Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2010

KING DIAMOND: The Eye (1990)

THE BEGINNING

Bermula pada suatu malam, sekitar 1993 atau 1994-an, seorang saudara berkunjung ke kamar kos saya di daerah Sapen, Jogjakarta. Waktu itu ia membawa dan menunjukkan sebuah kaset band heavy metal (milik seorang saudara lain) seraya berkata: “Nih, musiknya bagus. Dan dari liriknya, sepertinya isi album ini berupa cerita dan berdasar kisah nyata. Bener ga ya?”

Dan dari kaset bersampul warna dominan ungu dengan gambar liontin bersayap dan ‘bola mata’ di tengahnya itulah, saya (mulai) dapat memandang dunia horor dan segala aura mistis di balik kegelapannya dalam perspektif lain: heavy metal bercorak gothic kelam…



THE EYE

Bagi saya, inilah karya King Diamond ‘paling’ masterpiece (setelah ABIGAIL)!

Dirilis pada Oktober 1990 (dan kabarnya tak diikuti promo tour sebagaimana biasa), THE EYE benar2 menyuguhkan atmosfer kegelapan total dari hulu ke hilir.

Kerja apik duo gitaris, Andy LaRocque dan Pete Blakk berhasil menajamkan unsur ghotic yg menjadi basis utama album ini (walaupun terasa sekali, betapa kecanggihan Andy mampu mengontrol hilir-mudik seksi guitar-line. Belum lagi bahwa album ini menunjukkan kontribusi substansial KD-Andy di area song-writing).

Namun ada dua hal yang cukup menyedihkan: Pertama, drummer Snowy Shaw, yang baru pertama kerja bareng band KD, ternyata tak bermain di seluruh nomor. Sebagian drum-line dalam album ini adalah hasil drum-machine. Namun, dengan porsi sekedarnya itu, Shaw menunjukkan bahwa ia paham betul, bagaimana ‘mengawinkan’ drum-set di hadapannya dengan konsep horor a la KD sehingga menjadi ‘pasangan harmonis’. Walaupun ia --bersama Hal Patino (basis)-- ditendang setelah album ini kelar (karena faktor rendahnya antusiasme dan kemungkinan masalah narkoba), toh ‘kelentikan’ lengan dan kakinya membuatnya kembali diajak bareng saat Mercyful Fate menggarap IN THE SHADOWS (1993) dan TIME (1994).

Kedua, basis Hal Patino: permainan bassnya sungguh tak maksimal, bahkan nyaris tak terdengar di sepanjang album (mungkin ia perlu belajar pada juragan “itu”, bagaimana cara ‘menjajah’ sebuah album dgn bunyi bass, :D)

Di atas semua itu, optimalisasi Roberto Falcao di seksi keyboard dan penggunaan instrumen biola benar2 berhasil menterjemahkan suasana kelam abad XV-XVII di negeri Prancis dengan keren; mengiris-ngiris gendang telinga dan benak yang sejak awal sudah dijejajali fakta bahwa “main part of this album is a f***in’ blooded true story!”.

Nomor pembuka, “Eye of The Witch”, menyuguhkan melodi berat dengan kombinasi suara organ gerejawi yang membentuk kesan seram yang kental. Juga chorus yang keren.

Lalu nomor berikutnya, “The Trial”, semakin menggelapkan suasana. Riff gitar yg mengawali nomor ini seolah mengajak kita melompati waktu, menuju lorong gelap dan ruang2 penjara bawah tanah yang pengap dan busuk. Di nomor ini pula, KD menunjukkan keahlian mendongengnya; suara falsettonya dgn mantap memerankan tiga karakter sekaligus: sang penghukum, si korban dan narator sendiri.

Proses lahirnya kutukan kalung The Eye dituturkan dalam nomor berikutnya, “Burn”. Dengan musik pembuka menggelegar, nomor ini menawarkan banyak momen keren dalam komposisi musiknya, disamping sebagai nomor tercepat dalam album ini.

Lalu nomor “Two Little Girls” menyusul. Hanya dengan denting kelam tuts2 keyboards dan suara KD, nomor ini –menurut saya—berhasil merepresentasikan arti kata “horror”. Walau slow, namun nomor ini amatlah jauh dari definisi balada. Dan lengkingan KD lewat phrase "No let me have it!", sungguh kecerdasan yang mematikan!

Kegarangan dark-gothic heavy metal juga ditunjukkan oleh nomor berikutnya, “Into The Convent”, yang endingnya begitu bertenaga; dan “Father Picard”, yang begitu dahsyat, terutama pada guitar-line. Duo Andy-Pete bermain dengan agresif, dan hasilnya, interlude yang begitu memorable dan layak Anda dijadikan ringtone hape!

“Behind These Walls” menyusul dgn style paling standart namun tak layak dilewatkan. Intro yang dimainkan Roberto Falcao menarik imaji kita ke suasana kontradiktif; pagi yang cerah tapi bernuansa kusam serta mengandung ketidakpastian. Nomor yang pantas difavoritkan!

“The Meetings” mungkin termasuk nomor yang membuat kening saya berkerut. Komposisinya yang terlalu rumit untuk mengiringi sebuah ‘dongeng’ menjadikan nomor ini sedikit ‘ganjil’ walaupun tidak lalu berarti menjemukan. Apalagi ada sayatan Andy yang menggelegar dan ber’sahut’2an dibagian endingnya, keren!

Berikutnya, menyusul karya Andy, “Insanity”. Di nomor instrumental ini, kombinasi gitar elektrik Andy dengan petikan akustik Pete yang ‘hening’, berhasil membangun atmosfer kegetiran secara tuntas. Pantas jika ia menjadi pengantar menuju nomor berikutnya: “1642 Imprisonment”. Komposisi dalam nomor ini nampaknya digarap tidak terlalu diniatkan sebagai pengaduk emosi. Wajar, karena lewat lagu ini, KD hanya ingin menceritakan akhir dari sebuah drama ‘lucu namun tak pantas mendapatkan bahkan sebuah senyumpun’.

Akhirnya, “The Curse” menutup rangkaian perjalanan lintas waktu KD. Digarap dengan unsur power-metal yang kental dan racikan ritme2 mistis padang pasir, nomor ini sungguh gagah. Komposisinya seolah menjembatani genre pure heavy metal dengan thrash dan speed. Pun, lagu ini cukup merepresentasikan secara vulgar keseluruhan tema, genre, story-line dan kegelapan album THE EYE. Terfavorit diantara yang lain!


THE DARK SIDES

Album ini bercerita tentang sebuah kalung yang disebut “The Eye (Sang Mata)”. Kekuatan magis kalung itu dapat menyeret jiwa pemakainya tanpa sadar melanglang melintasi waktu menuju masa silam, sehingga ia dapat melihat peristiwa apapun yang pernah dilihat Sang Mata.
Dan uniknya, hampir seluruh bagian kisah dalam album ini adalah kisah nyata, tentang perburuan para penyihir dan kejahatan seksual dengan setting Prancis antara tahun 1450-1670 (kecuali kisah tentang kalung THE EYE, yg murni fiksi).

Karakter utamanya adalah:

KING DIAMOND: Narator

NICHOLAS DE LA REYMIE: Kepala Penyidik di Pengadilan Kristen (utk) Hukuman Bakar (Chambre Ardente), Kota Paris, Prancis.

JEANNE DIBASSON: Tertuduh penyihir.

MADELEINE BAVENT: Biarawati Prancis berusia 18 tahun yang masuk dan menjadi anggota Biara Louviers pada 1625, setelah sebelumnya mengalami pelecehan seksual oleh seorang pendeta. Wanita ini meninggal di penjara pada 1647.

Pdt. PIERRE DAVID: Kepala Pendeta di Biara Louviers. Jabatan itu dipegangnya sampai ia meninggal pada 1628.

Pdt. MATHURIN PICARD: Kepala Pendeta pengganti Pdt. David, dari 1628 sampai kematian menjemputnya pada 1642. Saat sakit, ia mengupayakan banyak cara untuk dapat memperkosa Madeleine.


-PROLOG-

Suatu malam di musim panas…

Langit begitu kelam dan awan, betapa gelapnya, ketika seorang pria (sang narator) tampak termangu. Sebelah tangannya memegang sloki anggur sedangkan tangan yang lain menggenggam erat seuntai kalung yang baru saja ia temukan; kalung dengan liontin berbentuk mata dan sepasang sayap di kedua sisinya (belakangan diketahui bahwa kalung itu adalah milik dan dikuasai roh seorang penyihir wanita).

Dari arah kegelapan, bisikan roh2 jahat alam gaib riuh rendah memasuki telinganya, mengendalikan jaringan otaknya, lalu memaksa sepasang matanya agar menatap langsung pada bagian berbentuk mata di liontin itu.

Halilintar dan petir bergulung-gulung, menghantar deras hujan yang menderu, seolah roh2 itu bersorak-sorai, saat mendadak, pria itu merasakan kehampaan total dalam jiwanya.
Sekujur badannya membeku. Matanya nyalang didera terror.
Pikiran dan jiwa si malang ini sepenuhnya telah berada dalam pengaruh Mata Sang Penyihir, yang dengan kejam menyeretnya menuju masa silam…


-I-
Paris, 1450…

Pengadilan (utk) Hukuman Bakar tengah berlangsung, dengan hunjaman2 tuduhan mengiris hati dari sang penyidik Nicholas de La Reymie atas si tertuduh penyihir, Jeanne Dibasson:

“Jeanne Dibasson, ketahuilah, di hadapan Pengadilan Bakar ini, Anda didakwa sebagai penyihir. Mengakulah! Kita punya banyak cara untuk memaksa Anda bicara. Nah, bagaimana pembelaan Anda?”

Dengan setengah histeri, si tertuduh menjerit lengking: “Saya tak pernah menyakiti seorangpun! Saya menentang (tuduhan) ini!”

Akhirnya, La Reymie memerintahkan pada para petugas pengadilan: “Bawa penyihir ini ke penjara bawah tanah untuk diuji. Keluarkan juga sekalian jarum2 itu. Kerjakan!”

Dan Jeanne pun mereka bawa ke penjara bawah tanah, yang begitu pengap dan busuk sampai ke setiap sudutnya. Jeanne mereka baringkan dilantai setelah terlebih dulu ditelanjangi. Ah, mereka punya maksud2 lain rupanya…

La Reymie menyusul masuk, dengan mata berbinar-binar memandangi Jeanne.

“Jeanne, kau sungguh mempesona,” desah La Reymie dgn nafas memburu, sementara jemari keriputnya secara kurang ajar mulai menjamahi bagian2 tubuh Jeanne.

