Tampilkan postingan dengan label wiro sableng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wiro sableng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2013

212 ACACIA AVENUE: A Tribute to Wiro 'n Maiden

MUQADDIMAH (“New Frontier”, 2003)

Dalam dunia seni, ada dua nama yang menjadi favorit saya di antara banyak nama yang lain: WIRO SABLENG dan IRON MAIDEN. Yang pertama adalah karakter dunia persilatan rekaan alm. Bastian Tito, dan yang kedua adalah band pengusung genre New Wave of British Heavy Metal dan didirikan oleh Steve Harris.

Lalu, apa hubungan Wiro Sableng dan Iron Maiden? Mungkin tidak ada hubungannya (dan memang tidak ada hubungannya, kok!). Namun berhubung album Iron Maiden yang baru turun gunung, “Final Frontier” (2010), adalah album ke-17; dan usia Wiro Sableng saat turun gunungpun adalah 17 tahun, maka saya lalu menghubung-hubungkan keduanya agar terlihat berhubungan sehingga menjadi ada hubungannya, he… he… he… Dan hasilnya, Anda boleh percaya dan (tidak) boleh tidak percaya, ternyata beberapa titel full-length studio album Iron Maiden berikut sebagian lagu mereka bisa (saya paksakan agar) terlihat sebagai deskripsi atas tokoh utama dan hal-hal penting berkaitan denga petualangan Wiro Sableng!

Silahkan nikmati hasil ijtihad paling ‘maksa’ abad ini:

EYANG SINTO GENDENG: Guru Pendekar 212, seorang wanita tangguh, keras hati, pemarah, memilki ilmu silat dan kesaktian tinggi, datuk dari segala datuk di masanya, pernah merajai dunia persilatan Tanah Jawa selama 20 tahun, dan sampai nenek-nenek belum juga kawin, maka Iron Maiden cukup menggambarkannya dengan dua kata utama: IRON MAIDEN (nama band, judul lagu sekaligus album pertama, 1980).

WIRO SABLENG: Untuk seseorang yang “berambut gondrong, memegang kapak seraya mulutnya menyeringai”, Anda cukup melihat sosok Eddie (maskot Iron Maiden) yang nampang di sampul album “Killers” (1981), he… he… he… Dalam episode pertama Wiro Sableng (Empat Berewok Dari Goa Sanggreng), Wiro sama sekali belum mempergunakan Kapak Naga Geni 212 dalam sebuah pertempuran, maka pantas saja album pertama Iron Maiden hanya menampilkan sosok Eddie yang berambut gondrong sambil cengar-cengir. Baru pada episode kedua (Maut Bernyanyi di Pajajaran) Wiro menggunakan senjatanya yang berupa kapak bermata dua berhulu kepala naga itu, sehingga sampul album kedua Iron Maiden (Killers) pun memajang Eddie dengan pose sebagaimana saya sampaikan di atas. Selanjutnya, tentang garis hidup Wiro sebagai pendekar petualang (“The Journeyman”, 2000), Kakek Segala Tahu telah memberikan ramalan (“The Prophecy”, 1988): “Orang muda, masa depanmu penuh rintangan dan kesulitan-kesulitan (“Man on The Edge”, 1995). Kulihat garis-garis di telapak tanganmu itu penuh dengan garis-garis bahaya yang selalu mengikuti perjalanan nasibmu!” Peringatan akan jalan hidup yang mungkin akan dilalui oleh Wiro (“Fates Warning”, 1990) ini tergambarkan sebagai pertarungan hidup-mati lewat ungkapan titel album “A Matter of Life And Death” (2006).

212: Ini direpresentasikan oleh album/lagu “The Number of The Beast” (1982); yang terjemah bebas (dan nekat)nya adalah “Angka Yang Menggetarkan dan Menggentarkan”.

