina dari Champawat, ini mungkin kasus besar ke-tiga dalam sejarah saat tentara dianggap perlu untuk berurusan dengan binatang pemakan manusia). Mereka hanya mampu menambah ‘tanda pengenal’ pada buaya ini, sehingga ia mudah dibedakan dari buaya-buaya Nil yang lain; sekujur tubuhnya yang seolah berperisai itu dipenuhi cacat bekas luka akibat pisau, tombak bahkan senjata api. Sebuah noda hitam bekas peluru di atas kepala buaya itu menunjukkan bahwa ia pernah ditembak di bagian yang seharusnya mematikan dan menghentikan angkara-murkanya.

Seorang naturalis berkebangsaan Prancis bernama Patrice Faye, 58 tahun, bersama timnya, telah membuntuti dan melacak sang buaya pemakan manusia itu sejak tahun 1998 (konon, ia pulalah yang memberi nama "Gustave"). Mulanya, Faye, yang telah menetap selama 35 tahun di Burundi, memang ingin membunuh Gustave. Namun kini ia berusaha menangkap Gustave hidup-hidup. Jika usahanya berhasil, Faye ingin menempatkan Gustave di sebuah suaka perlindungan. Dia berharap dapat menyelamatkan manusia dari ancaman Gustave dan sekaligus menyelamatkan Gustave dari ancaman pembalasan manusia. Selain itu, barangkali Gustave bisa dikembang-biakkan dan merupakan bagian dari upaya konservasi buaya Nil secara lebih luas. Sebuah video dukumenter memperlihatkan wujud seekor buaya yang diduga kuat adalah Gustave (ukurannya memang fantastis, dan semakin terlihat nyata saat berdampingan dengan beberapa kuda nil dewasa). Video ini juga mengungkapkan usaha Faye dan timnya untuk menangkap Gustave.

Pada tahun 2002, Faye pernah mempersiapkan sebuah perangkap bawah air dari besi berukuran besar. Gustave memang muncul. Tetapi, dengan prediksi bahwa usianya waktu itu sudah 40 tahunan, Gustave barangkali cukup berpengalaman dan terlalu pintar untuk bisa dibodohi begitu saja. Ia bukanlah buaya-buaya culun dalam dongeng sebelum tidur, yang bisa ditipu mentah-mentah oleh seekor kancil. Gustave memang muncul, namun ia hanya berenang mengitari perangkap itu, lalu kembali menghilang.

Sayangnya, harapan untuk menemukan dan menangkap Gustave lewat Faye semakin menipis. Pada awal April 2011 yang lalu, Faye tersangkut kasus tindak pidana perkosaan. Ia dituduh memperkosa lima siswi sekolah yang ia dirikan untuk warga miskin. Faye diseret ke Pengadilan Negara Burundi di Ibukota Bujumbura. Walaupun menyangkal (bahkan pemeriksaan dokter menyatakan bahwa tiga gadis yang mengaku diperkosa ternyata masih perawan), sidang tetap memutuskan Faye bersalah dan memvonisnya dengan hukuman penjara selama 25 tahun serta denda sebesar €14,000,- ($20,000,-). Hingga kini, saya belum mendapatkan kabar, apakah para pembelanya berhasil membebaskan Faye dari tuduhan itu, ataukah ia malah meringkuk di balik terali besi.

Kembali ke urusan buaya tanpa tanda petik, sebuah tim independen dipimpin Michael McRae, seorang jurnalis veteran, dan Martin Best, seorang fotografer, pada tahun 2004 pernah melakukan pelacakan atas Gustave. Menurut laporan McRae, timnya bertemu dengan Faye. Faye memastikan, seminggu sebelumnya ia melihat Gustave di muara sungai Rusizi. Ia pun memimpin tim McRae menuju tempat itu, namun yang mereka dapatkan hanyalah kesia-siaan. Menurut McRae, mungkin rumor kematian Gustave itu benar. Misi dibatalkan dan tim itu memutuskan pulang dengan membawa catatan tak pasti.