Dan selanjutnya, puluhan jarum yg terlihat berkilau dalam gelap tiba2 saja telah menancapi sekujur tubuh Jeanne. Darah membanjir. Wanita itu mulai melemah kini, lunglai, tak berdaya, menahan derita yang tak lagi sanggup dituturkan…

Dengan suara lirih menahan perih, ber-kali2 Jeanne menbantah segala tuduhan atas dirinya. Namun manusia2 buas di sekitarnya mana mau melepaskan begitu saja mangsa mereka. Bahkan dengan pongah, La Reymie meradang:
“Kita adalah para pelayan ‘Tuhan’. Kita percaya adanya iblis, dan tandanya terlihat jelas pada dirimu! Mengakulah Penyihir!”

Namun sebenarnyalah, tanda2 (bahwa Jeanne bersekutu dengan iblis) itu tidaklah muncul; tidak ekor, tidak tanduk, tidak pula kuku kuda! Lalu, La Reymie, mana buktinya?

***

Vonis telah dijatuhkan: Bakar!

Be-ramai2 mereka menggiring Jeanne ke sebuah puncak bukit, untuk (melaksanakan) sebuah pembunuhan atas nama ‘tuhan’.

Warga menyemut, dan tanpa simpati, mereka memandangi Jeanne Dibasson yang terikat erat pada sebatang tonggak kayu dengan tumpukan kayu bakar di sekelilingnya.

Para pendeta berbaris rapi, lalu serempak memberi perintah: “Nyalakan apinya!”

Api berkobar.

Ganas dan liar. Seliar tubuh Jeanne yang meronta-ronta sengsara.

Namun sang api tak mau kompromi. Dengan suka cita lidahnya mulai melahap kaki2 Jeanne. Bau sangit daging terbakar sontak memenuhi udara malam.


“Hanguslah kau malam ini, hai Anak Iblis! Hanguslah kau malam ini!”, demikian sorak sorai dan teriakan2 membahana, terdengar seolah ingin mengatasi gemuruh api yang membubung semakin tinggi. Sedangkan yang lain, sibuk memperlihatkan senyum menjijikkan di wajah licik mereka, mengiringi daging dan tulang yang mulai luruh menjadi abu.

Ya, mereka semua begitu sibuk, sangat sibuk dengan ‘pesta pora’ itu, sehingga mereka luput memperhatikan satu hal: Kalung di leher Jeanne, secara ajaib terangkat lalu menghunjam ke sepasang matanya!


Mendadak, kilat menggelegar!

-II-

Kejap berikutnya, aku melihat dua gadis kecil, tengah bermain bersama.

Seorang, dengan jemari yang kotor, asyik memainkan boneka rusaknya. Sedang yang lain tampak tengah menggali tanah. Hmmm… mereka rupanya akan memainkan sebuah permainan keji tak bernama, di atas…

Oh, tidak!

Kalian jangan bermain di situ!!!

Jangan! Jangan di atas bekas tonggak pembakaran sang penyihir!

Oh, jika saja mereka tahu, apa yang tersembunyi di bawah tanah tempat mereka bermain… Oh, mereka tertawa-tawa, mereka mengira mereka tengah bergembira… Mereka…

Terlambat!

Salah seorang tengah memungut seuntai kalung dengan liontin bersayap, dari tumpukan abu sisa sang penyihir!

Temannya tiba2 berseru: “Berikan padaku!”.

Ia rampas kalung itu tangan si penemu, dan detik berikutnya, ia diam terpaku. Dengan nafas tertahan, ia menatap tepat ke ‘mata’ sang penyihir, dan...

Dan ia melihatnya!

Melihat kengerian, yang seketika membuat gadis malang itu tercekik, sekarat…

Oh, seandainya mereka tahu, apa yang tersembunyi di bawah tanah tempat mereka bermain…
Pastilah mereka masih tertawa riang, dan menyaksikan mentari tenggelam…

Dan, jiwaku kembali melanglang…

-III-

Louviers, Prancis, antara tahun 1625-1642…

Madeleine Bavent, dengan keinginan menghindari masa lalu sekaligus membersihkan diri, memutuskan menjadi biarawati dan memasuki Biara pimpinan Pdt. Pierre David. Dengan senyum ceria, seraya berharap dapat menyembunyikan dosa2nya, Madeleine masuk menjadi anggota biara, tanpa menyadari, kesalahan fatal yang bakal terjadi di tempat itu.

Pdt. David, dengan senyum di wajah mesumnya, menyambut Medeleine:

“Selamat datang, Saudari. Akulah Kepala Pendeta-mu. Berlututlah, dan –jika kau mau- berdoalah. Di biara ini, akulah Tuan-mu. Cium salibku ini, atas nama…"

Di lain saat, Pdt. David berkata:

“Ayolah, Saudari. Dalam persekutuan ini kau harus telanjang. Ayolah, bentangkan mimpi terliarmu. Inilah saat pesta dimulai!”

Dan kehormatan biarawati berusia 18 tahun itupun, tergadaikan…

Lalu, malam itu juga, di salah satu sudut gelap biara, Madeleine menemukan”Sang Mata”, tergeletak di atas lantai batu yang dingin. Dan entah kekuatan apa yang membuat biarawati ini memakainya. Kemudian ia memperlihatkan kalung itu pada Si Pendeta.

Pengaruh sang kalung segera terlihat. Kekuatan aneh tiba2 menyergap saraf2 otak Pdt. David, memaksa sepasang matanya untuk memandang tepat pada “mata” kalung itu.

Lalu, esoknya, Pdt. David tewas.

“Mata” kalung itu, kembali memakan korban.

Dan satu jiwa, akan segera kembali ceria…

***

Kepala Pendeta baru bernama Pdt. (Mathurin) Picard itu telah tiba. Madeleine dan beberapa biarawati lain akan bertemu dengannya malam ini…

Dan malam itu, Pdt. Picard menyampaikan sambutannya, di hadapan Madeleine dan 3 orang biarawati lain:

“Selamat datang di markasku, Saudari sekalian. Masuklah, masuklah dalam cahaya. Aku Pdt. Picard, mengganti Pdt. David. Banyak hal akan berubah. Dan kalian adalah empat orang yang telah dipilih ‘tuhan’ untuk menjadi malaikat2-nya. Minumlah anggur manis suci-ku ini…”

Terpesona, biarawati2 itu meneguk anggur yang disuguhkan, tanpa mengetahui, bahwa Pdt. Picard telah mencampur anggur itu dengan sejenis bubuk putih!

Para biarawati itu mulai bertingkah ganjil, dengan sorot mata berkilau penuh gairah…

Mulai saat itu, setiap hari Minggu, Pdt. Picard sepenuhnya mengendalikan pikiran mereka!

***

Ah, ada apa di balik dinding2 Biara ini?

Madeleine berjalan sendirian, memetik bunga2 di bawah siraman matahari. Pagi itu sebenarnya indah. Burung berkicau riang. Namun Madeleine seolah tak mendengarnya. Pun ia tak melihat seorangpun biarawati lain.

Pada kemana mereka?

Oh, butakah Madeleine, ataukah pikirannya tengah gelap?

Ia tak bisa berpikir normal. Yang tertanam di benaknya, hanyalah erangan2 dan jeritan2 menjijikkan malam itu, berasal dari penjara bawah tanah yang dingin…

Lonceng berdentang. Waktu untuk persekutuan kembali tiba.

Hmmm… Pdt. Picard, benarkah dia itu seorang teman?

***

Malam itu begitu pekat.

7 sosok tubuh tampak menyusuri jalanan kota Louviers; Pdt. Picard, dua orang pendeta lain, beserta Madelaeine dan tiga temannya. Persekutuan jahat itu hendak menuju tempat pertemuan2 yang biasa mereka lakukan secara sangat rahasia; di sebuah ruangan yang begitu suram, hanya diterangi cahaya beberapa lilin dan sebuah altar pemujaan dengan salib tergantung tinggi di atasnya.

Dan ritual keji itu pun, mulailah…

Madeleine, dengan pikiran kosong dan buram tak ubahnya seorang asing di tempat itu, melangkah masuk, membawa sesosok bayi yang menangis meraung2 seolah mengutuk apa yang akan terjadi berikutnya.

Seseorang akan mati.

Para biarawati lain mulai ‘berdoa’…

Madeleine dan biarawati yang lain, bersama-sama mengangkat bayi itu tinggi2, mengarahkannya ke salib di atas altar. Dan Pdt. Picard, bersama kedua pendetanya, mendekat, dengan palu dan paku…

Raungan sang bayi mendadak senyap, digantikan deru darah yang memancar deras!

***
Kegilaan berdarah, yang mendekap erat para penghuni Biara Louviers, harus berakhir, dalam hukuman penjara pada tahun 1642.

Betapa tidak!

Segala pengorbanan tumbal, rituil, rahasia, dan anggur yang ganjil, mengiringi pertemuan2 yang berulangkali mereka lakukan. Pdt. Picard seolah ketagihan mencabut nyawa demi nyawa bayi tak berdosa. Ia, dan semua yang terlibat dalam permainan kejinya, benar2 gila.

Dan dibalik terali2 besi penjara, satu-satu mereka mengalami kehancuran jiwa. Toh para biarawati itu tak mau dipersalahkan, dengan mengakui adanya kendali pikiran yang keji atas mereka.

Apapun, di penjara itu pula, Sang Maut dengan senang hati menjemput mereka…


-EPILOG-

Kutukan Sang Mata, akan membawamu menjelajah masa!

Semua (seolah) hanya kemarin terjadinya. Petir yang membelah langit, dan hujan yang mendera, sungguh membuatku gila. Kutukan ini begitu menyiksaku. Jiwaku perih.

Tapi ingatlah, kawan!

Kekuatan kalung ini, mutlak milikku. Hanya akulah yang bisa mempergunakannya. Dengan kekuatannya, aku bisa mengetahui apapun yang kau kerjakan, sekalipun aku jauh darimu.

Sekali lagi, milikku, MILIKKU!!!

©2010, August, 14th_z@envanhamme
Diolah dari berbagai sumber dan keterbatasan untuk berbahasa Inggris yang baik, hiks...

Jumat, 06 Agustus 2010

KING DIAMOND: VooDoo (1998)

Maaf kalo saya masih 'ketagihan' ngoceh seputar KING DIAMOND. Dan kali ini saya (mencoba) bicara tentang full-lenght album ke-8 mereka; VOODOO, yang dirilis pada Pebruari 1998.