Selain itu, menariknya, angka yang banyak ditulis dalam lagu-lagu Iron Maiden adalah angka 2 dan angka 1. Angka 2 ditulis sebanyak 4 kali, yakni dalam “22 Acacia Avenue” (1982); “2 Minutes to Midnight” (1984); “2 A.M.” (1995). Sedangkan angka 1 ditulis 3 kali, yakni dalam “Virtual XI” (1998. XI adalah 11); dan “Satellite 15... The Final Frontier” (2010). Maka diketahui ada 4 x angka 2 dan 3 x angka 1 = 2, 2, 2, 2, dan 1, 1, 1. Nah, jika angka-angka itu kita susun secara proporsional, maka akan terbentuk 2 - 1 - 2 - 1 - 2 - 1 - 2 alias 2121212, ;-)

KAPAK NAGA GENI 212: Senjata ini memiliki sifat kuat dan atos luar biasa (sering diceritakan, senjata keras apapun yang berani ‘kontak fisik’ dengan Kapak Naga Geni, biasanya akan patah, gompal, atau setidaknya terlepas mental). Ia juga menghantar hawa sangat panas setiap kali dipergunakan dengan pengerahan tenaga dalam (tak sedikit dikisahkan bagaimana daun dan ranting pepohonan menjadi menghitam hangus dilanda sambaran angin senjata ini. Juga bagaimana luka pada daging/kulit yang disebabkan oleh kapak Naga Geni akan terlihat hitam hangus dan korbannya merasakan sengatan panas). Maka kesaktian Kapak Naga Geni 212 dapat tergambarkan dengan dua nomor lagu, “Sun and Steel” (1983) dan “Flash of The Blade” (1984).

PUKULAN SINAR MATAHARI: Pukulan yang berupa sinar putih menyilaukan dan panas luar biasa ini dapat digambarkan dengan lagu “Brighter Than A Thousand Suns” (1986).

ILMU SILAT DAN KESAKTIAN LAIN: Selain pukulan Sinar Matahari, kebanyakan ilmu pukulan Wiro Sableng berupa hembusan angin kencang membadai. Sebut saja misalnya pukulan Benteng Topan Melanda Samudera, Dewa Topan Menggusur Gunung, Kunyuk Melempar Buah, Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih, Angin Puyuh, dan sebagainya. Satu judul lagu Iron Maiden sudah cukup untuk melukiskan kedahsyatan pukulan-pukulan tersebut: “When The Wild Wind Blows” (2010).

Selain itu, ada beberapa nomor yang mengillustrasikan kesaktian-kesaktian lain milik Sang Pendekar, semisal “Be Quick or Be Dead” (1992) sebagai illustrasi untuk gerakan dan jurus-jurus silat yang serba cepat; “Can I Play With Madness” (1988) untuk menggambarkan musuh yang kebingungan saat Wiro menerapkan rangkaian Jurus Silat Orang Gila warisan si Tua Gila; “Out of The Shadows” (2006) untuk ilmu Meraga Sukma; “Lightning Strikes Twice” (1998) untuk ilmu kesaktian bernama Sepasang Pedang Dewa; “Run Silent Run Deep” (1990) untuk ilmu lari Kaki Angin, dan sebagainya.

PANGERAN MATAHARI: Musuh bebuyutan Wiro Sableng, layaknya Luthor bagi Superman dan Joker bagi Batman. Sesuai reputasi kejahatan dan kekejamannya, cukup banyak juga nomor Iron Maiden yang judulnya menggambarkan sang dedengkot golongan hitam yang mengagulkan diri sebagai “Pangeran Segala Cerdik, Segala. Akal, Segala ilmu, Segala Licik, Segala Congkak”. Bisa disebutkan antara lain “Prowler” (1980), “Wrathchild” (1981), “The Assassin” (1990), “Public Enema Number One” (1990), “The Unbeliever” (1995), “Virus” (1996), dan sebagainya. Sedangkan “Full Eclipse” (1984) adalah representasi dari salah satu pukulan sakti andalan Pangeran Matahari, Pukulan Gerhana Matahari.

PETUALANGAN-PETUALANGAN: Secara umum, tentang petualangan-petualangan Wiro di luar Jawa serta keberhasilannya menaklukkan banyak tokoh silat jahat di sana, sebagaimana saat Wiro bertualang di Pulau Andalas, Madura, Bali, bahkan di China dan Jepang, tercakup dengan ringkas lewat judul “To Tame a Land” (1983).

