Minggu, 06 November 2011

9 Worst Man-Eaters #07 - KESAGAKE: MONSTER JEPANG SEBENARNYA

Saat mendengar kata “monster” dan “Jepang”, barangkali dalam benak kita akan segera tergambar Gojira; monster fiktif yang menteror layar-layar bioskop di Jepang sejak 1950-an; atau puluhan monster lain yang biasa menjadi lawan para superhero Jepang semacam Megaloman dan Ultraman. Namun monster Jepang yang sebenarnya dan yang paling mematikan adalah seekor beruang cokelat (mengingat insiden ini terjadi di Jepang, maka kemungkina besar yang dimaksud adalah Beruang Cokelat Amur - Ursus arctos lasiotus). Ia menjadi momok paling menakutkan di Hokkaido pada kisaran Desember 1915.

Pada masa itu, desa Sankebetsu, yang merupakan salah satu desa dalam wilayah Hokkaido, Jepang, adalah sebuah desa yang luas namun dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. Hutan di sekitar desa itu adalah habitat bagi beruang cokelat, jenis beruang terbesar kedua setelah beruang kutub. Salah satu beruang tersebut, yang sangat dikenal oleh warga desa, adalah jantan berukuran besar yang mereka panggil dengan nama Kesagake. Kesagake acapkali turun gunung dan memasuki desa Sankebetsu untuk menjarah hasil panen jagung penduduk. Dianggap sebagai pengganggu, Kesagake pernah ditembak oleh 2 penduduk, membuatnya lari ke gunung dalam keadaan cedera. Penduduk desa mengira, mereka telah membuat beruang itu belajar takut pada manusia dan menjauh dari ladang. Tapi mereka salah!

Pada 9 Desember 1915, si Bola Bulu Cokelat Kesagake muncul lagi, dan mendobrak masuk ke sebuah rumah keluarga petani bernama Ota. Di rumah itu hanya ada Abe Mayu, isteri Ota, dan anak mereka yang masih bayi. Setelah membantai si bayi, Kesagake beralih menyerang si Ibu. Wanita itu mulanya melawan dengan melempari si beruang dengan obor, namun sia –sia belaka. Kesagake menyeretnya masuk hutan. Saat penduduk tiba di rumah itu, mereka hanya menemukan darah membasahi dinding dan lantai. 30 orang penduduk mengejar Kesagake ke hutan dan berhasil menyusulnya. Mereka juga berhasil menembak beruang itu, namun gagal membunuhnya. Pada akhirnya, terpandam dibalik timbunan salju di bawah sebatang cemara, mereka menemukan jenazah, tepatnya, sisa jenazah Abe Mayu, yang hanya berupa potongan kepala dan bagian kaki wanita malang itu (sebagaimana umumnya beruang menyimpan sisa buruannya untuk disantap lain waktu).
Nikmatnya daging manusia membuat Kesagake ketagihan. Dia kembali ‘berkunjung’ ke pertanian Ota. Penduduk yang telah bersiaga segera mengejarnya. Namun mereka terkecoh. Kesagake menyelinap kembali ke perkampungan yang kini tak terjaga itu. Ia menyerang rumah keluarga Miyake dan melukai semua penghuniya. Beberapa orang memang dapat menyelamatkan diri, namun, 2 orang anak kecil dan seorang wanita hamil terbunuh. Saat penduduk desa menyadari kesalahan mereka dan bergegas kembali ke desa, mereka hanya menemukan mayat-mayat bergelimpangan berkubang darah.

Hanya dalam 2 hari, Kesagake telah membantai enam orang!

Seorang pemburu terkenal spesialis beruang, Yamamoto Heikichi, didatangkan. Mulanya ia menolak, karena, menurutnya, beruang yang didentifikasi penduduk sebagai Kesagake telah terbunuh sebelum penyerangan di Sankebetsu. Namun penduduk bergeming. Si pemburu pun bersedia ikut serta memburu si beruang. Dan dialah yang akhirnya berhasil membunuh Kesagake. Dari bangkainya, diketahui bahwa beruang itu memang berukuran monster: panjang nyaris 3 meter dan berbobot 380 kg.! Dari perutnya, dikeluarkan sisa-sisa tubuh manusia.

Horror ini belum sepenuhnya berakhir. Seorang korban selamat akhirnya meninggal karena cedera yang terlalu parah. Para penduduk pun memilih meninggalkan desa Sankebetsu dan menjadikan desa itu sebagai kota hantu. Bahkan sampai saat inipun, insiden Sankebetsu tetap tercatat sebagai serangan binatang buas paling brutal dalam sejarah Jepang. Dan novel berjudul “The Bear Wind” (1965) karya Yukio Togawa serta “The Bear Storm” (1977) karya Akira Yoshimura mengabadikan insiden tragis ini.

KOMENTAR SAYA: Secara fisik, beruang cokelat memang yang terbesar di antara para beruang; kedua di bawah beruang kutub (Ursus maritimus). Hampir semua jenis beruang adalah omnivora (kecuali beruang kutub yang diyakini merupakan karnivora tulen). Beberapa jenis beruang (khususnya yang berukuran kecil) malah lebih memilih buah-buahan dan tumbuhan untuk dikonsumsi walaupun tentu mereka tak menolak disuguhi daging. Sedangkan beruang-beruang yang berukuran lebih besar lebih dikenal sebagai pemburu. Beruang kutub terkenal dengan kesukaannya memangsa anjing laut, sementara beruang cokelat (termasuk beruang grizzly) menyukai ikan salmon, rusa dan babi hutan.



Berdekatannya habitat beruang dengan hunian manusia biasanya menjadi pemicu munculnya kasus serangan beruang atas manusia. Di beberapa daerah di Amerika Utara, beruang-beruang yang berkeliaran di jalan-jalan raya dan halaman rumah merupakan pemandangan yang biasa. Para beruang ini suka sekali mengaduk-ngaduk tong sampah. Namun di tempat itu malah amat jarang terjadi serangan fatal; manusia dan beruang di sana sudah bisa menerima kehadiran masing-masing dan cukup ada rasa saling hormat di antara mereka. Kalupun ada yang merasa terganggu, penduduk tinggal menghubungi sebuah unit khusus penanganan binatang liar. Merekalah akan menangani ‘pengunjung’ yang tak dikehendaki itu dengan baik tanpa harus ‘menyinggung perasaan’nya.

Nah, kasus di Sankebetsu bisa dijadikan illustrasi dari resiko hilangnya rasa saling menghormati itu.

Selain itu, nampaknya peristiwa itu terjadi pada musim dingin. Walaupun beruang cokelat bukanlah jenis beruang yang berhibernasi (tidur panjang) secara penuh di musim dingin, namun di musim ini mereka lebih membatasi aktifitas dan memilih menyembunyikan diri di tempat-tempat terlindung semacam gua, ceruk gunung dan semacamnya. Kecuali saat benar-benar lapar, barulah beruang-beruang ini bergentayangan. Dan Kesagake barangkali adalah salah satunya.

Dari situ kita bisa belajar, bahwa melukai seekor beruang yang kelaparan bukanlah tindakan bijaksana.

(Bersambung ke Man-Eaters # 06, In Syâ' Allâh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar