Tampilkan postingan dengan label martial arts actors. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label martial arts actors. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

A MATTER OF LIFE AND DEATH

Beberapa waktu lalu, saya sudah bicara sedikit tentang salah satu sub genre film2 kesukaan saya yaitu thriller-horror. Sekarang, dengan judul A MATTER OF LIFE AND DEATH ini, saya kembali ingin ‘mempertanggungjawabkan’ sub-genre lain yang juga demenan saya, yaitu thriller-action (ato diringkas saja jadi action/laga, gitu).

Film action adalah sebuah thriller dengan alur kisah fokus pada 1 atau 2 orang karakter utama sebagai ‘pahlawan’nya, dengan ‘motif’ khas laga semacam balas dendam, harga diri, pelaksanaan tugas negara dan sebagainya. Tak heran jika kemudian bintang utamanya lumrah memerankan sosok polisi, tentara (baik masih aktif atau sudah berpangkat ‘mantan’), agen pemerintah, bahkan ‘orang biasa’ yang mendadak jadi pahlawan hanya karena faktor right guy in a wrong place at a wrong time.

Karakteristik umum film jenis ini seringkali berupa situasi berpacu dengan waktu; tokoh protagonis-antagonis yang jelas; menampilkan banyak adegan kekerasan dari hulu ke hilir yang berupa tembak menembak, kejar-kejaran mobil (sampai kecelakaan dahsyat), duel senjata api (seperti dalam film2 wild west atau lazim disebut film koboi), hand-to-hand combat alias pertarungan tangan kosong, ledakan; dan berbagai adegan gegap-gempita lainnya. Film-film ini –bisa dipastikan-- juga memiliki elemen film drama, misteri dan kriminal bahkan horror, yang tidak terlalu ditonjolkan.

Secara spesifik, film laga –menurut saya-- bisa dikategorikan dalam banyak kelompok. Di bawah ini adalah 3 kategori film laga versi saya. Dan seperti biasa, saya menamai masing2nya dengan nama yang saya comot dari judul album/lagu beberapa band pengusung aliran heavy metal:

1. BE QUICK OR BE DEAD (atau “laga tarung”): film2 action yang menitikberatkan pada penggarapan secara artistik dan maksimal aksi pertarungan tangan kosong berbasis seni beladiri, dengan bintang utama yang –biasanya dan seharusnya-- juga menguasai beladiri (walaupun pihak produser kerap masih merasa perlu melibatkan fighting coreographer). Memang terkadang ada adegan tembak menembak dan unsur2 action yang lain, namun itu tak lebih sekedar sisipan belaka. Dalam tipe ini, bermunculan nama2 legendaris dari berbagai negara dan bangsa yang sukses sebagai aktor berbekal (rata2 lebih dari satu cabang) ilmu beladiri tingkat tinggi.

Bisa disebut bahwa pionir laga tipe ‘bag-big-bug’ ini adalah Bruce Lee (master Kung Fu, khususnya cabang Wing Chun dan pencipta aliran Jeet Kune Do), yang berjaya pada era 70-an dgn film2 antara lain The Big Boss (a.k.a Fist of Fury, 1971), Fist of Fury (a.k.a The Chinese Connection, 1972), Way of The Dragon (a.k.a Return of the Dragon, a.k.a Revenge of the Dragon, 1972), Enter The Dragon (1973) dan Game of Death (1973). Sosok yang kematiannya disesaki aroma kontroversi ini cukup besar pengaruhnya bagi kemunculan ‘pendekar’2 di dunia film dengan bebagai aliran seni beladiri masing2, semacam Chuck Norris, David Carradine, Jackie Chan, Sammo Hung, Sho Kosugi, Steven Seagal, Jean Claude Van Damme, Dolph Lundgren, Jet Li, Donnie Yen, Brandon Lee (putera Bruce Lee), Mark Dacascos, Billy Banks, Lorenzo Lamas, Michael Jay White, Jeff Speakman, Cynthia Rothrock, Michelle Yeoh, Cathy Long, Matt Mc.Colm, David Bradley, Richard Norton, Don “The Dragon” Wilson, Wesley Snipes, Phillip Rhee, Gary Daniels, Daniel Bernhardt, Bryan Ganesse, Thomas Ian Griffith, Olivier Gruner, Jerry Trimble, Jason Statham, Scott Adkins, dan sebagainya (bejibun, bo!), termasuk martial artists spesialis bad guys semacam Cary-Hiroyuki Tagawa, James Lew dan Bolo Yeung (yang terakhir ini pernah juga ‘ngerasain jadi orang baek’ dalam Shootfighter, 1992); dan yang paling fenomenal saat ini, Tony Jaa (aktor laga multi talent asal Thailand yang konon sedang jadi rasan2 untuk ditarik ke Hollywood). Dari negeri kita juga ada nama2 legendaris seperti Advent Bangun, Barry Prima, Willy Dozan, Johan Saimima, George Rudy, Advent Christie, Dede Yusuf, Marcelino Lefrandt dan Arie Wibowo.