Secara khusus, ada satu petualangan Wiro yang dianggap paling fenomenal, cerdas, futuristik, dan berkelas science fiction, yakni saat Wiro bersama Naga Kuning dan Setan Ngompol terpesat ke negeri Latanahsilahsilam, negeri 1200 tahun di masa lalu. Rangkaian petualangan a la “time traveller” ini diceritakan oleh Bastian Tito dalam sebuah episode tersendiri yang terjalin dalam 18 judul serial. Episode di Latanahsilam ini merupakan episode dengan jumlah serial terbanyak. Maka tentu layak diapresiasi dengan 1 album pula. Dan yang cukup representatif untuk itu adalah album “Somewhere in Time” (1986). Kalo boleh (dan harus boleh), saya menterjemah judul album itu dengan “Di Negeri Latanahsilam”. Di negeri itu, Wiro mendadak menjadi seorang asing di sebuah negeri yang asing pula (“Stranger in a Strange Land”). Dia dan 2 temannya itu ibarat pelanglang buana kesepian (“Loneliness of The Long Distance Runner”) yang terperangkap di masa entah kapan (“Caught Somewhere in Time”). Waktu demi waktu mereka lalui dengan harapan yang semakin menipis (“Wasted Years”) bahwa mereka bisa kembali ke Tanah Jawa.

Namun di negeri itu mereka menemui banyak hal yang seolah pernah mereka alami di negeri asal mereka (“Deja vu”): wanita-wanita cantik semacam Peri Angsa Putih yang mengingatkan mereka pada Ratu Duyung; Luhcinta yang serupa dengan Bunga (Dewi Bunga Mayat). Lalu ada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang mirip Kakek Segala Tahu; serta Hantu Muka Dua yang berilmu tinggi serta memilki kejahatan dan kelicikan setara Pangeran Matahari. 

ROMAN: Dalam kehidupannya sebagai seorang pemuda, tentu Wiro Sableng juga terjangkit rasa cinta: mencintai dan ingin dicintai. Walaupun dalam hal ini, Kakek Segala Tahu mengungkapkan bahwa: “Garis percintaanmu tidak begitu bagus. Ini disebabkan karena kau punya sedikit sifat mata keranjang, tidak boleh lihat perempuan cantik...”, toh Iron Maiden tidak melupakan sisi manusiawi macam ini. “When Two Worlds Collide” (1997) misalnya, adalah judul yang mengillustrasikan kisah cinta Wiro dengan Bunga (Dewi Bunga Mayat), seorang gadis pendekar dari alam roh sebagai sebuah kisah cinta dua dunia. Namun, perbedaan dunia yang begitu nyata membuat cinta mereka tak lebih dari sebuah angan (“Infinite Dreams”, 1988) dan cinta yang sia-sia belaka (“Wasting Love”, 1992).

Lalu kerumitan hubungan ‘tidak jelas’ antara Wiro dengan Bidadari Angin Timur terungkap lewat nomor “The Thin Line Between Love & Hate” (2000). Dan nampaknya, hanya Ratu Duyung yang akan menjadi pelabuhan cinta abadi Wiro, “From Here to Eternity” (1992).

IKHTITÂM (“The Final Frontier”, 2010)

Inilah hasil utak-atik dan oprak-oprek nekat saya, dalam rangka menemukan sebuah “The X Factor” (1995) hubungan Wiro Sableng, seorang “wiro” atau “satria” (“The Trooper”, 1983) utama dunia persilatan, dengan salah satu legenda utama dunia heavy metal, Iron Maiden. Barangkali saja oprekan ini dapat menghadirkan hal baru, nuansa baru, cara pandang baru, sebuah “Brave New World” (2000), bagi penggemar keduanya.

...Dan hanya Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu.

Senin, 08 Juni 2009

AJENG DaN WIRO SABLENG...

Mungkin blogger yang satu ini tak asing lagi bagi kita. Blogger yang kesehariannya berprofesi sebagai (sesuai 'wawancara' saya dengannya via chatting di FB) ibu guru mapel TIK di MAN 3 Kediri ini, mewarnai blognya dengan warna damai, sehijau postingan2nya yang selalu bermakna dan penuh (meminjam istilah kesukaan seorang teman) “hikmah”. Na, udah bisa nerka kan? Yups, benar kawan2, bukan si Tersayang Buwel (Yank, hujaaan tuuuruuun lagiii... :P), bukan pula si misterius Ijoroyoroyo, tapi Mbak Agustin Wilujeng yang akrab dipanggil Mbak Ajeng, pemilik blog keren bernama Ajeng’s Blog, makhluk wanita ketiga yang mau menjadi teman partelon; yang rela berdesakan dengan kapak, hiu, dan musik gedumbrangan semata menghargai kehadiran partelon di dunia maya.

