Tampilkan postingan dengan label man-eaters. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label man-eaters. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2013

PIRANHA ATTACK: Serangan Brutal di Hari Natal!

Kemarin sore, sebangun saya dari tidur siang, ibunya anak-anak mengabarkan sebuah berita menarik: “Mas, tadi ada berita: Kalo ga salah di Pantai Argentina, ada piranha menyerang orang-orang yang sedang berlibur di pantai pas tanggal 25 Desember. Korbannya sampe 70 orang.”

Anak sulung kami yang kebetulan juga menyimak, menyela: “Pantai?”

“Iya, kata beritanya sih di pantai…” kata sang Ibu.

Lalu si sulung mengomentarinya dengan pernyataan dan pertanyaan yang sama yang sempat melintas di benak saya: “Piranha kok di pantai. Di sungai kali ya?”…

***

“Piranha” dan “pantai”, dua kata yang 'kontradiktif' ini membuat saya bergegas bangun lalu membuka internet; searching ke sana-ke mari, ke situs-situs berita, dan kemudian menghasilkan kesimpulan bahwa peristiwa serangan itu benar-benar terjadi. Korban luka-luka (ringan-berat, rata-rata di bagian tangan dan kaki) mencapai 60-70 orang,termasuk 20-an anak-anak dan seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang kehilangan sebagian dari salah satu jarinya. Peristiwa itu berlangsung di tepian sungai Parana di dekat kota Rosario, sekitar 300 km. dari Ibu Kota Buenos Aires, pada saat perayaan dan liburan Natal tahun ini. Sampai di sini, teka-teki tentang kata "pantai" terjawab sudah. Jadi yang dimaksud adalah pantai alias tepi sungai. Dan bisa dipastikan pula bahwa para penyerang itu adalah predator air tawar. Tinggal sekarang mencari kejelasan kata "piranha": benarkah piranha? Jika iya, keluarga piranha mana yang bertanggung jawab?.

Dari sekian fakta yang disuguhkan para pemberita itu, ada satu hal yang menarik: rata-rata mereka memberitakan bahwa yang menyerang bukanlah ‘piranha beneran’, tapi ‘sepupunya’ yang dikenal dengan nama “bitingfish” atau bernama ilmiah “palometa”.

Palometa? Kembali saya melacak, karena mengingat sependek banget yang saya tau, palometa adalah sejenis ikan yang hidup di laut, bukan di air tawar. Pada akhirnya saya menemukan jawaban, bahwa PALOMETA itu ada 3 jenis. 2 di antaranya adalah ikan air asin: Trachinotus goodei dan Oligoplites palometa. Keduanya memang hidup di laut. Nah, jenis ketiga dikenal dengan nama ilmiah PYGOCENTRUS PALOMETA.

Pygocentrus! Ini jelas marga piranha dan jelas mewakili predator air tawar dari keluarga pygo, yang memang dikenal dengan reputasinya sebagai para mesin pembunuh yang beraksi secara berkelompok. Oleh karena selama ini saya hanya mengenal ada 4 macam marga pygo, yakni (1) pygocentrus nattereri (red-beliied piranha), (2) pygocentrus notatus/caribe, (3) pygocentrus ternetzi, dan (4) pygocentrus piraya, maka pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: "Apa pula pygocentrus palometa ini?"

Varian pygocentrus 
Dari informasi yang saya kumpulkan, validitas tipe ini masih diperdebatkan. Ilmuwan Peneliti Piranha, Frank Magallanes, pada 2007, menyatakan bahwa: “Jenis ini diidentifisir oleh (Achille) Vlanciennes (1794–1865, seorang Zoologist asal Paris, Prancis), namun Dr. William L. Fink atau Dr. Antonio Machado-Allison tidak menemukan spesimennya. Satu-satunya sumber informasi hanyalah jurnal-jurnal dan tulisan ilmiah. Foto-foto yang saya lihat, yang konon dianggap sebagai P. Palometa, sebenarnyalah lebih merujuk pada p. Nattereri (RBP). Tak satupun (dari apa yang mereka sebut sebagai P. Palometa itu) yang diketahui berada di wilayah penyebaran RBP. Menurut saya, P. Palometa lebih mengarah pada jenis pacu atau pristobrycon.”