Keberadaan Gustave nyaris menjadi mitos, sampai 3 tahun kemudian, Faye menelepon McRae dan memastikan bahwa: “Gustave masih hidup”. Menurutnya, Gustave kembali muncul di Rusizi. Beberapa wisatawan ‘beruntung’ sempat melihatnya. “Kondisinya cukup sehat, dan daftar korbannya bertambah”, kata Faye.

“Saya mengetahui gerak-geriknya selama tiga tahun terakhir ini,” Faye melanjutkan. “Saya memiliki banyak sumber –para nelayan, pilot yang terbang di atas danau- sehingga meskipun saya tidak mendapat informasi tiap hari, saya cukup tahu dimana keberadaanya”. Demikian laporan McRae yang dipublikasikan di majalah National Geographic Adventure (Februari, 2008).

Nampaknya Gustave masih menjadi mimpi buruk terbesar para penduduk setempat. Namun, seperti banyak pemangsa manusia lainnya, Gustave juga mengispirasi para pekerja film dan hiburan (bahkan “mimpi buruk”pun masih bisa menghasilkan uang, bukan?). Pada 2007 lalu, Hollywood Pictures merilis film horor berjudul “Primeval”, garapan sutradara Michael Katleman. Tagline film ini dengan gamblang mengakui bahwa “inspired by a true story” dengan sub-tagline berbunyi “he’s 20 feet long and has taken 300 lives. Now he’s about to resurface.”

Sementara itu, saat ini, di Taman Nasional Rusizi, Burundi, telah dibangun sebuah tempat yang secara khusus dipersiapkan untuk Gustave, sang pemangsa manusia terbesar abad ini!

KOMENTAR SAYA: Buaya, bersama aligator, gavial dan kaiman, adalah anggota keluarga Crocodylidae, kelompok reptil pemangsa terbesar yang masih bertahan di planet ini.

Sebagai reptil, sulit menentukan dengan pasti, buaya apa yang ukurannya paling masiv. Ini karena keluarga Crocodylidae (sebagaimana reptil yang lain) adalah spesies yang dikenal tidak menentu pertumbuhan fisiknya (erratic growth). Selama mereka hidup, maka ukuran fisik mereka akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Saat ini, yang diketahui sebagai buaya terbesar adalah buaya air asin (saltwater crocodile - Crocodylus porosus). Ukuran fisiknya bisa mencapai panjang 7 meter dan berat lebih dari 1 ton (walaupun laporan simpang siur pernah menyatakan bahwa panjang buaya air asin yang tertembak di Teluk Bengala pada 1840 mencapai 10 meter). Bersaing menempati posisi kedua adalah buaya Nil, aligator Amerika, dan gavial.

Sebagai pemangsa, tak disangsikan lagi bahwa buaya adalah ‘raja rimba’ di sungai. Hampir semua indera buaya berfungsi di atas rata-rata dan menunjang rancangan anatomi mereka sebagai pembunuh. Penglihatan mereka mampu melihat sama baiknya di bawah cahaya terang atau di kegelapan malam. Hidung mereka dapat mendeteksi bau mangsa dari jarak sekian kilometer. Dalam hal mendengar suara berfrekwensi rendah, pendengaran mereka masih lebih baik daripada indera pendengaran manusia. Bekal yang luar biasa ini sangat mendukung kerja senjata pembunuh mereka yang paling menakutkan: 70-an baris gigi tajam di atas rahang yang kekuatan cengkeramannya mencapai 2500-5000 psi. (ini berarti buaya mengungguli hiu putih sebagai juara rahang penghancur tulang terkuat di laut serta hyena tutul sebagai jawara di darat). Dengan anugerah perangkat pendukung rahang paling mematikan di bumi, layaklah jika para buaya menjadi predator kelas satu, para pemangsa efektif dan mesin pembunuh efisien.

