Tampilkan postingan dengan label Motley Crue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motley Crue. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2009

HI-S-TORY TELLS (2)

Masih dalam rangkaian riwayat “perkenalan” saya dengan musik rock/metal, dalam THE NUMBER OF THE BEST jilid 2 ini saya mau “melaporkan” band2 heavy metal bule (gak pake “kambing”) berikut album/single masing2 yang membantu memperluas “pengertian” saya (jadi sangat mungkin berbeda dengan “pengertian” Anda) tentang heavy metal (yang pada mulanya saya pahami hanya sebagai “musik yang lebih berat daripada hard rock “). Sekedar catatan: Sekali lagi, urutan di bawah ini semata menunjuk pada kronologi “perkenalan saya”, bukan pada ranking kualitas masing2.

MÖTLEY CRÜE (album: SHOUT AT THE DEVIL, 1984). Dalam album ke 2 band asal Los Angeles ini, saya (yang waktu itu [dan sampai sekarang] masih katrok banget soal “ilmu” musik) mendapat kesan bahwa ada 2 ciri utama genre heavy metal: sound berat dan penggunaan instrumen secara maksimal. Bahkan album ini, oleh kritikus dan fan Mötley Crüe, dikomentari dengan: “regarded as the heaviest sounding Mötley Crüe album”. Dari album ini pula saya “bisa” mengkategorikan bahwa heavy metal itu ada yang bertempo (favorit saya) “cepat namun standar” (di nomor semacam BASTARD dan LOOKS THAT KILL); lalu ada yang “biar lambat asal selamat” (seperti pada nomor SHOUT AT THE DEVIL dan HELTER SKELTER); serta tipe “pontang-panting” (di nomor RED HOT). Metal dengan tempo dan sound a la SHOUT AT THE DEVIL sempat menjadi “standar” jenis metal yang saya sukai dan terus berlanjut ke album THEATRE OF PAIN (1985), sampai akhirnya saya merasa “ada yang berubah” saat menyimak album ke-4 Mötley Crüe, GIRLS, GIRLS, GIRLS (1987). Nomor pembuka bertajuk WILD SIDE memang masih menyimpan kegarangan metal khas Mötley Crüe walaupun sound-nya sudah mulai “melunak” (dan “celakanya”, yang saya sukai dari album ini justru nomor berjudul YOU’RE ALL I NEED yang ballad habissss!). Dan saat band pimpinan Nikki Sixx ini merilis album ke-5, DR. FEELGOOD, pada 1989, “perubahan” itu terasa semakin kentara. Namun Saya tidak lagi heran setelah tau bahwa Mötley Crüe memang bukan penganut pure heavy metal, tapi glam-metal (artinya, metal “manis manja” ‘kali ya? Sebagaimana "pengakuan" mereka: “When we started this band/All we needed, needed was a laugh/Years gone by.../I'd say we've kicked some ass”).

MANOWAR (album: INTO GLORY RIDE, 1983). Di kaset saya, album karya dari “gabungan para pandai besi, tukang jagal dan peramal cuaca” (karena lirik2nya gak lepas dari kata “sword”, “steel”, “fire”, “kill”, “blood”, “wind”, “storm” dan “sky”) ini dirilis bersama album SHOUT AT THE DEVIL (atas) sebagai “pengisi kelebihan pita” (sebagaimana “tradisi” kaset jadul berlabel semacam TEAM ato ROCKSHOT), itupun cuma kebagian tempat di paruh ke dua side B. So nomor yang “beruntung” termuat “hanya” 4 nomor (dari yang semestinya 7) yaitu WARLORD, MARCH FOR REVENGE (BY THE SOLDIERS OF DEATH), REVELATION (DEATH’S ANGEL), dan GATES OF VALHALLA. Namun dengan keterbatasan itu, glundungan heavy metal hingar INTO GLORY RIDE ternyata menawarkan sesuatu yang “berbeda” dari “suguhan” Mötley Crüe:
  • konsistensi tema (yang dari depan-belakang gak ngomongin lain selain “ngajak perang”); dan
  • “kebisingan” yang super berisik namun tetap harmonis.
Dua “identitas” ini (ternyata) telah di"rintis" secara "malu-malu" di album pertama, BATTLE HYMNS (1982), ter"muntahkan" di INTO GLORY RIDE ini, dan terus dipertahankan di album2 selanjutnya (yang terbaik –versi saya- KINGS OF METAL [1988] dan LOUDER THAN HELL [1996]) sampai album ke-10 (yang terkini): GODS OF WAR (2007).

"Sayang"nya, album se"serius" INTO GLORY RIDE ternyata dirilis (di Indonesia) secara "tidak serius". Padahal:
  1. Album ke-2 Manowar ini merupakan "mars perang" mereka menyambut masuknya penggebuk drum yang berpengaruh besar pada musik Manowar, Scott Colombus (belakangan dikenal dengan "The Drummer of Doom").
  2. Album ini seolah merupakan optimalisasi ide yang kemudian membentuk karakter khas metal versi Manowar; album yang membuat mereka dikenal dengan reputasi "swordswinging barbarians". Seorang kritikus, saat mengomentari album ini, bahkan menyatakan "Their first album was called BATTLE HYMNS but this is the real battle hymns!".
Sulit bagi saya untuk menggambarkan metal “apa” yang dimainkan band yang didirikan Joey deMaio (basis) dan "Ros The Boss" (gitaris) di Auburn, New York pada 1980 ini (mungkin saking bingungnya mengidetifikasi metal-nya Manowar, ada yang menyebut genre metal mereka dengan Viking Metal!). Saya hanya bisa mendefinisikan secara singkat, bahwa tipe metal-nya Manowar adalah “Other bands play, Manowar kill!”