Lebih jauh, pendiri (OPEFE - Oregon Piranha and Exotic Fish Exhibit) ini menjelaskan: "Palometa adalah bahasa Spanyol yang digunakan di Venezuela untuk menyebut segerombolan ikan yang memiliki semacam ‘ikatan’ dengan piranha namun dari marga Myleus, Mylossoma dan Metynnis (Nah, marga ini di kalangan para penggemar ikan hias dikenal sebagai "ikan dollar" dengan berbagai variannya). Jadi, validitas p.palometa masih dipertanyakan.”*

Paparan di atas membentuk sebuah gambaran di benak saya: ada dua kemungkinan penyerangnya: piranha atau salah satu varian dollar.

Saatnya mendiskualifikasi. Beberapa waktu lalu, beredar berita tentang serangan pacu yang mengincar alat kelamin kaum pria. Selain itu, saya memelihara beberapa silver dollar (Myleus arnoldi) yang sesekali juga memangsa ikan-ikan kecil. Kasus terakhir, mereka memutus salah satu sungut silver aro saya. Intinya, keluarga dollarpun bisa saja menyerang. Namun yang sulit diterima adalah, mereka biasanya menyerang hanya dalam kondisi terprovokasi. Sangat tidak mungkin mereka menjadi agresif di tengah kerumunan manusia dan suasana ramai sebagaimana saat di sungai Parana itu. Dengan demikian, untuk saat ini, pacu, dollar, dan sebangsanya bisa dikesampingkan.

Piranha? Tidak bisa juga dipastikan, walaupun kecenderungan dugaan saya mengarah ke ikan 'jelek' ini. Pertimbangannya, adanya identifikasi oleh si ‘syaikhu-l farânihâ wa imâmu-l serrasalminae’ Frank Magallanes dengan menyebut bahwa palometa mengarah pada RBP dan/atau marga pristobrycon. Pristobrycon adalah sub-marga piranha yang terbilang langka. Sampai saat ini, ada empat jenis pristobrycon, yakni: (1) Pristobrycon careospinus (yang dianggap paling langka), (2) Pristobrycon maculipinnis, (3) Pristobrycon striolatus, dan (4) Pygopristis denticulata. Namun, selangka apapun mereka, kemungkinan bahwa merekalah penyerang masih cukup besar.

Varian pristobrycon

Kemungkinan yang juga tak kalah besarnya adalah bahwa yang menyerang para tukang jemur pinggir sungai Parana itu adalah pygocentrus nettereri alias red-bellied piranha. Selain didasarkan pada penjelasan Magallanes, serta populasi mereka yang masih besar, pertimbangan saya juga muncul setelah menemukan situs yang mempertegas bahwa “palometa” adalah juga “serrasalmus nattereri” (walapun toh saya sedikit dibingungkan juga oleh situs ini: pertama, kenapa situs ini menggunakan kata "serrasalmus", bukan "pygocentrus"?; Kedua, foto yang dipajang lebih menunjuk pada pygocentrus notatus/cariba daripada p. nattereri, hihihihi...)



Kesimpulannya, apakah sebenarnya "palometa" yang disebut-sebut dalam kasus serangan ini? Kemungkinan besar memang piranha, terlepas apakah dari marga langka pristobryco, ataukah dari marga pygocentrus.

Demikian sekilas yang bisa saya sampaikan –Wa-Llâhu a’lam bi-s Shawâb.

____________________
Ref.:
http://www.independent.co.uk/news/world/americas/sixty-injured-in-piranha-attack-on-christmas-day-9026047.html
http://www.washingtontimes.com/news/2013/dec/26/60-swimmers-injured-piranha-attack-christmas-day/
http://www.digitaljournal.com/sports/attack-of-the-palometas-biting-fish-in-argentina-injure-dozens/article/364671
http://piranha.dee.cc/bunrui/Pygocentrus_palometa.html http://www.youtube.com/watch?v=meZXdytSXa8
http://www.angelfire.com/biz/piranha038/palometa.html http://en.wikipedia.org/wiki/Palometa
http://home.telfort.nl/lucienbal/species/palometa.html http://en.wikipedia.org/wiki/Achille_Valenciennes
http://www.angelfire.com/biz/piranha038/meet_Frank.html
dan beberapa situs lain serta foto koleksi pribadi.

