Nah, (walau agak terlambat) saya ingin membincangkan karya dedengkot rimba permusikan delapan penjuru angin ini. Namun saya masih bingung, darimana mulainya... Oiya, kita mulai saja dari sampul album ini.
Minimalis, itulah kesan awal saat saya melihat cover album ini; background hitam dengan tulisan “GOD BLESS 36th”. Font yg dipakai pun jadul banget; persis dengan sampul album pertama, GOD BLESS (1975). Kekawatiran yang sempat muncul di benak saya, jangan2 GB ingin menyuguhkan atmosfer progresif klasik khas 70an seraya ‘mengacuhkan’ penggemar fanatik yang ingin melihat estetika dan kompleksitas musik dengan adukan hard rock yang menggelegar ala SEMUT HITAM (1988) dan RAKSASA (1990). Tapi, tentu saja don’t judge a book (or an album?) by its cover. So, saya coba ‘menelanjangi’ lebih lanjut (tolong dikoreksi ya kalo salah ‘masuk’, hehehe...). Lanjut nyoook...Ternyata, komposisi album ini bisa dibilang adil; ia berhasil mengawinkan progresif dan melankolis secara akur serta mengkombinasikan struktur sound a la SEMUT HITAM dengan ‘aroma’ klasik CERMIN (1980) yang pekat. Pun, 36th sukses meng’kompromi’kan usia personel GB yg rata2 60-an (kecuali Yaya Moektio) dengan predikat band ini sebagai “band panggung” (salah satu gambarannya, karakter vokal Iyek Achmad Albar yang ‘agak’ berbeda dari bisanya. Mungkin sekali karakter itu diolah sedemikian rupa agar tak menyulitkan saat harus manggung dengan durasi rata-rata 1-2 jam). Namun toh kompromi2 –yang secara komersial sah-sah saja itu-- tak serta merta menghilangkan mutu musikalitas band rock legendaris ini.
Nomor2 berjudul ‘provokatif’ semacam N.A.T.O (sebagai track pembuka), PRAHARA TIMUR TENGAH, BIARKAN HIJAU dan DUNIA GILA menegaskan bahwa musisi GB masih ‘sehat’ dan bisa menghentak. Khusus N.A.T.O, ia tak segarang KEHIDUPAN (1988) dan MENJILAT MATAHARI (1990) memang, tapi sayatan jemari Ian Antono terasa lebih panas ketimbang rata2 lagu di Semut Hitam. Variasi ‘cengak-cengok’ (semacam yang menjadi kebiasaan Glenn Tipton, KK. Downing, dan mendiang Dimebag Darrel) malah sesekali dilakukannya di nomor ini (dan beberapa nomor lain).Lalu DUNIA GILA, bersama BIARKAN HIJAU, menyuguhkan hentakan2 progresif khas GB yang nampaknya masih enggan luntur. Bisa dibilang, racikan instrumen dua nomor ini cukup ruwet bin ribet layaknya corak progresif (meski tak sekental ‘kerumitan’ singel MUSISI, 1980). Sedangkan nomor JALAN PULANG menawarkan alur yg mirip ORANG DALAM KACA (1988); lembut mendayu di awal dan menderu kencang menjelang akhir (dan sekilas terasa pengaruh kuat singel BOHEMIAN RHAPSODY-nya Queen [1975]). Di nomor ini pula, permainan keyboard Abadi Soesman jelas terasa perbedaan cita rasanya, terutama bagi yang terbiasa menyimak permainan keyboard Jockie Soeryoprayogo.
Selanjutnya, nomor2 bergaya soft khas GB bisa ditemukan dalam nomor KAR’NA KU INGIN KAU BAHAGIA yang tak kalah romantis dengan SHE PASSED AWAY (1975). Lalu ada PUDAR yang sesyahdu RUMAH KITA (1988) dan SYAIR UNTUK SAHABAT, nomor balada yang warnanya se’suram’ DAMAI YANG HILANG (1988) serta SYAIR KEHIDUPAN (1990). Namun untuk menjadi hit seperti para ‘pendahulu’nya tersebut, 3 nomor balada GB ini, yang bersahaja dan menawarkan kesetiaan serta pengabdian wajar, nampaknya harus berjuang keras agar tak terdengar ‘asing’ di telinga masa kini yang lebih akrab dengan lagu ‘termehek-mehek’ bertema selingkuh dan pacaran putus-nyambung.