Pada mulanya, album yang akan dirilis tahun itu berjudul “The Plague”. Namun semakin ceritanya berkembang, semakin terlihat kemiripannya dengan THE EYE (1990). Akhirnya King Diamond-pun menghentikan penulisan cerita untuk album tersebut. Saat ia tengah mencari-cari topik baru, Chris Estes (basis), menawarkan topik dunia 'hitam' voodoo. Chris, yang saat itu tengah menjalani kuliah, meminjam lima buah buku tentang voodoo dari perpustakaan dan diperlihatkannya pada KD. Setelah ‘melahap’ kelima buku tersebut, KD memutuskan untuk menggarap album baru dengan topik voodoo. Di samping itu, ia meminta temannya, Dimebag Darrel (Gitaris Pantera, yang pada 2004 lalu tewas ditembak saat beraksi di panggung) untuk menyumbangkan sedikit sayatan gitarnya dalam lagu “Voodoo” yang sekaligus menjadi judul album. Dan dalam sebuah interview, KD mengatakan bahwa, suatu saat, mungkin ia akan membuat sekual untuk album Voodoo ini, sebagaimana “Them" (1988) - Conspiracy (1989) dan Abigail (1987) - Abigail II: The Revenge (2002). Dan ending story-line album ini memang membuka peluang untuk itu.

Konsep musik dalam album ini mungkin akan mengingatkan kita pada "THEM" (1988) dan sekuelnya, CONSPIRACY (1989). Namun muatan substansinya lebih memiliki kesamaan dengan ABIGAIL (1987). Paling tidak, pesan moral yang ingin disampaikan KD lewat “Voodoo” dan “Abigail” adalah (kira-kira) : JANGAN MAIN-MAIN DENGAN SESUATU YANG TIDAK KAU KENAL ! Lihat saja; betapa kesulitan dan teror yang dialami keluarga Jonathan Lafey (dalam “Abigail”) dan keluarga David Lafayette sama-sama merupakan resiko dari satu sikap: meremehkan sebuah peringatan awal!

***

PROLOG

Kisah ini, Kawan, bermula pada musim panas 1932, saat David Lafayette dan isterinya Sarah yang tengah hamil serta Kakek Lafayette yang buta, pindah ke sebuah rumah tua besar di pinggir sungai Mississippi; tepatnya di Baton Rougue Utara, Louisiana. Rumah tua itu lebih dikenal dengan nama Rumah “LOA”. Konon rumah itu milik Jean Le Noir, seorang "houngan" (pendeta voodoo) yang tewas dalam sebuah pertarungan dengan Bocor. Ia kemudian dikuburkan di sebuah pekuburan di belakang rumah besar itu. Karena di sana juga dikuburkan para praktisi voodoo yang lain, di antaranya adalah Baron Samedi, maka pekuburan itu dikenal sebagai tanah pekuburan voodoo. Penduduk setempat menganggap rumah itu angker, karena sesekali masih terlihat arwah si Pendeta Voodoo bergentayangan di dalamnya. Celakanya, kisah berbau mistik seputar rumah ini tidak diketahui oleh keluarga Lafayette yang malang…

***

Keluarga Lafayette, terutama David, mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres saat malam-malam mereka, terutama saat rembulan penuh, terganggu oleh bunyi genderang voodoo dari arah hutan di belakang rumah mereka. Akhirnya rapat keluarga kecil itu memutuskan: pekuburan voodoo di belakang rumah harus digusur! Salem (dibaca seperti nama salah satu jenis ikan), pelayan di rumah itu, menentang rencana tersebut. Ia mengingatkan, para penghuni kuburan itu akan marah lalu bangkit dan menghantui mereka. Namun peringatan itu oleh David dianggap tahayul belaka. Ia tetap akan melaksanakan rencana penggusuran itu. Lelaki ini tidak tahu bahwa ada empat orang yang bersedia mati untuk mempertahankan keberadaan pekuburan tua itu. Mereka adalah si Hitam Jangkung Dr. Le Croix, seorang praktisi voodoo yang disegani; Madame Sarita, wanita separuh baya pemilik ular kutukan, yang hampir sekujur tubuhnya dihiasi untaian perhiasan dan manik-manik berkekuatan magis; Lula Chevalier, seorang wanita muda penari voodoo yang jarang terlihat; dan Salem sendiri.

Yang tidak diketahui oleh keluarga Lafayette adalah bahwa voodoo sudah mendarah daging dalam diri Salem (dan teman-temannya tentu saja). Keempat orang ini biasa berkumpul seminggu sekali di pekuburan tua voodoo untuk mengadakan tarian dan pesta pemujaan terhadap Dewa Voodoo yang sangat mereka sanjung, Damballah. Selain itu, para penghuni pekuburan voodoo, terutama Baron Samedi, adalah para leluhur pujaan mereka.

Demi mendengar rencana penggusuran itu dari Salem, mereka, tentu saja, marah luar biasa!

Hanya ada satu cara untuk menghentikan rencana itu; melenyapkan keluarga Lafayette dengan kekuatan voodoo yang mereka miliki. Lalu sarana untuk sebuah ritual voodoo-pun segera disiapkan: seekor ular kutukan dan segenggam tanah pekuburan. Dan Salem ditunjuk sebagai pelaksana prosesinya. Malam itu juga rangkaian prosesi itu dilaksanakan.

Mula-mula Salem menguburkan ular kutukannya di salah satu bagian dalam Rumah LOA. Lalu keesokan paginya ia membuat "a la carte" (masakan dengan bahan utama telur) sebagai sarapan pagi untuk ketiga tuannya, plus teh yang telah dicampur sedikit tanah pekuburan. Reaksi sarapan pagi itu segera terlihat siang harinya. David dan Kakek langsung jatuh sakit. Namun David jauh lebih parah. Ular kutukan Salem mematuknya. Jika si Kakek ‘hanya’ tidak sanggup bangun dari tempat tidur, maka David menggeliat-mengeliat dalam dekapan penderitaan dengan tubuh basah bersimbah keringat. Sementara Sarah tidak ikut bersantap pagi bersama seperti biasanya. Wanita malang ini tiba-tiba terserang flu. Dan ini menyelamatkannya dari pengaruh jahat masakan Salem.

Salem dongkol setengah mati. “Ah, satu orang sudah beres. Tinggal si tua dan wanita sialan itu!” pikirnya menggerutu.

Malam itu Salem dan ketiga temannya kembali berkumpul.

Kali ini mereka akan mengadakan upacara pemanggilan arwah Baron Samedi untuk membantu mencarikan jalan melenyapkan Sarah (rupanya mereka tidak lagi memperdulikan si kakek. Walau ia tidak celaka sebagaiman diharapkan, toh sakit yang dideritanya dan kebutaannya membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa). Upacara itu segera dimulai, sampai jauh malam…

Dan sang arwah benar-benar bangkit!

Bangkit dan langsung bersemayam dalam tubuh Dr. Le Croix, lalu lewat mulut dokter itu, sang arwah memerintahkan Salem agar kembali mengambil segenggam tanah kuburan Baron Samedi, arwah itu sendiri, dan Salem harus berusaha agar tanah itu dapat bersentuhan dengan Sarah saat ia tidur.

Keesokan malamnya Salem segera bertindak cepat. Tanpa suara, dengan segenggam tanah kuburan di tangan, ia berhasil menyusup ke kamar Sarah. Begitu berada di dalam, tanpa membuang tempo, Salem langsung mengucurkan tanah kuburan itu ke tangan Sarah yang tengah tidur lelap. Sekejap kemudian tubuh Sarah tampak menggeliat dan mengejang. Sepasang matanya membeliak namun yang terlihat hanya bagian putihnya. Lalu dari mulut wanita ini terdengar suara-suara asing.

Tiba-tiba Kakek Lafayette masuk (entah kekuatan apa yang membuat si tua ini sembuh lebih cepat). Salem pun cepat menyelinap pergi.

“Sarah, ada apa ?” tanya Kakek.

Tidak ada sahutan.

Yang terdengar hanya ceracauan mulut Sarah dalam bahasa pribumi. Namun bukan bahasa itu yang membuat si kakek mendadak tertegun dengan wajah pucat, tapi justeru suaranya. Ya, suara yang keluar dari mulut Sarah bukan suara seorang wanita, tapi sebuah suara berat parau. Suara seorang laki-laki!

Arwah Baron Samedi benar-benar telah menguasai tubuh wanita itu!

Saat berusaha menenangkan Sarah, Kakek menyadari bahwa kutukan tanah pekuburan tua kini menjadi kenyataan. Iapun berusaha menghubungi temannya yang memiliki keahlian mengusir roh, Pendeta Malone, untuk membantu mengusir roh jahat dalam diri Sarah. Dari seberang telpon, si pendeta berjanji akan datang.

Keesokan sorenya, barulah Pendeta Malone tiba.

Lalu dengan salib, Injil dan percikan air sucinya, pendeta itu berusaha mengusir roh jahat dalam tubuh Sarah. Ini bukanlah pekerjaan mudah. Sepanjang sore hingga jauh malam, pendeta itu berjuang mati-matian. Tengah malam, tubuh Sarah tiba-tiba berhenti bergerak dan terbanting di atas kasur. Sesaat kemudian terdengar desah nafas teratur… Ah, wanita ini tertidur rupanya. Akan halnya pendeta Malone, lelaki ini terbadai di atas kursinya. Keletihan lahir batin membuatnya cepat menyusul Sarah, terlelap.

Ia tidak tahu bahwa ternyata perjuangan hidup-matinya hanyalah suatu kesia-sian…

Sementara itu, di pekuburan voodoo, tampak Lula, dengan penuh hormat, menyerahkan sebuah salib besar kepada Dr. Le Croix. Sebuah salib yang aneh dan mengerikan karena penuh ditancapi paku-paku besar dengan bagian lancipnya mencuat keluar. Salib itu milik mendiang Baron Samedi yang sehari-harinya terpajang di salah satu dinding Rumah LOA. Secara diam-diam, pada saat berlangsungnya proses pengusiran arwah oleh Pendeta Malone, Lula berhasil mengambilnya. Kemudian si dokter menyuruh Lula untuk kembali ke rumah itu dan ia harus menyerahkan salib berbau maut itu pada Sarah. Lula segera berangkat. Beberapa menit kemudian, ia telah berada dalam kamar dimana Sarah dan Pendeta Malone sama-sama tertidur. Dengan cepat Lula menyelipkan salib berpaku Baron Samedi ke dalam genggaman Sarah, lalu wanita itu segera menyelinap pergi.

Sesaat kemudian tiba-tiba Sarah (yang sebenarnya masih dikuasai arwah Baron Samedi) bangkit terduduk. Lalu dengan gerakan kaku ia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kursi tempat Pendeta Malone. Sepasang mata Sarah yang terbuka nyalang tampak seolah dikobari api saat memandangi si Pendeta. Detik berikutnya, terdengar jeritan-jeritan ngeri dan kesakitan dari Pendeta Malone saat kedua tangan Sarah berulang-ulang mengunjamkan salib berpaku ke kepala Pendeta itu.

“Sarah, hentikan !” terdengar teriakan Kakek.