Catatan:
*kalimat bercetak miring dalam kutipan pernyataan Frank Magallanes adalah tambahan dari saya.

Jumat, 09 Desember 2011

9 Worst Man-Eaters: THE X FACTOR

Ikhtitâm:

Di alam liar, harimau, hiu, singa, beruang, buaya, serigala, ular, dan sejenisnya, sama-sama dikenal dengan reputasi sebagai predator puncak dalam ekosistem masing-masing. Secara umum, mereka hanya menjadi ancaman bagi binatang lain yang memang merupakan mangsa alami mereka. Namun, dalam situasi tertentu, para predator ini kerapkali harus bertemu dan terlibat kontak fisik dengan para homo sapiens.

Belakangan ini memang amat jarang adanya laporan serangan predator atas manusia yang berakibat fatal (selain serangan ular berbisa yang relatif konstan pertahun). Malah sebenarnya para predator cenderung menghindar dari terlibat kontak dengan manusia. Kalaupun terjadi pertemuan, maka, tentu saja, senjata alami semacam taring dan cakar tak mampu melawan senjata rakitan manusia yang semakin lama berkembang semakin mematikan. Sehingga kebanyakan ‘perseteruan’ predator-manusia selalu berakhir dengan kematian bagi para predator itu. Belum lagi dalam kasus saat predator berubah status dari ‘pemangsa’ menjadi ‘mangsa’ di mata serakah (sebagian) manusia.

Statistik memang menunjukkan, ular adalah predator yang paling banyak menyebabkan kematian manusia. Namun pembunuhan oleh ular ataupun spesies buas lainnya, pada umumnya, tidak dilakukan dalam rangka ‘memangsa’, tapi lebih atas dasar pertahanan diri atau adanya unsur ‘kebetulan’; mereka melihat manusia sebagai sebuah ancaman. Namun bagaimanapun, para predator dalam catatan-catatan tersebut di atas, secara individual, benar-benar menjadi amat agresif, mematikan, dan mendudukkan manusia dalam ranking teratas daftar menu mereka.

Paling tidak, ada lima faktor yang melatar belakangi kasus-kasus serangan binatang atas manusia: Pertama, ‘perebutan’ sumber makanan dan hak hidup di lingkungan yang sama. Kasus Gustave, Tom, dan para beruang bisa menjadi contoh.

Kedua, murni asal terkam. Faktor kedua ini banyak ditemui dalam kasus serangan hiu dan para macan semisal harimau serta singa. Dalam perspektif hiu, orang yang sedang berenang, dilihat dari bawah, amat mirip dengan anjing laut, mangsa alami mereka. Dalam konteks serangan macan, menurut penelitian, manusia yang sedang membungkuk atau jongkok lebih banyak diserang daripada mereka yang berdiri tegak.

Ketiga, faktor keterbatasan fisik (baik karena cacat atau karena usia lanjut) yang manjadi hambatan serius untuk mendapatkan makanan secara alami. Insiden amukan para macan di Champawat dan Panar adalah contoh yang cukup gamblang. Tak tertutup kemungkinan, mengganasnya singa The Ghost dan The Darkness juga dilatar-belakangi hal yang sama. Namun saya lebih cenderung mengaitkan insiden Tsavo itu dengan faktor kedua di atas. Tapi, seandainya yang mengamuk adalah seekor singa, bukan dua ekor, maka kemungkinan terlibatnya faktor ketiga ini menjadi semakin besar.

Keempat, naluri untuk bertahan saat terancam. Pada situasi seperti ini, siapapun atau apapun akan melakukan hal yang sama: bertahan dan membela diri sesuai kemampuan, sebagaimana telah ditunjukkan Si Buas dari Gevauden. Tapi seandainya si Pemangsa Misterius di Perancis itu adalah benar serigala, maka faktor pertama pun akan menjadi logis.

Kelima, semakin berkurangnya habitat disebabkan perubahan cuaca yang ekstrim. Namun konsekwensi dari hal ini –sebagaimana faktor keempat— tidak hanya menyebabkan terjadinya serangan predator atas manusia, tapi serangan binatang pada umumnya, bahkan yang ‘sekelas’ semut dan lebah sekalipun.