‘Tema tak umum’ juga bisa kita rasakan di album ini, yakni pada nomor SAHABAT (bercerita tentang Max, anjing kesayangan Ian Antono). Tampilan vokal Iyek yang sedikit ‘genit’, intro gitar funk dan variasi suara gonggongan anjing berjenis golden retriever itu jelas menunjukkan wajah lagu ‘ceria’ ini.
Dan langkah2 retrospektif album ini akhirnya dipungkasi dengan ROCK ‘N ROLL HIDUPKU, lagu rancak yang dengan piawai mengkombinasikan hard rock dengan boogie-woogie khas blues klasik.
Usai menyimak keseluruhan album ini, ternyata kekawatiran saya tak sepenuhnya benar. Bahwa 36th tak seprogresif CERMIN dan tak segarang SEMUT HITAM serta RAKSASA, memang. Tapi keberanian para pendekar yang baru turun gunung ini, untuk menyuguhkan album ‘serius’; kualitas terjaga rapi dan pada saat yang sama melankolis-layak jualnya pun tak hilang, patut mendapat acungan jempollers! Apalagi 36th hadir di tengah era dimana kualitas kadang dipandang hanya layak jadi nomor sepatu dan komersialisme menjadi topi sebagian besar petinggi perusahaan rekaman. Dalam kacamata orang awam musik seperti saya sekalipun, ‘ruh’ album ini jelas ada di depan kebanyakan band-band Indonesia yang nama dan lagu-lagunya belakangan banyak dihafal bahkan oleh anak2 usia PAUD!
Terakhir, saya punya catatan khusus tentang nomor gagah PRAHARA TIMUR TENGAH. Nomor ini bisa dilihat sebagai representasi dari kelebihan GB: upaya akulturatif memadukan jenis, warna dan nuansa musik, serta penyampaian kritik sosial yang proporsional, plus penghayatan nilai-nilai spiritual yang standart. Balutan warna ‘irama padang pasir’ dalam lagu ini nyata ditunjukkan oleh soliditas rythm Ian Antono, cabikan bass Donny Fattah, dan gebukan drum Yaya Moektio yang membantuk ‘hard rock gambus bersound berat’ dengan baluran ‘magis’ khas Iron Maiden serta sedikit ‘sentuhan’ ryhtm se’mistik’ INNUENDO-nya (lagi2) Queen (1991).
Dan liriknya yang sungguh ‘tak lumrah’ (di bagian reffrein) semakin mengokohkan bahwa lagu ini benar-benar bukan lagu sembarangan (salut untuk Bang Ali Akbar sebagai penulis liriknya!): Wa Laa yughoyyir, hatta tughoyyir/ Wa Laa yughoyyir, hatta tughoyyir/ Wa Laa yughoyyir, hatta tughoyyir/ Wa Laa yughoyyir, hatta tughoyyir/ Tuhan Yang Maha Kuasa/ Tak pernah bangga saat memberi/ Tak perlu ijin saat mengakhiri/ Jagalah bumi penuh cinta/ Cegahlah bumi dari prahara/. Untaian lirik dahsyat ini --seolah— menegaskan tafsirul āyat bil āyat sesuai interpretasi mayorits mufassirin --sebagai wujud taadduban-- bahwa “Allah tak akan ‘merubah’ (yakni mengganti atau mencabut) nikmat (ingat, bukan ‘nasib’!) suatu kaum (menjadi niqmah alias prahara), sampai mereka ‘merubah’nya sendiri”. Subhānallāh, wa Huwa A’lam bish shawāb...