Salib di tangan Sarah jatuh berkerontang di lantai, menyusul Pendeta Malone yang tersungkur bersimbah darah…

***

Keesokan harinya, polisi dan paramedis berdatangan. Polisi-polisi itu tidak mendapat keterangan memuaskan dari Kakek yang kondisinya memang tidak memungkinkannya untuk mengetahui banyak hal. Namun justeru si kakeklah yang mendapat informasi mengejutkan dari polisi-polisi itu. Salah seorang polisi berkata: “Dulu di sini pernah ada seorang penggali kubur di Rumah “LOA” bernama Salem. Tapi ia telah mati beberapa tahun yang lalu. Dan... Eh, Anda tahu tidak. Ia dikuburkan di pekuburan tua itu!”

Si Kakek, terhenyak, pucat dan ngeri …

***

EPILOG

Rumah LOA dengan pekuburan voodoo tua itu masih berdiri tegak, pongah dan angker. Sedangkan keluarga Lafayette, setelah keluar dari rumah sakit, segera meninggalkan Louisiana dan pindah entah ke mana. Pendeta Malone pun berhasil diselamatkan dari kematian. Hanya saja apa yang dialaminya membuatnya menjadi seorang tua yang sangat penakut.

Belakangan hari tersiar kabar, di suatu tempat, ada seorang wanita yang baru melahirkan bayi. Yang aneh adalah, bayi itu ternyata berbicara dengan suara yang ganjil, suara seorang laki-laki!

Ah, dugaanmu benar, kawan. Wanita itu bernama Sarah Lafayette…

Dan... Oiya, apakah aku sudah memperkenalkan diri? Belum? Baiklah, kenalkan; namaku, Salem!

©2002, November, 29th_z@envanhamme
Diolah dari berbagai sumber dan keterbatasan untuk berbahasa Inggris yang baik, hiks...

Senin, 02 Agustus 2010

KING DIAMOND: ABIGAIL II: The Revenge (2002)

Masih tentang KING DIAMOND, saat ini saya pingin bicara tentang full-lenght album ke-10 mereka; Abigail II: The Revenge, terutama fokus pada karakter utamanya, ABIGAIL.

Selesai menyimak album ini, komentar saya adalah: Nampaknya KD tidak tahu bagaimana cara membuat album yang buruk! (Ah, just kidding. Tentu saja ia bisa. Tapi berharap saja itu tidak terjadi). Mungkin komentar tadi agak berlebihan. Tapi, that’s the fact! Mulai track pembuka, “Spare This Life” (dengan balutan keyboards dan kombinasi sound effects yang mengingatkan kita pada film-film horror bersetting klasik semacam Bram Stocker’s Dracula dan Sleepy Hollow) sampai track penutup, “Sorry, Dear…”, semakin menunjukkan eksistensi band KD sebagai band metal kugiran yang layak jadi panutan. Sayatan gitar Andy LaRocque (sebagai satu-satunya musisi yang masih ‘setia’ menemani KD) seolah mengumumkan bahwa ia pantas disejajarkan dengan gitaris-gitaris metal papan atas layaknya Steve Vai atau Kirk Hammett-nya Metallica (Saya suka sekali interlude awal lagu “The Crypt” oleh Andy; bernuansa padang pasir tapi tetap berbau magis). Tapi sudahlah, penilaian Anda mungkin berbeda, that’s natural!

Anyway, penggarapan album ini dimulai setelah KD menyelesaikan “Follow The Tour (Promo tour-nya House of God)” dan ikutan proyek-album keroyokan yang dimotori Dave Grohl (Ex-drummer ‘mendiang’ Nirvana dan pimpinan kelompok Foo Fighters). Tepatnya, Abigail II: The Revenge mulai direkam pada 15 Mei 2001 di Nomad Recording Studio, Carrollton, Dallas, Texas, sampai September 2001 dan baru dirilis pada 2002.

Lagi-lagi bongkar-pasang personel mengawali lahirnya pembuatan album ini. Dimulai dengan di’PHK’-nya David Harbour. Alasannya sederhana namun cukup prinsipil. Basis bertampang gahar dan berewokan ini punya kebiasaan jelek di atas panggung: sering menantang penonton untuk bertarung! (kenapa manusia satu ini tidak ikutan Pride atau UFC saja, ya?). Untuk mengisi posisinya sebagai basis, masuklah Hal Patino yang memang pernah menjadi anggota KD dan ikut menggarap “Them” (1988), The Dark Side (1988), Conspiracy (1989) dan The Eye (1990). Lalu pada 8 Nopember 2000, John Luke Hebert (Drummer) hengkang dan posisinya diganti oleh Matt Thompson. Sedangkan pada 6 Januari 2001, giliran Glen Drover (gitaris) yang cabut. Dan Mike Wead menggantikannya. Mike Wead, sebagaimana Hal Patino, tidak merasa asing dengan ‘gaya’ KD, karena ia, di samping saat ini sebagai gitaris Mercyful Fate, juga pernah bersama KD pada masa antara The Eye dan The Spider’s Lullabye (1995). Sekedar catatan: di akhir lagu “Spirits”, Kol Marshall, yang ikut membidani lahirnya Abigail II: The Revenge, ikut meyumbangkan permainan gitarnya, mengiringi theme solo¬nya Andy.

Dari segi isi, album ini jelas merupakan sekuel dari Abigail (1987). Namun Abigail II: The Revenge terasa lebih ‘brutal’ dan ‘sadis’ (Coba perhatikan bagaimana pembalasan dendam Abigail pada Jonathan dalam lagu “The Wheelchair”). Dan, untuk menyegarkan ingatan kita, baiknya kita flashback dengan menyimak tahun-tahun perjalanan 'berdarah' Abigail Lafey yang dimulai sejak Abigail (1987)...

***

1777 : Isteri Pangeran De Lafey, Ny. De Lafey berselingkuh dengan seorang pelayan keluarga Sang Pengeran sendiri, Gregory O’Brian. Akibat perselingkuhan itu, si nyonya hamil. Pangeran baru mengetahui hal itu saat isterinya telah hamil 9 bulan. Sang Pangerang tentu saja murka besar. Ia tidak ingin seorang anak haram mewarisi rumah besar miliknya beserta seluruh harta kekayaanya. Maka pada suatu hari, tanggal 7 Juli (The 7th Day Of July 1777), ia bunuh isterinya dengan mendorong wanita itu dari atas puncak tangga menurun ke sebuah ruang bawah tanah. Nyonya De Lafey berteriak keras saat tubuhnya yang tengah hamil tua itu menggelinding jatuh dan baru berhenti ketika kepalanya menghantam lantai beton dengan keras. Wanita itupun tewas seketika dengan leher patah. Bersamaan dengan itu, janinnya terlahir, dalam keadaan mati. Oleh Sang Pangeran, janin itu diberi nama Abigail, lalu jasad janin itu diawetkan dan dikuburkan di sebuah kuburan yang dibuatnya di ruang bawah tanah itu juga. Sedang mayat si Nyonya dikuburkan dalam sebuah lubang di samping kuburan Abigail, lalu bagian atasnya dibeton kembali sehingga yang terlihat hanya ada satu kuburan di tempat itu; kuburan Abigail…

1780 : Gregory mengawini Liz Moore dan berputra tunggal: James O’Brian.

1782 : Pangeran De Lafey menikah lagi dengan Maureen Banks.

1786 : Maureen, dari perkawinanya dengan Pangeran De Lafey, melahirkan seorang putri: Julie Lafey.

1811 : Pengeran De Lafey meninggal dunia.

1818 : James O’Brian menjadi pimpinan 7 Penunggang Kuda Hitam. Pada tahun ini pula ia berselingkuh dengan Julie Lafey, putri mendiang Pangeran De Lafey. Dari perselingkuhan ini lahirlah Jonathan Lafey.

1845 : Jonathan mengawini Miriam Nathias. Pasangan ini kemudian memutuskan untuk pindah ke Rumah Kuno Besar warisan Pangeran De Lafey. Dan pada suatu malam, saat hujan musim panas mengguyur bumi, Jonathan dan isterinya tiba (Arrival) di rumah besar itu (A Mansion In Darkness). Sebelum sampai kerumah itu sebenarnya ia telah dihadang oleh 7 Penungang Kuda Hitam dan pimpinan mereka, James O’Brian yang juga ‘ayah’ Jonathan sendiri, memperingatkannya dengan sebuah kalimat “18 akan menjadi 9 jika kau tetap menempati rumah itu!”. Namun Jontahan yang tidak pernah mendengar riwayat berdarah rumah itu (disamping tidak tahu bahwa si lelaki berkuda adalah ‘ayah’nya), mengabaikan begitu saja peringatan yang dianggapnya membingungkan.

Dan peringatan itu benar-benar menjadi kenyataan!

Dalam rumah besar yang dipenuhi tanda2 maut (Omens) itu, Miriam (yang waktu itu berusia 18 tahun) benar-benar dirasuki roh Abigail (The Posession) yang (lahir-mati dalam usia 9 bulan, 68 tahun lalu dan kini) ingin menuntut balas. Wanita malang ini langsung hamil 9 bulan hanya dalam waktu semalam!

Untuk menghentikan upaya balas dendam Abigail (Abigail), maka atas anjuran roh kakeknya, Pangeran DeLafey (The Family Ghost), Jonathan harus membunuh Miriam dengan cara mendorong tubuhnya di tangga licin bawah tanah. Tapi malang. Abigail si Roh Jahat mengetahui rencana itu, dan bertidak lebih dahulu. Dalam keadaan dirasuki roh Abigail, Miriam mendorong Jonathan (sebagaimana dulu Pangeran De Lafey mendorong isterinya) dari puncak tangga (yang menuju ruang kuburan bawah tanah tempat Janin Abigail pertamakali dikuburkan oleh Pangeran De Lafey) hingga suaminya itu mengalami patah tulang yang parah. Dan malam itu juga Miriam meninggal bersama kelahiran kembali Abigail.

Saat Tujuh Penunggang Kuda Hitam (Black Horsemen) tiba di tempat itu, Si Bayi Abigail tengah mengunyah bagian-bagian tubuh jasad Miriam…

Oleh ketujuh penunggang kuda itu, Abigail segera dibawa ke sebuah kapel (gereja kecil) di tengah hutan lalu dipantekkan pada peti mati dengan tujuh paku perak; 6 paku untuk kedua tangan, lengan dan lutut. Sedang paku ketujuh ditancapkan tepat ke mulutnya sehingga diharapkan rohnya tidak akan pernah bangkit kembali (Funeral)…

1863 : Tahun kematian James O’Brian, tepat delapan belas tahun kelahiran kembali Abigail. Sebelum ajal menjemputnya, James , bersama kelompok 7 Penunggang Kuda Hitam, lebih dahulu melepaskan belenggu magis dengan mencabut ketujuh paku perak yang selama tujuh belas tahun menahan jasad Abigail. Lalu James membangkitkan roh si “janin terkutuk” yang sebenarnya saudari tidak sah-nya. Sebelum upacara pembebasan dilakukan, James O’Brian lebih dahulu berpidato dihadapan teman-temannya: “Abaikan bahwa apa yang akan kita kerjakan ini merupakan pelanggaran atas alam gaib. Yang kalian tahu hanyalah bahwa bocah iblis ini dikuasai roh Abigail. Kalian tidak pernah tahu bahwa ia adalah reinkarnasi dari saudari-tidak sahku yang lahir-mati. Roh Abigail bukanlah roh yang jahat, tapi bukan pula roh yang baik. Yang ingin dilakukannya hanyalah menuntut balas. Jadi, selamatkanlah kehidupan (bocah) ini (Spare This Life)! Dengan cara begini, dendamku mungkin juga akan terbalas dan Abigail akan mendapatkan kedamaian terakhirnya. Aku, O’Brian. Mari kita kerjakan!"