Faktor apapun yang terjadi, jika sampai melahirkan seekor pemangsa manusia, maka resikonya akan sangat besar. Seekor predator yang sudah mencapai level pemangsa manusia, diyakini secara ilmiah akan tetap membunuh walaupun tidak sedang kelaparan.

Pada akhirnya, setiap insiden penyerangan binatang atas manusia, baik yang spektakuler sebagaimana dalam daftar di atas, atau yang sekedar mengakibatkan cedera ringan, biasanya selalu melahirkan pertanyaan yang sama: “siapa melanggar batas siapa?”

Jawabannya bisa kita cari dalam kedirian kita masing-masing sebagai “khalifah” di bumi ini…

Wa-Llâhu Subhânahû wa Ta’âlâ a’lam bi-s shawâb…

***

Partelon, Muharram 1433 H – Desember 2011
Al-Faqîr ilâ Rahmati Rabbi-hi-l ‘Allâm,
Zainur Rahmân Hammâm

Kamis, 08 Desember 2011

9 Worst Man-Eaters #01 - GUSTAVE: MESIN PEMBUNUH MASA KINI

Welcome to the Final Countdown!

Sebuas-buasnya para predator dalam catatan-catatan sebelumnya, toh mereka (paling tidak, diyakini) telah tiada. Kebrutalan dan keganasan mereka saat ini hanya menjadi horor dalam memori manusia. Mereka tak lagi menjadi ancaman; ya, mereka semua… kecuali yang satu ini!

Kembali ke Afrika, tepatnya di Republik Burundi, sebuah negara yang dilanda konflik parah sepanjang pertengahan abad XX. Perbedaan politik warga suku Tutsi dan Hutu telah melahirkan kerusuhan dan perang saudara berkepanjangan di negara yang telah berusia 5 abad ini. Tanah memerah oleh darah yang tertumpah. Korban berjatuhan. Namun, seolah tak mau ketinggalan, ada spesies makhluk lain yang ikut meramaikan pesta kematian di Burundi. Dan sialnya, walaupun sejak Agustus 2008 lalu kondisi politik di Burundi berangsur pulih, sang makhluk nampaknya belum tertarik untuk mengakhiri apa yang telah dimulainya sejak 20 tahun terakhir ini; seekor buaya Nil jantan (Crocodylus niloticus) berukuran raksasa. Dengan panjang lebih dari 6 meter dan berbobot sekitar 1 ton, buaya yang dikenal dengan panggilan akrab "Gustave" ini sukses menebar teror di sepanjang sungai Rusizi sampai ke pantai Utara danau Tanganyika!

Ukuran buaya ini memang mengukuhkannya sebagai predator tunggal terbesar di seluruh Afrika (karena pada umumnya, saat ini, buaya Nil berukuran panjang maksimal sekitar 5 meter). Namun bukan ukuran fisik semata yang membuat buaya dari Burundi ini menjadi monster menakutkan, tapi juga reputasinya sebagai pemangsa manusia paling besar yang sampai sekarang masih hidup dan (sangat mungkin) masih aktif. Dilaporkan, bahwa hingga saat ini, buaya itu telah membunuh lebih dari 300 orang!

Menurut penduduk setempat, Gustave sudah menaikkan peringkatnya dari predator buas menjadi pembunuh kejam. Dikatakan bahwa ia membunuh “just for fun”, tidak lagi semata-mata untuk makan. Seringkali ia meninggalkan korbannya begitu saja tanpa dimakan. Setiap kali ia berhasil membunuh, ia akan menghilang seperti hantu sampai berbulan-bulan, lalu muncul di tempat-tempat yang berbeda dan kembali melakukan pembunuhan. Oleh karenanya sulit diperkirakan kapan dan dimana ia akan mengulangi aksinya.

Para pemburu dan bahkan sekelompok pasukan bersenjata pernah berusaha membunuhnya, tapi tak ada yang berhasil (setelah insiden Si Buas dari Gevauden dan Harimau Betina dari Champawat, ini mungkin kasus besar ke-tiga dalam sejarah saat tentara dianggap perlu untuk berurusan dengan binatang pemakan manusia). Mereka hanya mampu menambah ‘tanda pengenal’ pada buaya ini, sehingga ia mudah dibedakan dari buaya-buaya Nil yang lain; sekujur tubuhnya yang seolah berperisai itu dipenuhi cacat bekas luka akibat pisau, tombak bahkan senjata api. Sebuah noda hitam bekas peluru di atas kepala buaya itu menunjukkan bahwa ia pernah ditembak di bagian yang seharusnya mematikan dan menghentikan angkara-murkanya.