Di samping itu, sebagai predator yang dikenal tidak memilih-milih makanan. Mereka mengkonsumsi apapun selama itu masih berupa daging, mulai dari ikan, unggas dan mamalia, bahkan yang sekelas (berat) gajah sekalipun. Dengan reputasi sebagai oportunis ulung seperti itu, hampir semua jenis buaya berpotensi sebagai pemakan manusia. Dan dalam hal ini, buaya Nil menempati posisi sebagai pemangsa manusia nomor 1 di dunia. Banyak laporan yang menyatakan bahwa buaya Nil membunuh sampai ratusan orang pertahun di Afrika.

Penyebabnya kurang lebih sama dengan kasus Tom: wilayah yang berdekatan dengan sumber air (dalam hal ini, sungai), dimanapun, selalu menarik untuk ditinggali baik oleh manusia ataupun oleh binatang. Saat manusia dan binatang berbagi habitat yang sama, maka problem yang kemudian biasanya adalah ‘perebutan’ untuk mendapatkan sumber makanan yang sama pula. Dan –tanpa bermaksud menghakimi—manusia, dengan segala perlengkapan dan peralatannya, terkadang berburu di darat dan di air secara berlebihan. Fauna sungai dan sekitarnya akan menipis, baik karena dibunuh atau karena ‘tidak betah’ lalu menyingkir. So, buaya-buaya yang selama ini mendiami daerah sungai yang pinggirannya sudah dipenuhi manusia, akan kesulitan menjumpai mangsa-mangsa alami mereka. Yang mereka lihat saat ini adalah spesies lain: manusia. Dan buaya sama sekali tidak keberatan dengan perubahan menu. Apalagi, spesies baru ini ternyata lebih menggoda karena tak segesit antelop serta zebra, dan tak menakutkan seperti kuda Nil, plus ketersediannya cukup menjanjikan. Maka, terjadilah apa yang telah terjadi.

Lalu, kenapa juga buaya-buaya itu tidak ikut pindah ke daerah lain dimana mereka bisa menemukan mangsa alami mereka? Bukankah logikanya jika para mangsa berpindah, ke sana pulalah para pemangsa menuju?

Yup, umumnya, dinamika kehidupan hampir seluruh predator memang begitu: “di mana ada gula di situ ada semut”. Sedangkan buaya, tidak. Buaya adalah binatang teritorial. Artinya, sekali mereka merasakan mudahnya memperoleh mangsa di suatu tempat, maka mereka akan memutuskan untuk menetap di situ dan mengklaimnya sebagai ‘rumah makan’. Selain itu, kekuasaan mereka di air relatif tak tertanggu oleh populasi manusia yang berkuasa di darat. Apalagi dengan kenyataan bahwa para penghuni darat itu juga bisa menjadi mangsa potensial mereka. Jika pun buaya-buaya itu diuber-uber oleh manusia yang merasa terancam, mereka akan menghilang selama beberapa waktu, bahkan sampai berbulan-bulan, untuk kemudian kembali lagi bila keadaan dirasa cukup aman. Barangkali inilah salah satu sebab mereka dikaruniai Allah kemampuan bertahan dari rasa lapar. Dalam masa-masa sulit (semisal saat ‘menghilang’ ini), seekor buaya dapat bertahan tanpa makan selama setahun lebih!.

Dalam kasus Gustave, ilmuwan dan herpetologis (para peneliti amphibi dan reptil) mengklaim bahwa ukuran dan bobotnya yang melebihi rata-rata barangkali yang menyebabkan buaya itu menjadi pemangsa luar biasa. Tak cukup lincah untuk memburu mangsa yang gesit dan tertuntut untuk mengisi perut besarnya, Gustave mulai mengabaikan mangsa standar seperti ikan atau antelop dan beralih pada mangsa lebih besar yang sering betah di sekitar sungai semacam zebra, wildebeest, kerbau liar, dan –tentu saja- manusia. Nafsu makannya memang menakutkan. Pernah dilaporkan, Gustave menerkam dan memangsa seekor kuda Nil dewasa yang –karena ukuran dan kekuatannya—justru dihindari oleh kebanyakan buaya.