Dan saat roh Abigail kembali menghuni jasad ‘bocah’nya, perubahan alami pun segera berproses dengan cepat. Dilain kejap, si bocah bangkit duduk di peti matinya dalam wujud…seorang gadis berusia 18 tahun!

***

Malam itu juga, beberapa jam kemudian…

Abigail meninggalkan ‘rumahnya’, gereja kecil itu, segera setelah para Penunggang Kuda Hitam menyelamatkan dan membangkitkan rohnya. Ia kini tengah melintasi hutan, tempat kegelapan seolah hidup dan berkuasa. Lalu badai (The Storm) tiba-tiba saja datang, bergemuruh menemani kilat yang sesekali menyambar di langit kelam. Upayanya untuk mencari tempat perlindungan menuntun Abigail pada sebuah rumah kuno besar di pinggir hutan, tampak menghitam angkuh. Sekali lagi kilat menyambar. Sekejap rumah besar seolah bersinar redup. Mendadak hujan lebat tumpah ruah mengguyur bumi saat Abigail tiba di depan sebuah pintu gerbang besi berkarat yang memagari rumah, dimana di dekatnya tengah menunggu seorang bocah perempuan berusia tak lebih dari 3 tahun. Ia tersenyum pada Abigail. Sebelah tangannya tampak menjinjing sebuah lentera. Cahaya lentera yang lemah itu dibantu sinar sambaran kilat, memperlihatkan sebaris tulisan di bagian depan pintu gerbang itu. Sebuah nama : PANGERAN DE LAFEY. Tiba-tiba bocah itu melangkah ke arahnya. Abigail hendak menyingkir. Tapi si bocah lebih cepat menabraknya, dan… Abigail hanya merasakan seolah hembusan angin belaka saat tubuh bocah itu menembus tubuhnya. Ya, benar-benar menembus seolah cahaya menembus sebidang kaca. Cepat Abigail membalikkan tubuhnya. Dan bocah kecil itu telah berada di sebelah dalam pagar, yang segera dibukanya lebar-lebar, untuk Abigail. Tanpa ragu Abigail melangkah masuk.

Berada di halaman, Abigail dapat melihat lebih jelas: rumah besar itu memang masih menampakkan sisa-sisa keningratannya. Tetapi kedukaan, entah mengapa, tampak lebih dominan menyelubunginya (A Mansion In Sorrow). Perhatian Abigail beralih pada si Bocah yang tengah mendaki tangga depan menuju sebuah pintu yang terbuat dari kayu ek. Naluri Abigail menyuruhnya mengejar bocah itu. Abigail segera mengejarnya. Namun bocah itu tiba-tiba lenyap, menghilang begitu saja.

Mendadak pintu itu terbuka. Sesosok tubuh keluar. Lalu sebuah suara berat parau menyambutnya:
“Darimana saja, Nona? Kenalkan, saya Brandon Henry, pelayan Tuan Jonathan…”.

Saat berikutnya, Abigail telah mengikuti si pelayan berkepala botak dengan sebatang lilin hitam, melangkah sepanjang gang yang suram dan berliku-liku dan akhirnya tiba di sebuah kamar yang tidak kalah suramnya dengan ruangan-ruangan lain yang tadi ia lewati. Kondisi ini membuat keadaan kamar itu lebih mirip kuil. Tercium aroma kuat parfum kuno, dari beberapa helai rambut panjang dan hitam, yang dikumpulkan bersama berbagai macam perhiasan dan beberapa helai pakaian dalam salah satu dari beberapa lemari kaca. Rambut itu, terlihat redup dan mati!

“Mendekatlah, sayang…” satu suara dari arah kegelapan mengejutkan Abigail. Suara yang datang dari sesosok bayangan yang duduk di atas sebuah kursi roda. “Berdirilah di dekat perapian itu, agar aku bisa melihat wajahmu lebih jelas”. Dan saat cahaya api menerangi wajah Abigail, si bayangan mendesah tak percaya. Ia merasa, seolah Miriam bangkit dari kubur dan kini berdiri di hadapannya. “Aku Pangeran (Jonathan) De Lafey. Dan kau, siapa namamu?”

“Abigail,” jawab si gadis, setengah berbisik dan, entah mengapa, terasa mengilukan tulang.

“Ah…Bolehkah aku… engh… memanggilmu Miriam?”

“Kau boleh memanggilku apa saja. Toh, apalah artinya sebuah nama.”

Bayangan itu, yang ternyata adalah Jonathan Lafey dan kini memakai nama kebesaran mendiang kakeknya, bergerak berusaha bangkit dari kursi rodanya. Sejak mengalami patah tulang belasan tahun yang lalu, ia kini hanya mengandalkan (sebuah kursi roda atau) sebatang tongkat. Selain itu, ia juga menderita semacam alergi cahaya. Jika ada sinar yang cukup terang masuk ke rumah itu, sepasang matanya akan mengalami kebutaan sesaat. Itulah mengapa setiap jendela di rumah ini tertutup rapat oleh tirai-tirai hitam. Saat itu, dengan menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya, Jonathan berdiri lalu melangkah ke arah Abigail.

“Jangan bergerak, tetaplah di tempatmu”, Jonathan berkata, dan tahu-tahu lelaki itu telah berada dibelakang Abigail. Disentuhnya rambut hitam panjang gadis itu, lalu dibelainya dengan lembut. Tiba-tiba, ditariknya Kepala Abigail. Si gadis memekik kesakitan saat beberapa helai rambutnya tercabut. Jonathan seolah tidak perduli. Lelaki itu, dengan menggenggam helai-helai rambut Abigail, kini melangkah tertatih-tatih menuju ke lemari terkecil yang di bagian belakangnya tertulis: Untuk Isteriku Tercinta. Diambilnya sejumput rambut lain dari dari dalam lemari itu, rambut yang tadi sempat dilihat oleh Abigail. Lalu, oleh Jonathan, rambut yang diambilnya dari lemari tadi dibanding-bandingkannya dengan beberapa helai rambut Abigail. Hasilnya, sebuah kesimpulan yang membuat pikirannya kacau: Miriam benar-benar telah kembali. Tapi…Ah, terlalu banyak hal yang membingungkan. Dan akhirnya, pada Abigail, ia berkata perlahan : ”Aku harus beristirahat, Sayang. Kau juga”.

Malam itu, dalam kamar yang disediakan untuknya, Abigail baru saja terlena, saat ratapan derita seorang bocah, merayapi pikirannya. Ratapan seorang bocah yang kehilangan ibunya.

Abigail segera bangun dan berdiri.

Ia keluar dari kamar, lalu menuruni tangga mengikuti arah ratapan itu, menuju kegelapan. Dan gadis itu melihatnya. Si Bocah Hantu, yang pernah dijumpainya di pintu gerbang saat ia tiba bersama badai.

“Gadis kecil, siapa kau sebenarnya ?” Abigail bertanya lembut.

“Aku adalah roh saudara kembarmu, bertahun-tahun yang lalu. Akulah Si Kecil (Little One)”.

Jawaban itu mengembalikan segenap ingatan Abigail, dan menyadarkannya akan satu hal, ia harus tinggal di rumah itu, untuk menyelamatkan Si Kecil dan membebaskan jiwanya…

***

Esok harinya, tepat tengah hari, Henry membangunkan Abigail dan memberitahu bahwa Jonathan telah menunggunya untuk bersantap siang. Sambil bersantap, Jonathan bercerita tentang Miriam dan… Abigail memotong: “Bagaimana dengan Si Kecil ?”. Pertanyaan itu membuat Henry, si pelayan, sejenak membeku. Lalu ia berkata: “Maksud Nona, hantu rumah ini?”

Abigail mengangguk.

“Di tingkat terbawah rumah ini, ada sebuah pintu. Di balik pintu itu akan Nona temui tangga licin (Slippery Stairs) yang menurun menuju ruang bawah tanah. Di situlah Si Kecil dikubur sejak hari kematiannya. Tapi jika malam tiba, rohnya akan bangkit dan mencari-cari ibunya. Tapi Nona jangan coba-coba ke sana malam-malam. Tempat itu menyeramkan. Begitu banyak derita dan kematian di sana!"

***

Keesokan malamnya, seusai makan malam, sakit kepala yang sesekali menghinggapi Jonathan baru saja hilang. Lalu ia berkata pada Abigail: “Miriam, pegang tanganku.”, dan dihelanya Abigail menaiki tangga menuju kamar atas, tempat mereka akan memadu cinta. Sebuah kamar yang aromanya sama dengan saat Miriam hidup. Karena Jonathan alergi cahaya, maka Abigail mematikan lilinnya. Namun yang terjadi adalah, Jonathan selesai, sebelum permainan dimulai. Ia terbaring lunglai, tanpa menyadari, Abigail memandanginya dengan penuh kebencian dan perasaan jijik.

Jonathan tidur, lelap sekali. Inilah saat yang tepat untuk mengunjungi apa yang tersembunyi di bawah tanah sana. Abigail segera keluar dari kamar itu. Dengan menjinjing sebuah lentera, gadis itu melangkah cepat melewati koridor lalu turun ke lantai bawah. Seperti diceritakan Henry, ia memang menemukan sebuah pintu. Dibukanya pintu itu. Terlihat tangga menurun. Dengan hati-hati, dituruninya tangga yang memang licin (berlumut) itu, dan akhirnya sampailah Abigail di (kuburan) bawah tanah (The Crypt) yang penuh rahasia itu. Terlihat sebuah peti mati berukuran kecil. Perlahan Abigail membuka penutupnya.

Bau busuk menghampar.

Cahaya lentera di tangannya menerangi sesesok mayat anak kecil yang nampaknya telah diawetkan. Sementara di bagian dalam penutup peti mati itu, terpahat nama si mayat: ABIGAIL.

Mendadak Abigail merasakan nafasnya sesak. Sepasang matanya terpejam.

Setelah menguatkan hatinya, Abigail kembali memperhatikan mayat di depannya. Tampak seuntai kalung, dengan liontin berbentuk sayap terbuka, melingkar setengah terbenam di leher mayat itu.