Seorang naturalis berkebangsaan Prancis bernama Patrice Faye, 58 tahun, bersama timnya, telah membuntuti dan melacak sang buaya pemakan manusia itu sejak tahun 1998 (konon, ia pulalah yang memberi nama "Gustave"). Mulanya, Faye, yang telah menetap selama 35 tahun di Burundi, memang ingin membunuh Gustave. Namun kini ia berusaha menangkap Gustave hidup-hidup. Jika usahanya berhasil, Faye ingin menempatkan Gustave di sebuah suaka perlindungan. Dia berharap dapat menyelamatkan manusia dari ancaman Gustave dan sekaligus menyelamatkan Gustave dari ancaman pembalasan manusia. Selain itu, barangkali Gustave bisa dikembang-biakkan dan merupakan bagian dari upaya konservasi buaya Nil secara lebih luas. Sebuah video dukumenter memperlihatkan wujud seekor buaya yang diduga kuat adalah Gustave (ukurannya memang fantastis, dan semakin terlihat nyata saat berdampingan dengan beberapa kuda nil dewasa). Video ini juga mengungkapkan usaha Faye dan timnya untuk menangkap Gustave.

Pada tahun 2002, Faye pernah mempersiapkan sebuah perangkap bawah air dari besi berukuran besar. Gustave memang muncul. Tetapi, dengan prediksi bahwa usianya waktu itu sudah 40 tahunan, Gustave barangkali cukup berpengalaman dan terlalu pintar untuk bisa dibodohi begitu saja. Ia bukanlah buaya-buaya culun dalam dongeng sebelum tidur, yang bisa ditipu mentah-mentah oleh seekor kancil. Gustave memang muncul, namun ia hanya berenang mengitari perangkap itu, lalu kembali menghilang.

Sayangnya, harapan untuk menemukan dan menangkap Gustave lewat Faye semakin menipis. Pada awal April 2011 yang lalu, Faye tersangkut kasus tindak pidana perkosaan. Ia dituduh memperkosa lima siswi sekolah yang ia dirikan untuk warga miskin. Faye diseret ke Pengadilan Negara Burundi di Ibukota Bujumbura. Walaupun menyangkal (bahkan pemeriksaan dokter menyatakan bahwa tiga gadis yang mengaku diperkosa ternyata masih perawan), sidang tetap memutuskan Faye bersalah dan memvonisnya dengan hukuman penjara selama 25 tahun serta denda sebesar €14,000,- ($20,000,-). Hingga kini, saya belum mendapatkan kabar, apakah para pembelanya berhasil membebaskan Faye dari tuduhan itu, ataukah ia malah meringkuk di balik terali besi.

Kembali ke urusan buaya tanpa tanda petik, sebuah tim independen dipimpin Michael McRae, seorang jurnalis veteran, dan Martin Best, seorang fotografer, pada tahun 2004 pernah melakukan pelacakan atas Gustave. Menurut laporan McRae, timnya bertemu dengan Faye. Faye memastikan, seminggu sebelumnya ia melihat Gustave di muara sungai Rusizi. Ia pun memimpin tim McRae menuju tempat itu, namun yang mereka dapatkan hanyalah kesia-siaan. Menurut McRae, mungkin rumor kematian Gustave itu benar. Misi dibatalkan dan tim itu memutuskan pulang dengan membawa catatan tak pasti.

Keberadaan Gustave nyaris menjadi mitos, sampai 3 tahun kemudian, Faye menelepon McRae dan memastikan bahwa: “Gustave masih hidup”. Menurutnya, Gustave kembali muncul di Rusizi. Beberapa wisatawan ‘beruntung’ sempat melihatnya. “Kondisinya cukup sehat, dan daftar korbannya bertambah”, kata Faye.