Selain itu, menurut saya, ada kemungkinan faktor lain yang bisa diajukan. Konon, tidak semua korban tewas perang saudara di Burundi dikuburkan, tapi ada yang dibuang begitu saja ke sungai. Ini tentu saja bagaikan undangan pesta makan bagi para buaya. Dan karena hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, sangat logis jika kemudian muncul para monster yang ketagihan makanan gratis nan gurih pula. Meminjam istilah karakter Tim Manfrey (diperankan Dominic Purcell) dalam Primeval (2007): “We make, create, our own monsters!”

Selanjutnya, barangkali muncul pertanyaan: Mengapa hanya Gustave yang menjadi satu-satunya pemangsa manusia paling produktif di Afrika?

Dalam sebuah masyarakat buaya (yang tidak ter’organisir’ dengan rapi sebagaimana dalam sebuah pride singa), berlaku sistem "hirarki"; pejantan manapun bisa menjadi penguasa dengan satu syarat: ukurannya haruslah paling besar! Seekor buaya yang ukuran fisiknya melebihi anggota ‘masyarakat’ yang lain akan cenderung egois, kejam, dan ‘semena-mena’, terutama saat musim kawin atau saat persediaan makanan sulit; ia akan mengawini betina manapun yang ia inginkan, dan (merasa) berhak atas semua hasil buruan. Ia jarang berburu, tapi suka sekali makan. Sebaliknya, saat buaya lain menghadapi kesulitan menjatuhkan mangsa karena berukuran besar misalnya, si penguasa ini lebih memilih cuek (Kalo teman-temannya berhasil, toh dia juga yang memperoleh jatah paling banyak tanpa harus ‘peras keringat’ dan beresiko terluka).

Ukuran pejantan penguasa yang besar memang cukup efektif mengintimidasi pejantan lain agar tidak coba-coba memancing kemarahannya. Kalaupun ada pejantan lain yang lebih kecil nekad ingin mencoba ‘mencicipi’ fasilitas sang penguasa, semisal mengawini betinanya, maka ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika sampai diketahui, resikonya besar sekali; sang penguasa tak segan menyerang pejantan nekad itu secara brutal bahkan membunuhnya (stasiun TV Nat Geo Wild pernah menayangkan, seekor buaya penantang yang berakhir dengan nasib tragis; ia memang masih hidup, namun kehilangan hampir seluruh moncongnya). Di bawah tekanan diktator semacam ini, biasanya, buaya-buaya lain yang ingin makan dengan tenang, harus menjauh dari wilayah itu; atau berburu di perairan dangkal dan berbelukar lebat, agar si penguasa kesulitan merampas bagiannya.

Maka, jawaban paling sederhana atas pertanyaan di atas adalah: belum ada yang cukup berani mengangkangi ‘meja makan’ buaya raksasa seperti Gustave!

(Bersambung ke Man-Eaters - Ikhtitâm, In Syâ' Allâh)

Selasa, 25 Oktober 2011

9 Worst Man-Eaters #09 - TOM: TEROR BERJARI DUA

Muqaddimah:

Setiap binatang buas tentu saja berpotensi mematikan pada manusia. Namun secara individual, belum ada yang kebrutalannya menyamai para pemangsa (predator) sadis yang akan saya perkenalkan lewat catatan ini; yang aksinya telah menaikkan level mereka ke jenjang pemakan manusia (man-eaters) paling mengerikan dalam sejarah dan dengan jumlah korban tewas yang cukup fantastis (saya sebutkan secara countdown dengan mempertimbangkan jumlah manusia yang menjadi korban mereka.). Mereka ini adalah tipe predator yang telah memaksimalkan killing-insting mereka dan beberapa di antaranya membantai manusia dengan ‘senang hati’!.

Let's open up the gate, and the countdown to extinction is coming!

***

#09 - TOM: TEROR BERJARI DUA

Ini adalah sebuah kisah lama, dan berkembang semakin menuju ke arah mitos dan legenda, tentang pertempuran abadi para penduduk sekitar rawa-rawa Alabama dengan raksasa yang menurut mereka “Iblis Bermata Merah”.