“Apa yang Nona lakukan di sini ?!” terdengar suara Brandon Henry yang tiba-tiba saja telah berada dalam ruangan itu. Tanpa menjawab Henry, tangan Abigail bergerak cepat, menyentakkan kalung di leher si mayat kecil. Dan, kepala mayat itupun tanggal dari lehernya!

Lalu, sesuatu yang mengerikan segera terjadi.

Mendadak kedua tangan Henry memegang lehernya sendiri, seolah menahan sebuah celah yang tahu-tahu muncul di lehernya itu. Celah yang semakin lama semakin memanjang dan melebar. Darah mengucur deras. Saat berikutnya, tubuh Henry jatuh terjerembab di lantai yang digenangi darahnya sendiri, darah yang terus memancur dari kutungan lehernya.

Dan batok kepala pelayan itu, menggelinding entah ke mana!

***

Esok sorenya, badai telah pergi. Tapi awan gelap tampak menggantung di langit, seolah menunggu apa yang akan terjadi dalam rumah kuno besar di bawahnya.

Abigail masih berbaring di sisi Jonathan. Mendadak, antara sadar dan tidak, Abigail mendengar nama Henry dipanggil. Lalu ia melihat kaca yang pecah (Broken Glass). Pecahannya menggores daging, panjang dan dalam. Hujan deras turun, namun warnanya begitu merah, semerah darah, dan…

“Henry!” kembali terdengar panggilan itu, kali ini lebih keras. Abigail terjaga. Di sampingnya, Jonathan tengah berusaha turun dari tempat tidurnya.

“Mana Henry. Kenapa dia terlambat ?” tanyanya pada Abigail.

“Oh, tadi dia ke sini. Katanya ia agak meriang, jadi kusuruh dia kembali tidur. Biarlah malam ini, dan mungkin malam-malam selanjutnya, aku yang melayani dan menyuapimu…” terdengar Abigail berkata. Mendengar itu, Jonathan begitu bahagia. Ia merasa bahwa wanita di sampingnya benar-benar Miriam. Perasaan itu menyebabkan ia tidak memperdulikan nada suara Abigail yang terdengar agak aneh. Dan lelaki ini terlalu bodoh untuk menyimpulkan bahwa sebenarnyalah roh masa lalu Abigail telah kembali.

Roh yang dikuasai keinginan menuntaskan dendam, dendam berkarat selama 18 tahun!

***

Malam itu, dengan riang Abigail memasak makan malam. Tidak lupa, dia menumbuk halus beberapa pacahan kaca, lalu dicampurkannya dengan hidangan makan malam untuk Jonathan.

Ah, apakah yang akan terjadi adalah sebuah makan malam yang romantis, atau justru sebuah pembantaian ?

***

Dengan penerangan cahaya lilin, Jonathan, yang malam itu mengenakan stelan rapi, tampak benar-benar menikmati makan malamnya. Cintanya pada Abigail sebagai Miriam semakin berkobar. Ia akan memakan apa saja yang disuguhkan Abigail. Selama makan malam berlangsung, tak henti-hentinya ia memandangi Abigail. Wanita itu terlihat begitu cantik dan putih, bagai berlian yang kemilau dalam kegelapan.

“Miriam, Aku mencintaimu, dan…” ucapan Jonathan terputus. Dipegangnya kepalanya. “Oh, kepalaku sakit sekali…Oh, oh…Penyakit sialan ini kambuh lagi…Tapi…Kali ini seolah ada mengiris-ngiris kepalaku dengan pisau…Oh…Ini lebih dari rasa sakit (More Than Pain) yang biasa kualami…Oh…” Jonathan terus mengerang dan merintih.

Mendadak, Abigail tertawa nyaring, di sambut desau angin di luar rumah.

Di antara derai tawanya itu, Abigail, berucap tajam, menusuk: “Aku telah mencampur makananmu dengan tumbukan pecahan kaca. Rasa sekitmu akan bertambah. Inilah saatnya kau mengucapkan selamat datang pada sang kengerian. Lalu, enyahlah bersama hidupmu!”

“Miriam, ada apa dengan dirimu? Sakit sakali rasanya…Tolong aku, Miriam…Tolong…”

“Tidak! Kau akan mati! Kau tidak perlu lagi bersembunyi dalam kegelapan untuk menghindari cahaya, karena kegelapan dengan senang hati akan segera mendekapmu!”

“Miriam, aku tak percaya kau tega melakukan ini pada ku..Oh…Aku…aku…Hek!” darah tersembur dari mulut Jonthan, merah, berbuntal-buntal. “mengapa, Miriam… Mengapa?”

Abigail berdiri, tegak di depan lelaki malang itu, bagai seorang algojo yang tengah bersiap melaksanakan hukum pancung pada si terhukum yang bersimpuh tak berdaya. Lalu wanita ini berkata:

“Ingat apa yang kau lakukan pada ibuku. Kau mencoba membunuhku dengan membunuhnya. Miriam memang mati, tapi aku masih hidup. Akulah saudari ayahmu, ayah yang tidak pernah kau kenal dan yang pernah menyelamatkanku bertahun lalu. Kini aku berdiri di hadapanmu, putranya, yang begitu menyedihkan, yang hanya bisa hidup dengan sebuah kursi roda (The Wheelchair) dan masa lalu. Hakmu untuk hidup habis sudah. Aku telah begitu dekat dengan tujuan akhir perjalananku, balas dendam. Tak akan pernah kulupakan peti mati dan paku-paku perak itu. Tiap kali kau memandangmu, yang kulihat kejahatan yang menyelubungi sekujur tubuhmu dan menjalari segenap nadimu. Kau hampir membunuhku, dan kau harus membayarnya!” Sejenak Abigail berhenti, menghela nafas menahan luapan emosi dan dendamnya. Lalu ia melanjutkan: “Dan… Eh, tahukah kau siapa yang kau simpan di kuburan bawah tanah itu?”

Jonathan sudah tidak mampu lagi bersuara. Pikirannya yang kacau dan penderitaannya yang mendera ditambah perasaan bahwa ia telah dikhianati, membuat lelaki ini hanya bisa menggeliat-geliat di atas kursi rodanya.

Setengah berteriak, Abigail menjawab sendiri pertanyaannya: “Ia adalah bagian dariku!”

Jonathan berusaha bangkit dan turun dari kursi rodanya. Tapi tanpa tongkat, hal itu tidak mungkin dilakukannya. Tongkat itu telah berada ditangan Abigail, yang ia gunakan untuk mendorong tubuh Jonathan hingga kembali terduduk. Dan tiba-tiba ujung tongkat itu telah menempel di dada Jonathan.

Pembalasan dendam Abigail siap dimulai!

Mula-mula, terdengar suara tulang berderak patah saat tongkat itu menghantam pergelangan tangan Jonathan dengan keras. Lalu, empat-limakali hantaman mendarat di punggungnya. Dan terakhir, suara bersiut nyaring mengiringi sambaran tongkat di tangan Abigail, yang mendarat telak di leher Jonathan.

Jonathan mengerang kesakitan.

“Aha, kau masih hidup rupanya,” Abigail menjerit marah. Lalu: “Baiklah, akan kuajari kau bagaimana cara mati yang indah. Ini akan segera mengakhiri hidupmu.” Dijangkaunya sebatang obor di dinding, lalu dinyalakannya dengan cepat. Dan pada Jonathan, ia menghardik: “Buka matamu!”

Kobaran nyala api tampak membayang jelas di mata Jonathan. Lelaki itu menjerit penuh derita saat api dengan suka cita membakar tubuh sekaligus kursi rodanya. Dan setiap jeritan Jonathan selalu ditimpali tertawa nyaring Abigail.

Ini bukan mimpi.

Abigail tidak terkendali lagi.

Apa yang dilakukannya bukanlah semata-mata balas dendam. Tapi lebih sebuah penyaluran rasa nikmat setiapkali melihat Jonathan menderita dan tersiksa.

Dan akhirnya, tubuh hangus Jonathan tersungkur jatuh ke lantai…

***

Jonathan tewas, dan Abigail dengan penuh suka cita memandangi kursi roda yang masih dilamun api itu. Api lalu membakar lantai papan dan menjalar melahap tirai di dinding, semakin tinggi dan semakin tinggi. Dengan perkasa, api itu seolah mengumumkan: “Akulah Sang Api, yang akan memangsa habis semuanya. Akan kurobohkan rumah besar ini. Melalui diriku, mereka semua pasti (segera) tiba!”

Mereka, para arwah (Spirits) penunggu rumah ini, melayang-layang melintas di udara, menuju dunia lain untuk beristirahat selamanya, dan untuk menemani sahabat-sahabat lama mereka. Para arwah itu akan menggunakan sang api untuk meninggalkan rumah terkutuk ini.

Dan Abigail melihatnya. Melihat para arwah dengan sang api bergandeng tangan, menari mengelilinginya. Terus menari, sampai lidah api menjilat bagian bawah pakaian panjang hitam Abigail.

Tidak tampak bayangan rasa sakit di wajah Abigail saat sang api mulai membakarnya.
Roh wanita dari masa lalu itu, dengan arwah lain mendampinginya, perlahan meninggalkan tubuhnya yang mulai mengabur. Para arwah itu membimbing roh Abigail untuk menyatu dengan sang api, yang akan membawa mereka pergi…

Tapi, Abigail telah melupakan satu hal.

Kembaran kecilnya sendiri!

***

Sang api telah berkuasa sepenuhnya.

Langit meratap, mencucurkan hujan deras, saat rumah kuno besar itu, roboh dan mati!
Sementara di bawah sana, tempat di mana sang apipun seolah enggan mendekat, kuburan bawah tanah itu masih hidup. Kegelapan, seperti biasa, menunggui tempat itu, bersama genangan darah di lantai batu. Lalu…terdengar ratapan seorang bocah!

Itu dia!

Tertinggal sendiri, dengan lentera di tangannya, yang menerangi peti mati tempat ia berdiri. Saudara kembar bocah ini, Abigail, terlalu sibuk dengan pembalasan dendam, hingga si kecil malang ini kini tak lebih dari roh kesepian yang tidak akan pernah menemukan rumahnya. Lebih dari itu, ia tidak akan pernah menemukan orang kepada siapa ia bisa bermanja-manja, sang ibu (Mommy), yang terkubur di bawah lantai batu. Ia bukan saja tidak mengetahui, di mana ibunya itu, tapi juga tidak pernah tahu, siapa sebenarnya sang ibu. Mungkin hanya saya dan beberapa orang lain yang tahu. Ya, ibunya adalah Si Nyonya DeLafey!