Tipe ini juga bisa dibagi lagi menjadi 3 macam:

Pertama, film2 laga yang sepenuhnya ‘pamer’ beladiri dengan adegan full body contact mendominasi durasi film. Settingnya pun kebanyakan adalah arena atau ring. Anda yang penggemar film2 laga tentu masih ingat judul2 semacam Bloodsport (1988- Van Damme, disusul beberapa sekuelnya dengan aktor Daniel Bernhardt), Kickboxer (1989-Van Damme, juga dengan beberapa sekuelnya dengan aktor Sasha Mitchell sampai Mark Dacascos. Juga beberapa film sejenis dangan aktor Loren Avedon, Billy Blanks, John Barrett, Dale “Apollo” Cook, dan lain2), A.W.O.L (a.k.a Lionheart a.k.a Wrong Bet, 1990-Van Damme), The Quest (1996-Van Damme), Sidekick (1992-Chuck Norris), Best of The Best 2 (1993-Phillip Rhee), Shootfighter (a.k.a Fight to the Death, 1992-Bolo Yeung), dan Fearless (a.k.a Huo Yuanjiam, 2006-Jet Li).

Kedua, jenis film2 laga yang paling banyak dibuat; film2 yang ‘seolah’ bercorak action secara umum, tapi ‘diam-diam’ menonjolkan kemampuan (bukan akting tapi) beladiri aktor2 utama-nya. ‘Skenario’nya pun lebih variatif ketimbang yang pertama:

Ada yang dibuat dengan formula ‘die hard’; satu karakter utama yang harus pontang-panting dan babak belur ngurusin ‘masalah hidup-mati’, di lokasi setting yang serba terbatas pula. Sebagai illustrasi, ada Death Warrant (1990-Van Damme, bersetting penjara), Under Siege (1992-Steven Seagal, bersetting kapal perang AS, USS Missouri), Under Siege 2: Dark Territory (1995-Steven Seagal, bersetting kereta api), Passanger 57 (1992-Wesley Snipes, bersetting pesawat penumpang), dan Deadly Outbreak (a.k.a Siege, 1996-Jeff Speakman, bersetting gedung laboratorium).

Ada juga garapan berstyle spionase dengan jalinan kisah yang agak rumit, intrik politik, plus setting yang melibatkan banyak tempat bahkan antar negara. The Art of War dan The Art of War II: Betrayal (2000 dan 2008-Wesley Snipes), juga --yang paling keren dan paling baru-- 3 jilid The Transporter (2002, 2005, dan 2008-Jason Statham) adalah contohnya.

Pun ada yang digarap dengan ‘aroma’ sci-fi semacam Cyborg (1985-Van Damme, yang diikuti banyak film sejenis), Universal Soldier (1992-Van Damme), TC_2000 (1993-Billy Blanks), Universal Soldier: The Return (1999-Van Damme), Time Cop (1994-Van Damme), Sci-Fighter (2004- Don 'The Dragon' Wilson, Cynthia Rothrock, Lorenzo Lamas), dan lainnya.

Lalu, ada yang ber’bau’ thriller-horror semacam Hellbound (1994-Chuck Norris), Marked for Death (1990-Steven Seagal), The Minion (1998-Dolph Lundgren), trilogi Blade (1998, 2002, 2004-Wesley Snipes) dan I’m, Omega (2007-Mark Dacascos).