Fakta2 menarik seputar jeroannya Ajeng’s blog di atas, mungkin sudah menjadi pengetahuan banyak blogger lain. Namun satu hal yang mungkin terlewatkan oleh teman2, namun “berarti” bagi pertelon adalah apa yang saya temukan saat hari ini saya mampir di blog itu, tepatnya pada pukul 13.47 WIB; followers blog ini telah mencapai angka keren dan “keramat”, yaitu angka 212 (walaupun terakhir saya ngintip, jumlah itu sudah membengkak jadi 213!).

Sungguh, saya percaya, tak sedikit blogger lain yang followers-nya mencapai lebih dari angka itu, namun dilalah kebetulan saya berkunjung, jumlah 'anak kos'nya Mbak Ajeng pas diangka 212 itu.

So, gak berlebihan kiranya jika saya, atas nama Wiro Sableng dan Eyang Sinto Gendeng, teriring doa rahmah dan magfirah untuk almarhum Bastian Tito, mengucapkan selamat pada Mbak Ajeng dan tentu saja Mas Ardath (yang sayangnya saya ga ngerti blognya sehingga ga bisa dilink) sebagai follower ke-212.

Terakhir, saya kutipkan wejangan Eyang Sinto Gendeng pada Wiro Saksana sebelum si nenek sakti bau pesing itu melepas muridnya turun gunung merancah dunia persilatan dengan nama baru, "Wiro Sableng" (sebagaimana dituturkan dalam episode Empat Berewok Dari Goa Sanggreng):

”Segala apa yang ada di dunia ini selalu terdiri atas dua bagian, Wiro! Dua bagian yang berlainan satu sama lain tapi yang menjadi pasangan-pasangannya....”
Wiro Saksana kerenyitkan kening tak mengerti. ”Misalnya Eyang?” tanyanya.
”Misalnya...., ada laki-laki ada perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan? Tapi merupakan pasangan?!”
”Betul Eyang....”
”Misal lain.... ada langit.... ada bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air.... ada panas ada dingin. Ada hidup ada mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus ada bengkok, ada panjang ada pendek, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya
selalu begitu Wiro, Kemudian.... ada susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas semua itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang ciptakan kau, Wiro....?”
”Tidak tahu Eyang....”
”Bogrol!”
”Aku tahu Eyang....”
”Siapa?”
”Ibu sama bapakku.”
”Siapa yang menciptakan ibu sama bapak kau?”
”Nenek sama kakek....”
”Yang menciptakan nenek sama kakek....?”
”Nenek dari nenek dan kakek dari kakek....”
”Dan yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek....?”
”Ya nenek dari nenek dari nenek dan kakek....”
”Geblek!” bentak Sinto Gendeng. ”Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia!
Bapak kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau
dilahirkan sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di
dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itupun juga
diciptakan dengan kodrat iradatnya Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia
ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga
bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia miskin.
Sekarang aku mau tanya sama kau. Berapa kau punya mata?”
”Dua, Eyang.”
”Hidung?”
”Satu Eyang.”
”Lobang hidung?”
”Dua Eyang....”
”Mulut?”
”Satu....”
”Bibir?”
”Dua Eyang.”
”Kepala?”
”Satu....”
”Tangan?”
”Dua....”
”Kaki....?”
”Juga dua Eyang....”
”Kau punya biji kemaluan....?”
”Dua Eyang,” dan dalam hatinya Wiro memaki tapi geli.
”Kau punya batang kemaluan?”
”Satu Eyang....” Wiro geli lagi dan memaki lagi.
”Nah.... itu semua membuktikan di dunia ini kehidupan manusia adalah tak ubahnya seperti bilangan dua dan satu, satu dan dua, dua satu dua dan seterusnya. Angka dua dan satu itu selalu ada melekat dalam diri manusia. Dan semuanya itu hanya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa yakni Gusti Allah! Kehidupan dua dan satu ini, kehidupan dua satu dua ini, dan adanya dua satu dua ini tak bisa diingkari dan harus melekat dalam diri manusia! Manusia pasti akan merasakan senang susah, gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati, dan manusia juga musti percaya pada yang satu yakni Gusti Allah....”

Demikian, mohon maaf kalo Mbak Ajeng tak berkenan...