Seiring pagi yang datang menjemput malam, ratapan bersama tangis menyedihkan itu terus terdengar, merayapi pepohonan, merayapi tanah, merayap terus seolah tak akan pernah menemukan ujung:

“Ibuuu……Ibuuu……Ibuuu……Aku ingin pulang, Bu. Aku tidak suka tempat ini, begitu gelap dan dingin. Ibu, di manakah kau? Bisakah kita suatu saat bertemu. Ibu, datanglah, dan bawa aku pergi dari sini…Ibuuu...”

Ah, maaf sayang (Sorry Dear)… Aku tak bisa menolongmu….

*** SELESAI ***

©2002, December, 6th_z@envanhamme
Diolah dari berbagai sumber dan keterbatasan untuk berbahasa Inggris yang baik, hiks...

Senin, 03 Agustus 2009

A DANGEROUS CONSPIRACY

Horor dengan berbagai genrenya ternyata tak hanya menarik minat sineas untuk mengangkatnya ke layar lebar/kaca. Tema spesialis 'terapi bagi penderita penyakit jantung' ini juga merambah dunia musik, khushūshan metal. Stadium kehororan yang ditampilkan pun bermacam2; ada yang standart (biasanya hanya sebatas pada rias wajah atau sampul album saja) dan ada pula yang ‘parah’; lagu2 yang komposisi dan efek sound-nya begitu ‘mistis’, lirik2 berkategori “parental guidance”, klip yang mendirikan bulu roma, sampai aksi panggung yang mempertontonkan secara vulgar adegan2 seram semacam aksi keluar dari peti mati, minum darah (beneran lho!), black magic, dan sebagainya. Dan nama2 seperti Alice Cooper, Ozzy Osbourne, KISS, sampai Slipknot, Rob Zombie (yang ini malah sempat menyutradarai remake film horor HALLOWEEN, 2007) dan Marilyn Manson menjadi begitu familiar bagi penyuka horroric metal.

Namun sebenarnyalah, sampai saat ini hanya ada satu nama yang patut disebut maestro horor di dunia musik (metal), yaitu KING DIAMOND. Selain riasan wajahnya --baik di foto album, klip, atau panggung konser-- yang selalu dimake-up dengan tampilan “mimpi buruk para penakut”, pria (kelahiran Denmark , 1958, bernama asli Kim Bendix Petersen) ini begitu ‘setia’ menyajikan atmosfer kengerian, baik saat ia bersama band ‘tua’nya, Mercyful Fate (MF), atau band ‘muda’nya, King Diamond (KD).Jika musisi horor lain masih ‘sempat’ membuat lagu2 bernuansa tema umum semacam kritik sosial, anti kemapanan, ketidakwajaran attitude, cinta ‘melow’, bahkan sex menjijikkan, maka tidak dengan King Diamond. Ia hanya mau bicara tentang horor dan horor, titik! Tema se’genit’ sex dan balada pun harus horor; semisal memadu kasih bahkan bercinta di sebuah gereja tua dengan sosok wanita siluman serigala bernama Angel (dalam single/album “House Of God”/HOUSE OF GOD, 2000)!

Dari sisi musikalitas, baik Mercyful Fate maupun (band) King Diamond ternyata tak terjebak dengan ide ‘band horor’nya itu. Mereka tak lantas memainkan instrumen gerabak-gerubuk berkaidah ‘asal-asalan’; asal horor, asal nakutin, asal metal, asal laku! Heavy metal ‘hitam pekat’ yang dimainkan ‘gerombolan hantu’ ini cukup terjaga mutunya. Kapabilitas tiap musisinya yang layak ditempatkan sejajar dengan rata2 dedengkot musisi metal lainnya sukses meramu heavy metal, progressif, power/speed dan sedikit bumbu thrash menjadi suguhan black ‘theatrical’ metal megah dan tak seadanya; sekaligus mampu menginfluence banyak band metal lain lintas genre. (kemewahan bermusik mereka ini --secara singkat-- bisa disimak saat dua band yang sama2 di’dukuni’ KD itu ‘bertemu’ dalam sebuah album 'persekutuan mematikan (a dangerous conspiracy)' bertajuk A DANGEROUS MEETING, 1992).

Band sekelas Metallica pun tak segan berterus terang bahwa mereka ngefans Mercyful Fate. Dibuktikan dengan suka-relanya Lars Ulrich ngedrum untuk re-recorded single MF, “Return of The Vampire” ( IN THE SHADOWS, 1993), dan sesekali membawakan 1-2 lagu MF saat konser. Bahkan dalam cover album Metallica rilisan 1988, GARAGE INC., Metallica menyanyikan lagu berjudul “Mercyful Fate” yang merupakan ‘rangkuman’ dari singel2 MF “Satan's Fall”, “Into the Coven”, “Curse of the Pharaohs” dan “Evil” (semua dari album MELISSA) serta “A Corpse Without A Soul” (dari album kompilasi, THE BEGINNING, 1987).

Nah, jika ‘jagoan’ metal semacam Metallica mengidolakan MF, dan ajang bergengsi seperti Grammy Award 2008 kategori Best Metal Performance menominasikan single “Never Ending Hill” dari album GIVE ME YOUR SOUL...PLEASE (King Diamond, 2007), maka sudah bisa dikatakan, skill bermusik personel KD dan MF sungguh tak main2.

Mercyful Fate, yang dibentuk di Copenhagen, Denmark pada 1980, dengan formasi awal KD (vokal), Hank Sherman (gitar), Timi Hansen (bas), dan Mike Weed (drum) ini, sampai saat ini telah merilis 7 full-lenght albums yang seluruh tracknya horror habis. Dan ‘sosok’ bernama sama dengan debut album mereka, MELISSA (1983), sekaligus ditahbiskan sebagai maskot band.

Lalu siapa ‘si eneng’ bernama Melissa ini?

Secara fiksi, Melissa adalah nama penyihir wanita yang dibunuh oleh pendeta Katolik dengan cara –seperti yang mereka biasa lakukan pada supposed witch pada abad2 pertengahan— membakarnya. Sang suami (yang oleh fans sering dipersonifikasikan sebagai KD sendiri) lalu membalas dendam (Melissa, you were the queen of the night/ Melissa, you were my light/ I swear revenge on the priest/ The priest must die/ He must die in the name of hell –“Melissa”, 1983-). Pun rasa cintanya pada sang isteri membuatnya tetap ‘menghidupkan’ arwah penyihir yang mati penasaran itu (Oh...Melissa/ could that really be your voice I hear?/ Too soon for you and I/ The priest took his sacrifice/ And sent you to the other side... Oh... Melissa/ You're in my dreams/ You're with me every day... Oh...Melissa/ do you remember the time we shared?/ Do you remember the magic nights?/ I will never forget your smile/ Do you remember the love we had?/ Oh, the love we had... Oh...Melissa/ close your eyes and say goodbye/ One last time/ we'll kiss goodbye... I kiss your soul goodbye! –“Is That You Melissa?”, 1992-)

Yang lebih gila adalah wujud nyata dari “Melissa” itu sendiri. Tau tidak? Melissa ini adalah nama pemberian KD untuk tulang belulang manusia (asli dan utuh) yang diperolehnya (entah dari mana) sebelum album MELISSA itu sendiri dirilis! Tulang belulang ini juga ‘gentayangan’ di panggung2 konser MF/KD, terutama karena bagian tulang paha dan tulang keringnya dibuat sebagai microphone handle berbentuk salib terbalik! (Konon, pada medio 1980-an, tulang belulang itu pernah hilang dicuri setelah Mercyful Fate konser di Nederland. Dan baru pada 2006, ‘melissa’ ini kembali ‘menampakkan diri’. Tapi –seingat saya—antara hilang dan kembalinya si kerangka, KD tetap memegang cagak mikrofon ‘tak lumrah’ itu. Entah siapa atau apa yang jadi ‘korban’nya kali ini, hihihi...Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...)

Tapi yang benar2 horror-minded stadium akut sebenarnya adalah (band) King Diamond! Betapa tidak? Dari 12 full-lenght albums band bentukan tahun 1985 ini (album terbaru dirilis pada 2007 lalu), yang secara konsisten selalu menyuguhkan kengerian dunia arwah dan pembunuh psikopat diiringi hingar bingar musik khas metal, 10 di antaranya dirilis dalam format concept albums (album yang memuat satu cerita utuh dari track pembuka sampai penutup) yang kekuatan ceritanya layak disejajarkan dengan novel2 horor karya penulis sekaliber Stephen King! Bahkan dua karakter dari cerita2 hantu KD, Abigail LaVey (nama LaVey ini –kemungkinan besar-- terinspirasi dari ‘kekaguman’ KD pada Anton Szandor LaVey, pendiri The Church of Satan di San Francisco, 1966) dan Missy (karakter adik perempuan KD yang dibunuh oleh nenek psikopat mereka saat mereka tinggal di House of AMON), menjadi legenda tersendiri dan sampai dibuat versi sekuelnya yaitu “THEM” (1988) yang berlanjut ke CONSPIRACY (1989), serta ABIGAIL (1987) ke ABIGAIL II: THE REVENGE (2002).

Adapun 2 album KD yang tidak berformat konsep utuh adalah debut FATAL PORTRAIT, 1986, dan THE SPIDER’S LULLABYE, 1995. Kisah utama FATAL PORTRAIT (FP) termuat dalam track 1-4 dan 9, sedangkan THE SPIDER’S LULLABYE (TSL) kisah utamanya terbatas hanya dalam empat lagu terakhir, yaitu track 7-10. Untuk kasus FP, ini bisa dibaca sebagai upaya awal pencarian identitas dan ciri band. Namun dalam TSL, ‘keterbatasan’ ini –sangat mungkin-- karena album ini dibuat secara terburu-buru, sekedar untuk memenuhi obligasi mereka dengan pihak Roadrunner Records (dan indikasi ini menjadi cukup kuat karena ternyata KD benar-benar meninggalkan perusahaan rekaman itu dan beralih ke Massacre Records serta Metal Blade Records).

Kelebihan lain dari (vokalis) King Diamond ini adalah suara falsettonya. Bekal tipe vokal tennor berskala C5-B5 itu sangat memadai untuk bernyanyi sambil ‘mendongeng’ dan dapat terekplorasi dengan maksimal dalam album berformat konsep. Dengan mengimprovisasi tone serendah-rendah atau setinggi-tingginya, KD sudah bisa ‘memerankan’ banyak karakter. Lolongan magis a la ‘hantu opera’, tawa ngakak iblis (katanya sih), kekehan nenek2, atau tangisan anak kecil dengat mantap dilakoninya tanpa perlu mengkasting pemeran pembantu (kecuali belakangan, yakni untuk proyek ABIGAIL II: THE REVENGE [2002], THE PUPPET MASTER [2002/2003], dan GIVE ME YOUR SOUL...PLEASE [2007], ia ‘mengundang’ Livia Zita, yang kemudian ia peristeri, sebagai backing vocal). Bahkan dalam “THEM”/CONSPIRACY (1988/1989), KD menunjukkan kwalitas ‘olah vokal’nya ini dengan memerankan setidaknya 5 karakter dengan 5 suara berbeda; seorang nenek, seorang gadis kecil bernama Missy, seorang ibu, sesosok iblis, dan KD sendiri.