“Saya mengetahui gerak-geriknya selama tiga tahun terakhir ini,” Faye melanjutkan. “Saya memiliki banyak sumber –para nelayan, pilot yang terbang di atas danau- sehingga meskipun saya tidak mendapat informasi tiap hari, saya cukup tahu dimana keberadaanya”. Demikian laporan McRae yang dipublikasikan di majalah National Geographic Adventure (Februari, 2008).

Nampaknya Gustave masih menjadi mimpi buruk terbesar para penduduk setempat. Namun, seperti banyak pemangsa manusia lainnya, Gustave juga mengispirasi para pekerja film dan hiburan (bahkan “mimpi buruk”pun masih bisa menghasilkan uang, bukan?). Pada 2007 lalu, Hollywood Pictures merilis film horor berjudul “Primeval”, garapan sutradara Michael Katleman. Tagline film ini dengan gamblang mengakui bahwa “inspired by a true story” dengan sub-tagline berbunyi “he’s 20 feet long and has taken 300 lives. Now he’s about to resurface.”

Sementara itu, saat ini, di Taman Nasional Rusizi, Burundi, telah dibangun sebuah tempat yang secara khusus dipersiapkan untuk Gustave, sang pemangsa manusia terbesar abad ini!

KOMENTAR SAYA: Buaya, bersama aligator, gavial dan kaiman, adalah anggota keluarga Crocodylidae, kelompok reptil pemangsa terbesar yang masih bertahan di planet ini.

Sebagai reptil, sulit menentukan dengan pasti, buaya apa yang ukurannya paling masiv. Ini karena keluarga Crocodylidae (sebagaimana reptil yang lain) adalah spesies yang dikenal tidak menentu pertumbuhan fisiknya (erratic growth). Selama mereka hidup, maka ukuran fisik mereka akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Saat ini, yang diketahui sebagai buaya terbesar adalah buaya air asin (saltwater crocodile - Crocodylus porosus). Ukuran fisiknya bisa mencapai panjang 7 meter dan berat lebih dari 1 ton (walaupun laporan simpang siur pernah menyatakan bahwa panjang buaya air asin yang tertembak di Teluk Bengala pada 1840 mencapai 10 meter). Bersaing menempati posisi kedua adalah buaya Nil, aligator Amerika, dan gavial.

Sebagai pemangsa, tak disangsikan lagi bahwa buaya adalah ‘raja rimba’ di sungai. Hampir semua indera buaya berfungsi di atas rata-rata dan menunjang rancangan anatomi mereka sebagai pembunuh. Penglihatan mereka mampu melihat sama baiknya di bawah cahaya terang atau di kegelapan malam. Hidung mereka dapat mendeteksi bau mangsa dari jarak sekian kilometer. Dalam hal mendengar suara berfrekwensi rendah, pendengaran mereka masih lebih baik daripada indera pendengaran manusia. Bekal yang luar biasa ini sangat mendukung kerja senjata pembunuh mereka yang paling menakutkan: 70-an baris gigi tajam di atas rahang yang kekuatan cengkeramannya mencapai 2500-5000 psi. (ini berarti buaya mengungguli hiu putih sebagai juara rahang penghancur tulang terkuat di laut serta hyena tutul sebagai jawara di darat). Dengan anugerah perangkat pendukung rahang paling mematikan di bumi, layaklah jika para buaya menjadi predator kelas satu, para pemangsa efektif dan mesin pembunuh efisien.

Di samping itu, sebagai predator yang dikenal tidak memilih-milih makanan. Mereka mengkonsumsi apapun selama itu masih berupa daging, mulai dari ikan, unggas dan mamalia, bahkan yang sekelas (berat) gajah sekalipun. Dengan reputasi sebagai oportunis ulung seperti itu, hampir semua jenis buaya berpotensi sebagai pemakan manusia. Dan dalam hal ini, buaya Nil menempati posisi sebagai pemangsa manusia nomor 1 di dunia. Banyak laporan yang menyatakan bahwa buaya Nil membunuh sampai ratusan orang pertahun di Afrika.