Selama kurun 1920-an, rawa-rawa di sepanjang pinggiran Alabama sampai Florida telah terbenam dalam teror monster berujud seekor aligator Amerika jantan (biasa disebut bull-gator) bermata merah dan berukuran panjang mencapai 4,5 meter. Selain itu, yang juga istimewa dari fisik aligator ini adalah, ia dilaporkan nyaris kehilangan seluruh jemari kakinya, kecuali 2 jari kaki depan bagian kiri. Ini diketahui dari jejak-jejak yang tercetak di permukaan lumpur dan pasir setiap kali ia naik ke darat. Konon, ia kehilangan jemarinya dalam sebuah perangkap besi yang dipasang orang untuk menangkapnya. Kondisi inilah yang membuat aligator tersebut juga mendapat nama ‘akrab’ “Two Toed Tom (Tom Si Dua Jari)”.

Warga setempat mengklaim, bahwa gator ini bukan gator biasa, tapi “demon sent from hell to terrorize them“. Dengan ‘santai’, reptil berperisai ini menunjukkan bahwa bukan hanya ciri fisik yang membuatnya pantas disebut monster, tapi juga kelakuannya: mengabaikan mangsa alaminya dan beralih memburu makhluk-makhluk yang sering ia lihat berada di pinggir sungai dan mudah ditangkap. Ia mulai membantai binatang ternak semacam sapi dan keledai, serta mulai pula menyerang manusia (terutama dari kalangan wanita, yang pada masa itu sering mencuci pakaian mereka di pinggir rawa)!

Frekwensi serangannya yang cukup tinggi membuat banyak orang berusaha memburu dan membunuhnya, tapi selalu gagal. Bahkan dikisahkan, seorang petani setempat bernama Pap Haines begitu mendendam pada Tom karena telah membunuh keledai kesayangannya. Haines menyatakan perang dengan Tom. Dan selama 20 tahun berikutnya, pria ini pun mengupayakan berbagai cara untuk menangkap si Tom ini, hidup atau mati, namun tak juga kunjung berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan cara ekstrim; menghujani area rawa yang diperkirakan menjadi tempat alligator itu berkubang dengan 15 timba penuh dinamit!

Ledakan bertubi-tubi itu –mungkin- berhasil membunuh semua penghuni area, kecuali Tom!

Kenyataan ini terbukti tak lama setelah Haines bersama 8 orang tetangga yang membantunya mengakhiri pengeboman. Mereka mendengar suara keras cipratan air dari bagian lain area yang mereka ledakkan. Yang membuat mereka merinding, cipratan itu diselingi jeritan ngeri seorang wanita. Mereka bergegas menuju sumber jeritan itu, dan sempat melihat kilatan mata merah yang sangat mereka kenal sebelum pemiliknya menghilang ke bawah permukaan air. Awalnya tak diketahui, siapa yang menjadi korban salah satu rahang paling mematikan itu, sampai beberapa waktu kemudian, di pinggiran rawa itu, mengambang sisa tubuh seorang anak gadis berusia 12 tahun yang ternyata adalah cucu Haines!

Sesungguhnyalah, kisah di atas dan kisah-kisah lain yang sejenis dengannya tentang sepak terjang si Tom, hingga saat ini, sulit dibedakan, mana yang benar-benar fakta dan mana yang sekedar dongeng. Namun semuanya mengindikasikan, bahwa Tom Si Dua Jari adalah nyata dan menguasai rawa-rawa itu selama bertahun-tahun.

Sampai pada kurun 1980-an, masih ada laporan, bahwa sesekali terlihat seekor aligator besar berjemur di sekitar rawa itu, yang diidentifikasi sebagai Tom dengan melihat jejak ‘dua jari’-nya yang terkenal.

KOMENTAR SAYA: Aligator adalah salah satu keluarga reptil tertua yang masih bertahan hidup di planet kita. Secara fisik, kakak sepupu kadal ini sering dikonotasikan dengan buaya (tidak heran jika terkadang ‘guru’ Bahasa Inggris kita, Pak Gugel, menterjemah kata “alligator” dengan “buaya”, hi… hi… hi…). Ada satu hal yang paling jelas untuk membedakan mereka, yakni bentuk moncong aligator yang lebih lebar dan lebih pendek daripada moncong buaya. Selain itu, tubuh aligator juga relatif lebih bulat. Namun –dengan barisan 70-an gigi tajam tak beraturan di rahangnya—aligator amat tidak pantas disebut “imut”.