Pendeknya, saat menyimak lagu/album Mercyful Fate atau (band) King Diamond, dengan iringan musik berat berwarna gelap dan pekat, sesekali balutan keyboards dan kombinasi sound effects lolongan serigala, petir, badai, angin bersiut di pekuburan, imajinasi kita --seolah-- tergiring mengembara dalam cengkeraman horor total, dari hulu ke hilir!

Selasa, 12 Mei 2009

FEAR Of The DARK

Jika Anda membaca profil saya, maka di kolom Film Favorit, Anda akan menemukan beberapa judul film yang secara umum bisa dikelompokkan menjadi 2 macam ‘warna’, yaitu laga (action) dan horor. Mengapa saya katakan “secara umum”? Karena sebenarnyalah, setiap kisah fiksi, terutama film, selalu teramu dari campuran 3 formula utama, yaitu thriller, drama, dan komedi; dengan kadar dominasi yang berbeda, tergantung ‘selera’ sang koki (baca: penulis naskah dan/atau sutradara) tentunya.

Thriller biasa didefinisikan secara bebas dengan “petualangan yang mendebarkan”. Sebuah film yang kental unsur thrillernya lumrah memacu adrenalin penonton dengan mengalurkan rangkaian petualangan seorang atau beberapa orang dalam rangka membendung atau menggagalkan usaha2 jahat pihak lain sambil menyelamatkan banyak makhluk ‘tak berdosa’. Saat sebuah thriller mengangkat tema kematian, alam gaib dan monster seraya menitik beratkan pada upaya membangun atmosfer rasa takut, kengerian dan teror sebagai respon penonton, maka thriller itu kemudian lazim dikenal dengan nama film HOROR. Dengan kata lain, setiap film horor mestilah thriller, dan tidak sebaliknya. Nah, lewat postingan bertajuk Fear of The Dark ini, saya ingin berbagi dengan Anda, tentang apa dan bagaimana film horor.

Sampai saat ini, film horor sering diasumsikan sebagai film2 berbujet rendah dengan rating B dan hanya mengeksploitir kekerasan belaka. Walau begitu, toh banyak studio besar dan sutradara sekaliber Alfred Hitchcock, Tim Burton, Roman Polanski, Stanley Kubrick, William Friedkin, Richard Donner, Francis Ford Coppola, dan George A. Romero yang dengan ‘senang hati’ terlibat bahkan membidani kelahiran film2 jenis ini.

Munculnya film spesialis tukang ngagetin orang ini dimulai pada 1890-an, dengan dirilisnya film bisu pendek karya Georges Méliès dengan judul Le Manoir du Diable (a.k.a. The House of the Devil). Film ini pun dihargai sebagi film horor pertama. Baru pada era 1910-1920-an, film horor yang berdurasi panjang mulai dibuat, pada awalnya, oleh sineas2 Jerman.

Dari amatan saya –sebagai seorang yang sungguh bukan ahli film, tapi hanya ‘ahli’ nonton doang-- film2 horor bisa dikelompokkan dalam 2 jenis dan saya beri nama dengan (judul album/lagu bergenre heavy metal):

1. THEM, untuk film2 horor berbasis supranatural dan alam gaib. Jenis film inilah yang sejak awal sampai sekarang tetap mempertahankan bentuk baku dari kisah bernama horor itu sendiri. Film horor kelompok ini bisa dibagi kembali dalam 2 kategori:

Pertama, film2 horor yang berkutat di seputar karakter utama berujud hantu dan iblis yang divisualisasikan dari mitos, legenda atau novel2 bergenre gothic. Nama2 yang kemudian melekat erat di benak kita antara lain adalah Vampire (makhluk mitos spesialis penghisap darah, yang dipopulerkan oleh John Polidori lewat The Vampyre, 1819), Nosferatu (muncul perdana lewat film karya F.W. Murnau, 1821), Dracula (rekaan Bram Stocker, 1897. Film yang paling berkesan tentangnya adalah karya brilian Francis Ford Coppola, Bram Stocker’s Dracula, 1992), Frankenstein (rekaan Mary W. Shelley, 1818. Karakter ini pertamakali diperkenalkan dalam film pendek rilisan 1910 karya Thomas Edison), Wolf Man (yang dalam tradisi Hollywood lebih terkenal dengan nama “werewolf” ini muncul perdana lewat film karya penulis Curt Siodmak dan sutradara George Waggner, 1941), mummy (dipopulerkan oleh Carl Lemme dalam The Mummy, 1931), zombie atau mayat hidup (sering juga disebut dengan living dead, dipopulerkan oleh Richard Matheson, 1954, dan pertamakali dilayarlebarkan oleh sutradara spesialis zombie, Goerge A. Romero lewat Night of The Living Dead, 1968), dan lainnya. Dari dalam negeri kita juga mengenal nama2 legendaris semacam Kuntil Anak, Sundel Bolong, Wewe Gombel, dan yang terkini, Suster Ngesot. Namun dari sekian nama itu, Om Drakula-lah ‘selebritis’nya. Om berwajah pucat dan suka tidur dalam peti mati ini adalah yang paling banyak difilmkan –konon sampai mencapai 160 film--!

Kedua, film2 horor yang lebih menekankan bukan pada karakter tertentu, tapi pada suasana atau kesan sebagai ujung tombaknya dengan menjunjung se-konstan mungkin elemen ketakutan di sepanjang film. Amytiville Horror (1979), Haunting (1963), House on Haunted Hill (1959), Village of The Damned (1960), Death Ship (1980), Sleepy Hollow (1999), Stephen King`s Rose Red (2002); lalu ada Beranak Dalam Kubur (1972), Dikejar Dosa (1974), Bisikan Awah (1988) dan Jelangkung (2001); sampai yang akhir2 ini menjadi kesukaan Hollywood untuk meremark, J-Horrors (istilah untuk film2 horor made in Jepang) semacam Ringu (a.k.a. The Ring, 1988), Ju-on (a.k.a. The Grudge, 2000) dan Honogurai Mizu No Soko Kara (a.k.a. Dark Water, 2002;) adalah sedikit contoh dari ratusan film kategori ini.

2. KILLERS, untuk film horor tipe ‘slash and dice’; yang secara vulgar membasahi layar perak dengan banjir darah dan kengerian yang ‘menjijikkan’. Karakteristik film ini ada pada kemunculan ‘monster’ yang sejak awal sampai akhir kerjaannya hanya membunuh dan mempreteli tubuh korban2nya belaka. Film jenis inipun –berdasarkan jenis ‘monster’nya-- bisa dispesifikkan lagi menjadi 2 kategori:

Pertama, film2 yang menggambarkan tingkah gila seorang psikopat. Para pembunuh ‘sakit’ pun mulai berkeliaran di bioskop2 seluruh dunia. Dan kecintaan penonton pada 'mereka' ini melahirkan karakter2 semacam Jason Voorhees (Friday The 13th, 1980), Michael Myers (Halloween, 1978), Leatherface (The Texas Chainsaw Massacre, 1974), Hannibal Lecter (Manhunter, 1986), dan Jigsaw (SAW, 2004) yang film2nya dibuat sampai berjilid2. Ini belum termasuk film2 lain semacam Motel Hell (1980), Alone in The Dark (1982), Hostel (2006), para penjagal kampus yang gentayangan di Scream (1996) dan I Know What You Did Last Summer (1997) serta cerita2 tentang kanibalisme yang dipelopori The Year of The Cannibals (1970).

Kedua, film2 yang meletakkan kata ‘monster’ secara ‘pantas’ dengan meng’kasting’ binatang dan makhluk2 lain diluar manusia sebagai tokoh sentral. Dan beberapa jenis binatang pun telah ‘beruntung’ naik pangkat menjadi ‘binatang’ film; mulai dari binatang yang ‘nyata-nyata’ menakutkan seperti gorilla (Kingkong, 1933), kadal (Komodo, 1999), babi hutan (Razorback, 1984), ular (Anaconda, 1997), singa (The Ghost And The Darkness, 1996), ikan piranha (Piranha, 1978), gurita (Monster from The Ocean Floor, 1954; Tentacles, 1977), buaya (Crocodile, 1979; Alligator, 1980; Lake Placid, 1999), serta --yang paling sering ‘main’ film—ikan hiu dengan berbagai jenisnya (Jaws, 1975; Great White, 1982; Deep Blue Sea, 1999; Red Water, 2003; Megalodon, 2004) dan binatang2 pra sejarah (yang paling fenomenal adalah Jurassic Park, 1992), sampai binatang2 yang aslinya tidak ‘semenakutkan itu’ seperti kelelawar (Bats, 1999) dan laba-laba (Tarantula, 1955); bahkan yang ‘seharusnya’ sama sekali tidak menakutkan semacam kodok (Frogs, 1972), kecoa (Mimic, 2003) dan semut (Empire of The Ants, 1977). Kreatifitas para sineas juga mengundang monster2 ‘tetangga’ kita dari luar angkasa berbondong-bondong menebar kengerian dan teror berdarah-darah di bumi, sebagaimana dalam Alien (1979), Forbidden World (1982), Predator (1987) dan The Abyss (1989).

Namun, ada pula beberapa film horor berwarna 'abu-abu'; film2 yang lebih bercorak action (dengan indikasi one man show-nya) dan meletakkan unsur horor berikut berbagai karakter khasnya ‘hanya’ sebagai background. Captain Kronos (1974), Blade (1998), The Mummy (1999), Underworld (2003), Van Helsing (2004) dan (film adaptasi game) Resident Evil (2002) adalah beberapa contoh film jenis ini.

Apapun tampilannya, toh film horor secara finansial --mungkin— selalu menjanjikan untuk menguras kantong mereka yang rela ditakut2in, secara ia relatif bisa menggali sebanyak mungkin mitos dan ‘ketakutan’ di setiap pelosok dunia sehingga ‘hantu’ bernama ‘bosan’ bisa dihindari. Bahkan dengan berdasar tema dan alur cerita yang ‘umum’ pun, kreatifitas beberapa penulis/sineas dapat melahirkan film2 horror yang secara cerdas mengelaborasi aspek 'artistik' dari kengerian dan kesadisan. Dan Alfred Hitchcook telah mempelopori style horror seperti ini lewat Psycho (1960), yang bisa dikatakan ikut 'berjasa' atas munculnya film2 horror cerdas yang endingnya sukses mengaduk-aduk emosi serta menjungkir-balikkan logika semisal The Sixth Sense (1999), The Others (2001) dan Stephen King’s The Mist (2007)!

Inilah sekedar yang saya tahu...

(diolah dari berbagai sumber)