Tampilkan postingan dengan label al-Maulid-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-Maulid-an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2014

10 Keistimewaan Sang Pilihan



بسم الله الرحم الرحيم

ياَرَبِّ باِلْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ***
وَاغْفِـرْ لَنَا مَا مَضَى ياَ وَاسِعَ اْلكَرَمِ

مَوْلايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدَا ***
عَلىَ حَبـِيـْبـِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ


________________________________________________
10 dari sekian banyak khashâ-ish (keistimewaan)
Kanjeng Nabi Muhammad Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam:*

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طَهَ مُطْلَقًا أَبَدًا ***
 وَمَا تَثَاءَبَ أَصْلاً فِى مَدَى الزَّمَنِ
(Lam yahtalim qoththu Thohâ muthlaqon abadan ***
wa mâ tatsâ-aba ashlan fî madâ-z zamaniy)
(1) S’kalipun tak pernah Sang Nabi mimpi basah ***
(2) Dan tidak pernah menguap untuk selamanya
 
مِنْهُ الدَّوَابُّ فَلَمْ تَهْرُبْ وَمَا وَقَعَتْ  ***
ذُبَابَةٌ أَبَدًا فِى جـِسْمِهِ الْحَسَنِ
(Minhu-d dawâ-bbu fa lam tahrub wa mâ waqo’at ***
dzubâbatun abadan fi jismihi-l hasani)
(3) S’gala binatang tunduk patuh; (4) dan tak ‘kan hinggap ***
sampai kapanpun, lalat pada tubuh indahnya

بـِخَلْفِهِ كَأَمَامٍ رُؤْيَةٌ ثَبَتَتْ  ***
 وَلاَ يُرَى أَثْرُ بَوْلٍ مِنْهُ فِى عَـلـَنِ
(Bi khalfihî ka amâmin ru’yatun tsabatat ***
Wa lâ yurô atsru baulin minhu fÎ ‘alani)
(5) Bak di depan, Beliau lihat yang di belakang ***
(6) Dan air seninya pun tak terlihat bekasnya

وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ  ***

وَلاَ يَرَى ظِلَّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْ فِطَنِ
(Wa qolbuhû lam yanam wa-l ‘ainu qod na’asat ***
wa lâ yurô dzilluhû fi-sy syamsi dzû fithoni)
(7) Hatinya pun terjaga walau mata terpejam ***
(8) Dalam terik, Sang Nabi tak nampak bayangannya

كَتْفَاهُ قَدْ عَلَتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا ***  
عِنْدَ الْوِلاَدَةِ صِفْ يَا ذاَ بِمُخْـتـَـتِنِ
(Katfâhu qod ‘alatâ qouman idzâ jalasû ***
‘inda-l wilâdati shif yâ dzâ bi mukhtatini)
(9) Dua pundaknya unggul saat duduk bersama ***
(10) Telah terkhitan pula saat dilahirkannya


هَذِي الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ آمِنًا *** 

مِنْ شَرِّ نَارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِنْ مِحَنٍ
(Hâdzi-l khoshô-ishu fa-hfadzhâ takun âminâ ***
min syarri nârin wa surrôqin wa min mihani)
Hafalkanlah khâshâ-ish ini agar kau aman ***
Dari api, pencuri, bencana segalanya.

Allâhumma Shalli wa Sallim wa Bârik ‘alâ Sayyidinâ wa Maulânâ Muhammad wa ‘alâ Âlihî wa Shahbihî Ajma’în…


Prenduan, Malam Senin, 11 Rabi'ul Awal 1435 H

al-faqir ila Rahmati-Llâhi-l 'Allâm wa Syafâ'ati RasûliHi Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam,
______________________________
*dari kutipan al-‘Âlim al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Nawawiy bin ‘Umar al-Bantâniy dalam karya beliau: Marâqi-l ‘Ubûdiyyah, Syarh Bidâyatu-l Hidâyah, hlm. 03.

Syi’ir ini di-nadzamkan dengan bahar (notasi) al-basîth. Sama dengan notasi yang kita gunakan saat melantunkan “Yâ Rabbi bi-l Mushthafâ balligh maqâshidanâ *** wa-ghfir lanâ mâ madhâ Yâ Wâsi’a-l Karami”. Demikian pula, saya coba menyelaraskan terjemahnya agar bisa dilantunkan dengan notasi serupa. Mohon maaf jika bahasa saya sangat jauh dari indah dan bersastera…

Minggu, 05 Januari 2014

MADAH NABAWIY: Bukan 'Ghuluw' Sama Sekali!