Saat ini, hanya ada dua jenis aligator, yaitu aligator Amerika (Alligator mississippiensis) dan aligator China (Alligator sinensis). Aligator China berukuran lebih kecil. Dewasanya tercatat hanya sepanjang sekitar 3 meter. Sedangkan aligator Amerika dewasa bisa mencapai ukuran 4 - 4,5 meter. Namun, jika seekor aligator dapat mencapai usia maksimalnya, ukurannya bisa terus tumbuh. Di Lousiana, pernah ada seekor aligator ‘sepuh’ yang mencapai panjang 5,48 m.Ia, sebagaimana keluarganya yang lain, yakni buaya, gavial, dan kaiman, adalah para predator puncak di habitat dan ekosistem masing-masing. Kalaupun di antara mereka ada (dan –sayangnya- memang ada!) yang ‘naik kelas’ menjadi pemangsa manusia, tentu ada hal-hal spesifik yang melatar-belakanginya.

Cacat fisik memang dapat menyebabkan seekor predator menyerang manusia. Tak mampu memburu mangsa alami, ia kemudian berusaha memenuhi kebutuhan makannya dengan mengincar apapun yang mudah diperoleh, seperti binatang ternak dan manusia. Namun bagi keluarga buaya, cacat fisik tidaklah terlalu berpengaruh. Bahkan lumrah dijumpai, seekor pejantan dominan memiliki banyak cacat fisik di tubuhnya. Akan tetapi, selama masih memiliki ekor dan moncong yang belum ompong, para buaya tetap sangat berbahaya! Apalagi dari tulisan di atas dapat dipahami, bahwa si Tom ini sudah jahat sebelum ia kehilangan jemarinya.

Dimungkinkan, habitatnya yang berdekatan dengan daerah hunian manusia yang membuat aligator ini menjadi legenda menakutkan. Dalam setiap perkampungan pinggir sungai, selalu ada manusia dan ternak yang beraktifitas di dekat air. Mulanya, mungkin, Tom berhasil menerkam seekor ternak yang banyak berkeliaran di situ. Sukses ini membuatnya ketagihan dan memutuskan untuk menjadikan daerah itu sebagai wilayah perburuannya. Akibatnya, makhluk apapun yang mendekati air, binatang atau manusia, akan menjadi mangsa potensial baginya.

Sebenarnya, dari segi jumlah korban (yang tercatat hanya 1 orang), tak ada yang istimewa dari insiden serangan Tom ini. Dengan populasi sekitar 5 juta ekor di seluruh daerah perairan Amerika, pertemuan aligator dengan manusia yang berujung pada sebuah serangan menjadi tak terlalu mengherankan. Dilaporkan, bahwa dari 275 kali serangan dalam kurun 60-an tahun terakhir, ‘hanya’ 38 yang mengakibatkan jatuh korban tewas (yang paling spektakuler barangkali insiden yang terjadi bulan Mei 2006; dalam waktu tidak sampai satu minggu, terjadi 3 kali serangan aligator dan menewaskan 3 warga Florida).

Barangkali, sisi dramatis-lah yang membuat kisah penyerangan Tom menjadi menarik untuk diceritakan berulang-ulang. Dengan deskripsi “aligator raksasa bermata merah dan berjari hanya dua”, lalu kombinasikan dengan bumbu “tak bisa dibunuh bahkan dengan dinamit sekalipun”, maka Anda akan mendapatkan tokoh monster legenda baru selevel King Kong dan Gojira . Saya membayangkan, pengakuan-pengakuan yang semacam “…tadi kami melihatnya; aligator itu memang raksasa!”, atau: “waktu saya bersama si anu dan si anu memancing, saya terpeleset lumpur, dan jatuh tepat di samping jejak kaki berjari dua …”, atau: “waktu menyelam, aku jelas melihat sepasang sinar merah di antara keruhnya air…” barangkali masih kerap terdengar dan ini jelas mengundang minat imajinasi pendengarnya untuk terus ‘menghidupkan’ Tom.

