Tampilkan postingan dengan label Tribute. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tribute. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2009

Tribute to Bloggers (1)

Terlahir bernama Muhammad Faizi, ngetop dgn nama Faizi L. Kaelan, dan sejak kecil telah biasa dipanggil "Lora", blogger ini adalah sosok dengan anugerah multitalent yang “nyaris langka”, termasuk “akhlaq” penampilannya yang ber"template" sederhana dan terkesan --meminjam istilah seorang saudara-- “antik”, sesederhana dan se”antik” tongkrongan padepokannya. Dengan kesederhanaan itulah ia bisa “menggauli” setiap orang dengan berbagai status sosial berbeda tanpa terlihat “lebih” atau “kurang”. Namun dengan kesederhaan itu juga, ia tidak serta merta menjadi sebuah buku yang mudah dibuka lalu dibaca, konon pula ditafsiri (terbukti dari beberapa postingannya yang memerlukan kerut di dahi dan bibir agak monyong untuk "sedikit" bisa dipahami "hikmah"nya; jenis tulisan kesukaan seorang teman yang biasa "melihat apa-apa" di balik sebuah artikel :P). So, tulisan ini tak lebih dari sekedar “mengenalkan” Anda pada seorang Lora bernama M. Faizi sesuai apa yang saya “lihat”, bukan yang saya “pahami”, karena ternyata keberuntungan saya dengan sempat menjadi teman sekamar-kosnya selama beberapa bulan pun tidak banyak membantu untuk benar-benar dapat "melukis"nya secara memadai.

Lora M. Faizi tetap enjoy berkreasi dengan unit CPU built up bermerek IBM dengan processor 450 MHz alias pentium (menginjak) III, walau ia adalah seorang sastrawan, budayawan, penulis, penterjemah dan editor “berkelas” yang tulisan2nya –baik berupa puisi, esai, cerpen atau terjemahan (biasanya dari bahasa Arab)-- telah dimuat di banyak media cetak, antara lain: Republika, Aula, Pikiran Rakyat, Ulumul Qur’an, Basis, Surabaya Post, Serambi Indonesia, Suara Muhammadiyah, MPA, Kedaulatan Rakyat, Memorandum, Jawa Pos, Romansa, Riau Pos, Lampung Post, Banjarmasin Pos, Fajar, Horison, Pedoman Rakyat, Bahana (Brunei Darussalam) dan majalah kampus, serta banyak penerbitan daerah. Belum lagi buku2 antologi puisi dan kumpulan cerpen yang telah diterbitkan beberapa penerbit seperti Ittaqa Press, Bayu Indra Grafika, Diva Press, Pustaka Jaya, Dinas Kebudayaan Jakarta (dan guku terbaru, Reasons for Harmony, diterbitkan oleh Ubud Writers and Readers Festival-HiVos, 2008).

Lora M. Faizi juga tidak canggung memakai “aksesori” rilisan jaman “sebelum masehi” semacam hape Nokia 6310i (produk 2003) dan Ericsson R520m (2002) walaupun ia –bersama 9 orang Indonesia lainnya—berada di tengah perhelatan para penulis internasional di Ubud, Bali, pada 14-19 Oktober 2008. Bahkan pada Sesi Pembukaan acara bertajuk Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) itu, ayah dari (masih) 1 putri dan suami dari (juga masih) 1 isteri ini didaulat membacakan puisi bersama Muni'am Al-Faker (Irak), Sharanya Manivannan (India), Martin Jankowski (Jerman) dan Iyut Fitra (Sumatera). Toh, acara yang disebut sebagai "Among the Top 6 Literary Festival in the World" oleh majalah Harper's Bazaar (U.K) ini, di mata "pesantren" seorang Lora M. Faizi hanyalah acara biasa dan “agak kacau” hanya karena minuman yang tersedia cuma “si muskir” wine dan sama sekali tidak menyediakan minuman “sehidup semati”nya, kopi.

Lora M. Faizi pun tak terlihat mati gaya kemana-mana mengendarai mobil Mitshubishi Colt T-120 lansiran 1980 seraya menikmati kegagahan hard rock dari perangkat audio berstyle “menyesuaikan”, walaupun --sebagai seniman musik-- ia pernah "duduk" bersama Paul Gilbert (eks gitaris Mr.Big) dalam even workshop gitar di New Java Café, 2002. Pun ia pernah meraih gelar The Best Bass Player dalam Festival Band Antar IAIN se-Jawa di Bandung pada 1997, sedangkan bandnya –ESKA Rock Band—menyabet Juara Umum. Juga (pernah) menjadi additonal bass player untuk Singoranu Band (Juara Favorit Festival Gita Pesona Mahardika,1999); dan sempat digamit Relief Band, Band Favorit dalam Parade Band “Say No To Drug” di Kridosono (sepanggung bersama Jikustik), 1999. (Namun dunia musik yang “mukhtalaf fih” itu kini ia “lepaskan” begitu saja. Dunia musik baginya --mungkin-- tak lebih dari sekedar “persinggahan” yang tidak harus ia keloni dalam perjalanan melintasi siang dan menempuh malam menuju pagi; tidak pula harus keluar masuk bersama setiap tarikan dan hembusan nafasnya).

Dengan “perjalanan” karir dan prestasi se”gawat” itu, Lora yang pada 5 Syawal 1428 H/16 Oktober 2007 lalu secara de facto “naik pangkat” menjadi "Kyai" ini tetap rajin dan disiplin menjadi “komandan” tahlil Sarwah Mor Soksok (bersama masyarakat kampung dan pedesaan sekitar kediamannya) ditemani sang ajudan setia yang juga tak kalah antik, Pak Amir.

Saya akhiri “perabaan” saya atas sosok “si tangguh yang tak risau” bernama K. M. Faizi, S. Ag., M.Hum. ini dengan salah satu favorite quotations –nya: “Mungkin hanya ini yang bisa kami sampaikan...”