Terus, ada pula yang berbasis fighting game populer, semacam Street Fighter (1994-Van Damme), Double Dragon (1994-Mark Dacascos), Mortal Kombat (terutama versi serial TV-nya, Mortal Kombat: Conquest, yang di Indonesia pernah tayang di RCTI pada 1998-1999 dengan salah satu pemeran utama Daniel Bernhardt) dan Fist of The North Star (1995-Gary Daniels).

Juga ada yang dibuat dengan setting jaman baheula; jenis film yang menjadi kesukaan sineas2 Hongkong dan Indonesia, walaupun studio Hollywood juga sempat membuat beberapa (dan tetap ‘berwajah’ Cina), semisal Once Upon A Time in China And America (1997-Jetli) dan Shanghai Noon (2000-Jackie Chan).

Kemudian juga, film2 tarung yang kental dengan dengan balutan komedi. Contohnya sama sekali tidak sulit; rata-rata film Jackie Chan adalah film “bag-big-bug sambil haha-hihi” (atau sebaliknya?), baik yang dibuat di Hongkong atau produk Hollywood.

Terakhir, yang paling umum, film2 laga tarung yang digarap dengan konsep “I’ll do this in a hard way!”. Jumlahnya pun mencapai bahkan ratusan judul dan --bisa dikatakan-- semua aktor ‘tukang gebuk’ yang saya sebutkan di atas pernah memerankan karakter utamanya (baik rilisan studio2 besar atau yang dirilis langsung dalam format home video). Sebagai illustrasi, beberapa judul yang (cukup berkesan bagi saya dan) bisa saya sebutkan antara lain: Double Impact (1991,-Van Damme), Out for Justice (1991-Steven Seagal), Rapid Fire (1992-Brandon Lee), Blood for Blood (1995-Lorenzo Lamas), Drive (1997-Mark Dacascos), Bride of Dragons (a.k.a Bridge of Dragons, 1999-Dolph Lundgren), Tom Yun Goong (a.k.a The Protector, 2005-Tony Jaa) dan IP Man (2008-Donnie Yen).

Ketiga, film3 laga tarung yang plot, tema, maupun alur ceritanya lumrah mengadaptasi salah satu dari 2 tipe di atas, atau bahkan kedua-duanya sekaligus. Bedanya, tipe ini –secara terang2an atau ‘malu2’—dibuat sebagai media pengenalan jenis beladiri tertentu, seperti aikido oleh Steven Seagal (dalam Above The Law a.k.a. Nico, 1988), capoeira oleh Mark Dacascos (Only The Strong, 1993), kenpo-karate oleh Jeff Speakman (Street Knight, 1993), tae kwon-do oleh Phillip Rhee (Best of The Best, 1989), savate (beladiri khas Prancis) oleh Olivier Gruner (Savate, 1995), dan muay thai alias thai boxing oleh Tony Jaa (Ong Bak a.k.a Muay Thai Warrior, 2003. Walaupun Hollywood telah membuat banyak film sebelumnya yang ‘membawa-bawa’ nama thai boxing, tapi film inilah yang paling detil memperlihatkan kekayaan gerakan2 khas beladiri asli Thailand itu).

O iya, salah satu kreatifitas keren dalam sebuah film laga tarung yang juga saya sukai adalah ide ‘mengadu-domba’ 2 aktor laga terkenal (yang sama2 biasa jadi aktor utama) dalam satu film. Way of The Dragon (1972, yang menampilkan fighting scene dahsyat Bruce Lee vs. Chuck Norris) mungkin bisa disebut pendahulu dari film model begini. Lalu ‘menyusul’ film2 semodel dengan adegan fighting keren semacam: Black Eagle (1988-Sho Kosugi vs. Van Damme), Showdown in Little Tokyo (1991-Dolph Lundgren vs. Brandon Lee), Cold Harvest (1999-Gary Daniels vs. Bryan Ganesse), Exit Wounds (2001-Steven Seagal vs. Michael Jai White), Cradle to The Grave (2003-Jet Li vs. Mark Dacascos), serta –yang terbaru—The Forbidden Kingdom (2008-Jackie Chan vs. Jet Li), di samping Universal Soldier dan Universal Soldier: The Return (yang masing2 mengadegankan Van Damme vs. Dolph Lundgren dan Van Damme vs. Michael Jai White).

Dan, sungguh, saat ini saya berharap ada film yang mempertemukan Donnie Yen vs Tony Jaa...

(--mungkin—bersambung ke kategori 2 dan 3)