Bismi-Llâh, wa-l Hamdu li-Llâh, wa-s Shalâtu wa-s Salâmu ‘alâ Rasûli-Llâh, Sayyidinâ wa Maulânâ Muhammad i-bni ‘Abdi-Llâh, wa ‘alâ Âlihî wa Shahbihî wa man wâlâh...

 

‘Tetangga sebelah’ biasanya akan alergi dan ‘meriang, demam, panas-dingin’ manakala ada yang membaca kumpulan shalawat dan madah nabawiy, baik dari Maulid al-Barzanji, Maulid ad-Diba’iy, Maulid Habsyi, dan sebagainya. Alasan mereka adalah bahwa Rasulu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam sendiri melarang kita berlebihan dalam memuji (biasa mereka istilahkan dengan “ghuluw” pada) Rasulu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana.dinyatakan oleh hadits:

لا تطرونى كما أطرت النصارى عيسى ابن مريم
فإنما أنا عـبد فقــولوا عبد الله ورسوله


"[Artinya] Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nashraniy yang berlebihan dalam memuji Nabi ‘Isa Putra Maryam. Aku tak lebih daripada seorang hamba (Allâh). Maka ucapkanlah (untukku) ‘Abdu-Llâh wa RasûluH'” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, Tirmidzi dan selain mereka, dari Sayyidina Umar Radhiya-Llâhu ‘anh wa Rahimahum Ajma'in)

Sesungguhnya, jika mereka mau menggunakan otak kanan-kiri mereka dengan benar dan proporsional, maka akan diketahui bahwa hadits tersebut justru melegalisir berbagai pujian pada Rasulu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam. Paparan al-‘Alim al-‘Allâmah As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin Abbas al-Malikiy al-Hasaniy Rahimahu-Llâh berikut ini sungguh mencerahkan*:

[Terjemahnya] Adapun “ghuluw” dalam arti memaksimalkan rasa cinta, ketaatan dan ketergantungan kepada Beliau (Rasulu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam), maka hal ini sungguh disukai dan dianjurkan sebagaimana penjelasan hadits (yang artinya) “Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nashraniy yang berlebihan dalam memuji (sampai menuhankan Nabi ‘Isa) Putra Maryam”. Artinya, bahwa memaksimalkan pujian pada Beliau (Rasulu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam) dengan cara-cara yang tidak seperti ‘pujian’ kaum Nashrani pada Nabi ‘Isa (‘alaihi-s Salâm) itu adalah terpuji. (Karena) seandainya hadits tersebut tidak dimaknai demikian, maka tentu kesimpulannya adalah ‘segala bentuk pujian sama sekali tidak boleh’. Dan kita tahu betul bahwa kesimpulan semacam ini tidak akan muncul dari seorang muslim yang paling bodoh sekalipun, karena Allâh Ta’âlâ telah mengagungkan Kanjeng Nabi Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam dalam al-Qur-an al-‘Adzim dengan berbagai macam pengagungan yang paling luhur. 

Maka wajib bagi kita mengagungkan orang yang diagungkan dan oleh Allâh Ta’âlâ dan (kita) diperintahNya (agar juga) mengagungkan orang itu. Namun demikian, kitapun berkewajiban untuk tidak (memuji beliau dengan) melekatkan sifat-sifat ketuhanan pada diri beliau. Semoga Allah merahmati orang yang menyampaikan syi’ir ini:

“ دع ما ادعته النصارى في نبيهم *** واحكم بما شئـت فيه واحتكم ”

“[Artinya] Jauhilah asumsi kaum Nashrani terhadap Nabi mereka, dan tetapkanlah pujian apapun pada beliau (Nabi kita) dan perkuatlah (jangan goyah)”

Jadi memuliakan Beliau Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam dengan tanpa melekatkan sifat2 ketuhanan bukanlah bentuk kekafiran dan kesyirikan, tapi hal ini justru merupakan sebagian dari keta’atan dan pendekatan diri (kepada Allah) yang paling tinggi (nilainya), sebagaimana hal (kewajiban memuliakan) ini juga berlaku pada siapapun yang dimuliakan oleh Allâh Ta’âlâ seperti para nabi, para rasul Shalawâtu-Llâh wa SalâmuHû ‘alaihim ajma’in, dan seperti para malaikat, para shiddiqin, para syuhadâ’ serta orang-orang shalih. Allâh Ta’âlâ berfirman (yang artinya): “Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al-Hajj:32); dan “Dan barangsiapa mengagungkan apapun yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj:30)… [dst, sampai pada pernyatan Beliau]:

Sedangkan seseorang yang memaksimalkan pengagungannya pada Beliau (Kanjeng Nabi Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam) dengan segala bentuk pengagungan tapi tidak mensifati Beliau dengan satupun sifat-sifat Sang Maha Pencipta ‘Azza wa Jalla, maka ia sungguh benar dan telah menjaga sisi ketuhanan dan sisi kerasulan sekaligus. Dan ini adalah pernyataan yang tidak berlebihan dan tidak pula melalaikan. Dan seandainya pun ada seorang mukmin yang ucapannya (seolah) melekatkan (sifat-sifat ketuhanan) pada selain Allâh Ta’âlâ, maka ucapannya itu wajib dimaknai sebagai “majâz ‘aqliy”** dan tidak ada jalan untuk mengkafirkannya, karena gaya bahasa majâz ‘aqliy ini juga biasa digunakan dalam al-Qur-an maupun Sunnah. Misalnya pada firman Allâh Ta’âlâ (yang artinya): “…dan apabila dibacakan ayat-ayatNya, maka (ayat-ayat itu) menambah keimanan mereka” (QS. Al-Anfâl:2). Jadi, menyandarkan adanya “bertambah (iman)” pada “ayat-ayat Allah” dalah bentuk majâz ‘aqliy, karena yang “menambah” hakikatnya tetaplah Allâh Ta’âlâ semata… (Wa-Llâhu a’lam bi-s Showâb)

Allâhumma Shalli wa Sallim wa Bârik ‘alâ Sayyidinâ wa Maulânâ Muhammad wa ‘alâ Âlihî wa Shahbihî Ajma’în…

_____________________

* : diterjemah secara bebas dari Qul Hâdzihî Sabîliy halaman 21-22, dengan bantuan kamus tebal dan ketidakkemampuan memahami bahasa Arab dengan baik. :-(
**: “Majâz ‘Aqliy” ini, menurut Lora Faizi, adalah semacam “Figure of Thought”. Contoh: “Saya yang memperbaiki masjid ini,” kata Kiai Nidin. Padahal yang mengerjakan perbaikan adalah para tukang atas perintah K. Nidin. (Matorsakalangkong, Ra…) ;-)

Minggu, 19 Mei 2013

al-INSÂN al-KÂMIL



Ttg KESEMPURNAAN FISIK RASÛLU-LLÂH (Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam)*
·   
“Sesungguhnyalah hadits dan atsar yang menunjukkan kesempurnaan penciptaan serta kabagusan fisik Rasûlu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam telah tersebar luas. Oleh karenanya, termasuk kesempurnaan mengimani beliau Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam, adalah mengimani sepenuhnya bahwa Allâh Subhâna-Hû wa Ta’âlâ telah menciptakan fisik mulia Beliau dalam bentuk yang tidak pernah ada bandingannya, sebelum atau sesudah Beliau (diciptakan)”.

“Telah ada ketetapan bahwa Rasûlu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam dianugerahi seluruh keindahan ragawi. Namun (istimewanya) karena terlindung oleh mahkota kewibawaan dan cahaya yang benderang, maka ketampanan wajah Beliau tidak menjadi cobaan bagi siapapun yang memandangnya”. **

“Para shahabat radhiya-Llâh ‘anhum tak kuasa memandang Beliau secara cermat dan teliti karena kuatnya wibawa serta tingginya kemuliaan Beliau. Oleh karenanya, yang bisa mendeskripsikan raga beliau hanyalah para shahabat yang masih kecil atau mereka yang diasuh beliau sebelum Kenabian, sebagaimana Hindun bin Abi Hâlah dan Sayyidina ‘Ali radhiya-Llâh ‘anh.”
___________
*Lihat: “Muhammad Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam al-Insân al-Kâmil” li al-Imâm al-‘Alim al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Mâlikiy al-Hasaniy Rahimahu-Llâh, hlm. 15, 19 dan 20.

**Tentang hal ini, saya juga mendengar langsung penjelasan al-‘Alim al-‘Allâmah al-Faqih as-Syeikh Muhammad bin Ismail az-Zain al-Yamaniy di PP. Ummul Qura, Blumbungan, Pamekasan, beberapa tahun lalu.

Allâhumma Shalli wa Sallim wa Bârik ‘alâ Sayyidinâ wa Maulânâ Muhammad wa ‘alâ Âlihî wa Shahbihî Ajma’în…