Lalu, apakah saat ini Tom memang masih hidup? Sampai sekarang, belum terdengar satupun kabar bahwa pemangsa berjari dua ini telah tertangkap atau paling tidak ditemukan bangkainya. Namun, dengan asumsi bahwa saat terakhir kali terlihat, dan berdasarkan ukuran rubuhnya, Tom merupakan aligator berusia lanjut, sementara usia normal seekor aligator berada pada kisaran 50-70 tahun (walaupun pernah ada laporan tentang seekor aligator yang mencapai usia 100 tahun lebih), maka, meski amat kecil kemungkinannya, jawabannya tetaplah “mungkin”!

(Bersambung, In Syâ' Allâh)

Kamis, 30 April 2009

SKIN O' MY TEETH

Semalam, salah satu stasiun TV nasional memberitakan, seorang pelajar SMP di daerah Sumatera Utara tewas diterkam seekor buaya!

Bagi 'pengamat' predator seperti saya (istilah 'pengamat' saya pake karena sekarang sedang laku banget!) , berita ini --tanpa mengurangi rasa belasungkawa dan turut berduka untuk keluarga yang tertimpa musibah itu-- sungguh 'menarik'. Kepenasaran saya terusik, karena insiden serangan binatang buas (khushushon predator besar) yang mengakibatkan korban tewas --sepengetahuan saya-- terbilang langka di Indonesia. Saya pun segera 'berburu' data untuk melengkapi berita ini, terutama:

1. Nama Korban: Toba Nainggolan, seorang pelajar SMP Adven Sepakat Desa Sei Apung, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) yang juga peserta UN. Saat itu, Senin (27/4) pukul 18.30 petang, sebagaimana artikel Sdr. Joko Gunawan untuk situs Harian Global, korban sedang mandi-mandi, namun tiba-tiba (seekor buaya muncul dan) korban langsung diterkam (lalu ditarik masuk ke dalam air) dan tidak diketahui kemana jasadnya.
Rekan korban langsung melaporkan kepada warga dan dilakukan pencarian. Sejam kemudian, jasad korban putra dari M Nainggolan ditemukan dan di sebelahnya buaya tersebut masih menampakkan diri. Spontan warga menyerang dan buaya itu langsung kabur tidak diketahui 'rimba'nya (Sebagaimana laporan Sdr. Ledy untuk situs ini juga, ketika ditemukan, Toba Nainggolan sudah tidak bernyawa. Jasad siswa malang itu teronggok mengenaskan di tepi sungai. Tubuhnya tercabik-cabik, tidak utuh lagi. Kaki dan tangannya putus, sementara isi perutnya terburai) .

2. TKP (Tempat Kejadian "Penyerangan", bukan "Perkara", karena saya yakin, buaya itu ga kenal pengacara dan KUHP!): Sungai Sei Apung Desa Sei Apung, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara. Diberitakan, beberapa bulan ini sebenarnyalah warga sekitar Sungai Kualuh antara Sungai (Sei) Apung dan Kampung Masjid dan Teluk Piai, Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura), Sumut, sudah dicekam ketakutan akibat terror buaya2 itu.

3. Korban lain sebelumnya: Dilaporkan, sudah ada empat korban yang tewas akibat serangan buaya di daerah itu; warga yang diketahui Boru Manik, Juliana Manungkalit (2005), Artauli Samosir (2008) dan Toba Nainggolan (sendiri). Sedangkan yang mengalami luka berat dan ringan adalah, Abbas dua kali diserang buaya saat mencari ikan, Amiruddin saat memasang belat (jaring), Amat saat mencari ikan perahu motornya dikaramkan buaya ganas itu, serta Selamat yang juga saat mencari ikan di sungai tersebut. Juga Mahyuddin, yang ketika itu sedang berenang, mendadak muncul buaya yang melibaskan ekornya ke dada nelayan tersebut. Rekan-rekan segera menarik Mahyuddin dan menaikkannya ke atas sampan. Belakangan diketahui, buaya itu panjangnya sekitar 6 meter.