Kamis, 28 Mei 2009

WWP: Wiro-Wiki-Partelon

Bagi penggemar Pendekar Kapak Maut Naga geni 212 Wiro Sableng yang sudah lupa2 ingat (atau bahkan yang baru kenal dan ingin 'lebih dekat') dengan sosok pendekar nyentrik bin antik ini, lumrah mencari informasi “wiro sableng” lewat Eyang Google. Dan biasanya “orang pertama” yang direkomendasikan si Eyang untuk di”tanyai” adalah Mbah Wiki. Bahkan info Mbah Wiki tentang Wiro Sableng ini –saya lihat— sudah dipublikasikan secara “copas” di beberapa situs penggemar Wiro.

Secara umum, informasi dan data yang ditawarkan Mbah Wiki sudah lumayan. Namun, ada beberapa tambahan, kebingungan dan bahkan "pelurusan" yang perlu saya share di sini, dengan harapan dapat menjadi sumber informasi tambahan, dan --mungkin saja-- suatu saat (saya bermimpi) partelon jadi rujukan utama penggemar Wiro Sableng, hehehe...
(Catatan: bisa jadi segera setelah tulisan ini dipublikasikan, data dan info Mbah Wiki disunting).

Pertama, tambahan info tentang Beberapa Kesaktian Wiro Sableng: Mbah Wiki menyebutkan 7 pukulan sakti dan 1 jurus silat yang didapat Wiro dari 3 guru utamanya: Eyang Sinto Gendeng, Tua Gila (Dari Pulau Andalas) dan Datuk Rao Basaluang Ameh. Nah, saya ingin menambahkan beberapa pukulan sakti dan jurus silat Wiro yang juga legendaris, terbilang langka dan paling ditakuti di dunia persilatan bahkan manca negara (kan Wiro juga pernah melancong ke China serta Jepang?):

1. PUKULAN DINDING ANGIN BERHEMBUS TINDIH MENINDIH: Diajarkan Sinto Gendeng, berupa angin dahsyat yang berhembus menyebar dan menggempur susul menyusul hanya dengan sekali pukul. Keistimewaan pukulan ini adalah fungsi 3 in 1-nya; dpt digunakan menyerang, bertahan, sekaligus mengembalikan serangan lawan ke pemiliknya. Dalam episode HIDUNG BELANG BERKIPAS SAKTI, pukulan ini membuat Muning Kwengi kalang kabut, karena gempuran nenek berjuluk Iblis Pisau Terbang ini kandas dan mendapatkan dirinya terkatung2 di udara, tak bisa maju atau mundur, laksana tertahan dinding atos.

2. ILMU PEDANG PENDEKAR PEDANG AKHIRAT: Diajarkan dedengkot rimba kangouw Tiongkok , Pendekar Pedang Akhirat (Long Sam Kun), berupa tiga jurus ilmu pedang tingkat tinggi yang masing-masing bernama “Cip-hian Jay-bong (Tiba-tiba Muncul Pelangi)”, “Lo-han Ciang-yau (Malaikat Menundukkan Siluman)” dan “Kui-gok Sin-ki (Iblis Meratap Malaikat Menangis)”. Selain di episode –tentu saja— PENDEKAR PEDANG AKHIRAT, ilmu pedang ini –walaupun jarang sekali-- juga dikeluarkan oleh Pendekar 212 di beberapa episode lain, di antaranya dalam NERAKA PUNCAK LAWU.

Kedua, pelurusan info. Mbah Wiki menyebutkan bahwa jurus “Orang Gila Mengebut Lalat” adalah salah satu bagian dari rangkaian Ilmu Silat Orang Gila. Padahal, saudara-saudara, jurus “Orang Gila Mengebut Lalat” BUKAN bagian dari rangkaian Ilmu Silat Orang Gila (yang diajarkan Tua Gila pada Wiro saat si pendekar keblinger berambut gondrong ini bertualang di Pulau Andalas dalam episode BANJIR DARAH DI TAMBUN TULANG). Wiro sudah membekal jurus “Orang Gila Mengebut Lalat” warisan Eyang Sinto Gendeng sejak pertamakali ia turun gunung dengan menyandang gelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Dalam episode perdana berjudul 4 BEREWOK DARI GOA SANGGRENG dituturkan bahwa Wiro menggunakan jurus ini untuk ‘menyerang’ Sinto Gendeng saat guru-murid itu berlatih tanding di Gunung Gede!