DIO (Singel: WE ROCK, aslinya dirilis dalam album THE LAST IN LINE, 1984). Saya “mengenal” lagu ini dari sebuah kaset kompilasi HEAVY METAL produk anak negeri alias B-A-J-A-K-A-N (with the big B)!!!! Beberapa lagu lain yang saya ingat selain WE ROCK adalah ROCK IN AMERICA (Night Ranger), ROCK CITY (Saxon), SHOUT AT THE DEVIL (Mötley Crüe), POWERSLAVE (Iron Maiden), ROCK THE NATION (Krokus), PANAMA (Van Halen), dan BACK FOR MORE (Ratt). Mulanya, saya (yang waktu itu memang sedang gandrung dengan lagu bertempo cepat dan sound berat) menganggap, dari seluruh nomor di album "brekele" ini, WE ROCK adalah representasi paling pas dari judul HEAVY METAL. Lagu yang diawali dengan kombinasi gempuran drum berderap dari Vinny Appice dan garukan rhytm oleh Vivian Campbell (yang sekarang gabung dengan Def Leppard) ini dengan mantap mengesankan heavy metal bercitra gagah. Tak heran, setelah nomor ini lewat, maka nomor2 lain sesudahnya terasa “hambar” di telinga saya. Tapi setelah memutar kaset ini berulang-ulang, saya baru bisa merasakan bahwa nomor2 lain juga memiliki citra metal yang kuat walau dengan “tampilan” berbeda (kecuali PANAMA-nya Van Halen; terkesan “melodius” dan terlalu “sopan” untuk ukuran heavy metal. Saat itu saya belum tau bahwa band bentukan dua bersaudara, Eddie dan Alex Van Halen, pada 1972 ini memang memilih jalur hard rock, bukan heavy metal). Meminjam lirik WE ROCK, : “It's really all the same, with just a different name”.

IRON MAIDEN (album: SEVENTH SON OF A SEVENTH SON, 1988). Sejak singel POWERSLAVE (yang saya singgung di atas), saya sudah merasakan “kesan” berbeda dari metal-nya Iron Maiden (KORMEDDAL: “Wa’ lah! Eit... eit...”): "ini metal yang di-gambuskan ato gambus yang di-metalkan?!" (berkaitan dengan ini, saudaranya Alily Zorro pernah mengatakan:"Iron Maiden itu aslinya pingin nyanyi gambus tapi ga bisa bahasa Arab!" :D). Dan kesan itu kian menguat setelah saya menyimak secara utuh nomor2 dalam album studio ke-7 Iron Maiden, SEVENTH SON OF A SEVENTH SON (SSoASS). Nada2 dengan “hembusan badai padang pasir” kental menempel erat nyaris di semua nomor, apapun temponya, dalam album karya pionir genre New Wave of British Heavy Metal ini (Jalanhakikat: “Lha, depa’ lah!!”); dari yang bertipe “lari cepat” seperti MOONCHILD, “lari pagi” seperti THE EVIL THAT MEN DO, THE CLAIRVOYANT dan ONLY THE GOOD DIE YOUNG, ato yang bercorak “alon2 asal kelakon” semacam INFINITE DREAMS. Apalagi di nomor andalan SEVENTH SON OF A SEVENTH SON, sejak “pembukaan” sampai “penutupan”, ditambah sentuhan canggih additional keyboardist Michael Kenney, visualisasi “buah korma, piramid, spynx dan onta” seolah berseliweran di benak saya. Dan setelah saya membeli album Iron Maiden berikutnya, NO PRAYER FOR THE DYING (1990), saya kembali “bertemu” dengan metal yang warnanya “tidak biasa” ini, terutama di nomor2 MOTHER RUSSIA, RUN SILENT RUN DEEP, PUBLIC ENEMA NUMBER ONE dan NO PRAYER FOR THE DYING. Setelah saya melengkapi album2 Iron Maiden sebelumnya, barulah saya ngeh bahwa New Wave of British Heavy Metal bercorak “gambus” emang menjadi semacam “trade mark" yang “mendarah daging” di Iron Maiden. (Bahkan, saat saya muter single FEAR OF THE DARK dari album ke-9 berjudul sama [1992], seorang kerabat “tua” saya -yang mungkin gak sengaja denger intronya- bertanya: “Kamu punya kaset gambus baru, ya?”)

Kembali ke SSoASS, ada beberapa keunikan dari album ini (yang baru saya tau sekian tahun kemudian):

Pertama, SSoASS adalah album pertama Iron Maiden yang berupa concept album (satu album berisi satu kisah utuh [paling tidak ada 5 nomor yang isinya saling nyambung: MOONCHILD, INFINITE DREAMS, SEVENTH SON OF A SEVENTH SON, THE PROPECHY dan THE CLAIRVOYANT], kayak yang biasa dikerjain King Diamond).
Kedua, SSoASS adalah album terakhir gitaris Adrian Smith bareng Iron Maiden sebelum hengkang (walo belakangan balik lagi mulai proyek BRAVE NEW WORLD [2000]. Kangen sama Eddie, kaleee !).
Ketiga, album SSoASS seolah menjadi reprensentasi dari keseluruhan warna musik band bentukan si basis Steve Harris pada 1975 ini. Artinya, kalo pingin tau metal-nya Iron Maiden, ya simaklah album ini, gicu kira-kira.

Soal kualitas, SSoASS ini dapat 'anugerah' 4 setengah Bintang dari Allmusic, 5 bintang dari Kerrang! dan 10 bintang dari The Metal Observer !!

“so it shall be written, so it shall be done...”