4. Jenis buaya yang menyerang: belum diketahui jenis buaya yang menewaskan Toba ini. Namun menurut Ketua Aliansi Solidaritas Tani Transporter dan Nelayan (Astran) Labuhanbatu Zulfan Azhari Siregar, ada berjenis-jenis buaya di kawasan Sungai Kualuh itu antara lain : buaya tembaga yang kulitnya menyeramkan dengan warna tembaga bergerigi mengkilat (versi saya: mengingat buaya yang menyerang Mahyuddin diperkirakan berukuran sampai 6 meter, sangat mungkin yang dimaksud beliau adalah buaya muara/saltwater crocodile [Crocodylus porosus]), buaya katak yang sejenis buaya yang ganas dan mau mengejar orang atau mangsa sampai ke daratan dan jenis buaya ikan (versi saya: menurut situs komunitas [pencinta] reptil Indonesia, nama buaya katak atau bekatak digunakan untuk menyebut sejenis buaya bertubuh kecil gemuk [mungkin --dalam benak saya-- semacam buaya dari keluarga Caimaninae --mohon dikoreksi--], sedangkan buaya ikan digunakan untuk jenis buaya senyulong/false gharial [Tomistoma schlegelii], buaya jolong-jolong [Mly.], atau buaya julung-julung).

5. Tindakan aparat berwenang: Masih menurut Zulfan, permasalahan buaya dengan warga sudah terjadi beberapa tahun lalu dan pihaknya telah menyurati Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) guna melakukan peninjauan. Namun setelah memakan korban 4 warga tewas dan 4 luka berat, barulah terlihat BKSDA menindaklanjutinya.

Sementara itu, Kepala Resort BKSDA Asahan-Labuhanbatu Raja Karson Gultom saat dikonfirmasi Global dari Rantauprapat, Selasa (28/4) membenarkan kejadian tersebut. "Waktunya terlalu sempit, Rabu kita akan turun ke lokasi, memang awalnya kita rencanakan hari ini. Untuk sikap kita ke depan, kami akan koordinasi dengan instansi terkait serta menunggu petunjuk BKSDA pusat," terang Gultom.

Lebih lanjut, menurut Kabid Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Hardiman, seperti dikutip dari Harian Global, Kamis (30/4), masih ada sekitar 100 buaya yang berkeliaran di sepanjang Sungai Apung. “Untuk itu masyarakat yang tinggal di sekitar sungai harus hati-hati,” katanya.

Sementara Kepala Seksi Perlindungan dan Perpetaaan BKSDA, Olo Simbolon menduga, buaya Sungai Apung mengamuk karena merasa habitatnya terganggu. “Buaya semakin sulit mencari makan karena rusaknya lingkungan sehingga akhirnya keluar dari habitatnya dan menganggu manusia,” ungkapnya.

Sesuai UU No 5 Tahun 1999, tentang satwa liar, buaya termasuk hewan yang dilindungi. Untuk mengatasi konflik buaya dengan manusia, salah satu cara adalah memindahkan buaya agar jauh dari pemukiman penduduk. Tapi hal itu bukan perkara mudah karena sangat tergantung pada kebijakan pusat.

“Untuk saat ini yang bisa dilakukan adalah mengimbau agar masyarakat berhati-hati,” katanya.

Sebagai 'penyedap rasa' (untuk melengkapi imajinasi kita), saya 'hidangkan' gambar jaman baheula di bawah ini;
(bangkai) seekor buaya muara/buaya tembaga di Sumatera. Dari perutnya yang dibelah, dikeluarkan beberapa potongan tubuh korbannya. Kabarnya, buaya ini sempat menteror sebuah desa kecil di Sumatera sebelum akhirnya ditembak mati saat mencoba memangsa korbannya yang ke-14!

Partelon mengatakan: So, untuk orang2 pusat, gimana Bos???