Ketiga, kebingungan (membaca) info. Dalam sub-judul Adaptasi disebutkan bahwa “Sinetron dibintangi Herning Sukendro dan film dibintangi Abhie Cancer sebagai Wiro Sableng”. Padahal –seingat saya-- Wiro Sableng versi layar perak dibintangi oleh Tonny Hidayat (salah satu filmya berjudul SILUMAN TELUK GONGGO, diadaptasi dari episode WS berjudul sama) dan Atin Martino (dalam film semisal SATRIA KAPAK TUTUR SEPUH, versi 'ganti judul' dari episode Rahasia Lukisan Telanjang) ; sedangkan di layar kaca/sinetron, yang ‘dipercaya menghidupkan’ karakter Pandekar 212 adalah Herning Sukendro (Kenken) dan Abhie Cancer.

Juga, masih dalam sub-judul Adaptasi, disebutkan bahwa Wiro Sableng telah difilmkan dengan judul-judul PERAMAL SINTING & PENDEKAR KECAPI, PEMBALASAN NYOMAN DWIPA, dan PEREBUTAN LUH AYU TANTRI. Sesungguhnyalah ke tiga judul tersebut bukanlah film, tapi sinetron (produk Herry Topan Intercine) yang kemudian dirilis dalam format VCD. Bahkan –yang paling ‘aneh’-- PEREBUTAN LUH AYU TANTRI dan (ada lagi rilisan VCD ‘senada’ namun dengan judul) SEPAK TERJANG COKORDA GDE JANTRA sejatinya adalah satu rangkaian kisah dengan PEMBALASAN NYOMAN DWIPA.

Minggu, 25 Januari 2009

TENTANG GAMBAR-GAMBAR DI ATAS (1)

WIRO SABLENG (tengah), bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Wiro Sableng adalah tokoh utama era Dunia Persilatan dalam serial cerita silat karya (alm.) BASTIAN TITO. Gambar di atas dilukis oleh ARIE untuk sampul novel serial Wiro Sableng ke 20, PENDEKAR PEDANG AKHIRAT (Lokajaya, 1985).


(Untuk blog ini, gambar tersebut sedikit saya edit, terutama warna bajunya).

Sayangnya, serial superhero ‘jadul’ yang cukup digemari dan telah mencapai sekitar 200-an judul ini ‘terpaksa’ berhenti di tengah jalan karena sang pengarang meninggal dunia pada tanggal 212-006 (2 Januari 2006) di usia sekitar 60 tahun (Saya beruntung sempat bertemu beliau 2 bulan sebelumnya [bertepatan bulan Ramadhan] dengan diantar seorang teman yang tinggal di daerah Klender. Sayang foto-foto saya bersama beliau saat itu kini masih ketelingsut entah dimana dan sedang dalam proses penyidikan, penyelidikan dan pencarian. Jika sempat, In Syā’ Allāh, saya akan tulis kesan saya tentang pengarang low profile ini).


Menurut Mbah Wiki, Mas Wiro Sableng ini pertama kali terbit pada 1967, hasil rekaan Bastian Tito dengan referensi Sejarah Tanah Jawa. Ini lalu mengingatkan saya ketika pada pertengahan 1987, waktu saya menginap di rumah seorang saudara di Jl. Kalimas Hilir Surabaya, saya pernah menemukan sebuah majalah usang [saya lupa nama dan tahun terbitnya, tapi yang jelas, ejaannya belum EYD] yang memuat cerita Wiro Sableng sebagai cerita bersambung dengan judul MAMPUSLAH BERSAMA ZATOICHI!

‘Petualangan’ Wiro Sableng ini juga pernah beberapa kali merambah layar perak dengan Tonny Hidayat sebagai Wiro Sableng; serta layar kaca/sinetron dengan Herning Sukendro (Kenken) dan Abhie Cancer sebagai Sang Pandekar 212
(saya dulu pe
rnah berandai-andai, Wiro Sableng difilmkan dengan Dede Yusuf sebagai Wiro Sableng dan digarap oleh sutradara asal Hongkong, Tsui Hark :-p).

Sebagai ‘warga negara Indonesia’, Wiro Sableng telah terdaftar pada Departemen Kehakiman RI Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek di bawah nomor 004245.