Penyebabnya kurang lebih sama dengan kasus Tom: wilayah yang berdekatan dengan sumber air (dalam hal ini, sungai), dimanapun, selalu menarik untuk ditinggali baik oleh manusia ataupun oleh binatang. Saat manusia dan binatang berbagi habitat yang sama, maka problem yang kemudian biasanya adalah ‘perebutan’ untuk mendapatkan sumber makanan yang sama pula. Dan –tanpa bermaksud menghakimi—manusia, dengan segala perlengkapan dan peralatannya, terkadang berburu di darat dan di air secara berlebihan. Fauna sungai dan sekitarnya akan menipis, baik karena dibunuh atau karena ‘tidak betah’ lalu menyingkir. So, buaya-buaya yang selama ini mendiami daerah sungai yang pinggirannya sudah dipenuhi manusia, akan kesulitan menjumpai mangsa-mangsa alami mereka. Yang mereka lihat saat ini adalah spesies lain: manusia. Dan buaya sama sekali tidak keberatan dengan perubahan menu. Apalagi, spesies baru ini ternyata lebih menggoda karena tak segesit antelop serta zebra, dan tak menakutkan seperti kuda Nil, plus ketersediannya cukup menjanjikan. Maka, terjadilah apa yang telah terjadi.

Lalu, kenapa juga buaya-buaya itu tidak ikut pindah ke daerah lain dimana mereka bisa menemukan mangsa alami mereka? Bukankah logikanya jika para mangsa berpindah, ke sana pulalah para pemangsa menuju?

Yup, umumnya, dinamika kehidupan hampir seluruh predator memang begitu: “di mana ada gula di situ ada semut”. Sedangkan buaya, tidak. Buaya adalah binatang teritorial. Artinya, sekali mereka merasakan mudahnya memperoleh mangsa di suatu tempat, maka mereka akan memutuskan untuk menetap di situ dan mengklaimnya sebagai ‘rumah makan’. Selain itu, kekuasaan mereka di air relatif tak tertanggu oleh populasi manusia yang berkuasa di darat. Apalagi dengan kenyataan bahwa para penghuni darat itu juga bisa menjadi mangsa potensial mereka. Jika pun buaya-buaya itu diuber-uber oleh manusia yang merasa terancam, mereka akan menghilang selama beberapa waktu, bahkan sampai berbulan-bulan, untuk kemudian kembali lagi bila keadaan dirasa cukup aman. Barangkali inilah salah satu sebab mereka dikaruniai Allah kemampuan bertahan dari rasa lapar. Dalam masa-masa sulit (semisal saat ‘menghilang’ ini), seekor buaya dapat bertahan tanpa makan selama setahun lebih!.

Dalam kasus Gustave, ilmuwan dan herpetologis (para peneliti amphibi dan reptil) mengklaim bahwa ukuran dan bobotnya yang melebihi rata-rata barangkali yang menyebabkan buaya itu menjadi pemangsa luar biasa. Tak cukup lincah untuk memburu mangsa yang gesit dan tertuntut untuk mengisi perut besarnya, Gustave mulai mengabaikan mangsa standar seperti ikan atau antelop dan beralih pada mangsa lebih besar yang sering betah di sekitar sungai semacam zebra, wildebeest, kerbau liar, dan –tentu saja- manusia. Nafsu makannya memang menakutkan. Pernah dilaporkan, Gustave menerkam dan memangsa seekor kuda Nil dewasa yang –karena ukuran dan kekuatannya—justru dihindari oleh kebanyakan buaya.

Selain itu, menurut saya, ada kemungkinan faktor lain yang bisa diajukan. Konon, tidak semua korban tewas perang saudara di Burundi dikuburkan, tapi ada yang dibuang begitu saja ke sungai. Ini tentu saja bagaikan undangan pesta makan bagi para buaya. Dan karena hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, sangat logis jika kemudian muncul para monster yang ketagihan makanan gratis nan gurih pula. Meminjam istilah karakter Tim Manfrey (diperankan Dominic Purcell) dalam Primeval (2007): “We make, create, our own monsters!”

Selanjutnya, barangkali muncul pertanyaan: Mengapa hanya Gustave yang menjadi satu-satunya pemangsa manusia paling produktif di Afrika?

Dalam sebuah masyarakat buaya (yang tidak ter’organisir’ dengan rapi sebagaimana dalam sebuah pride singa), berlaku sistem "hirarki"; pejantan manapun bisa menjadi penguasa dengan satu syarat: ukurannya haruslah paling besar! Seekor buaya yang ukuran fisiknya melebihi anggota ‘masyarakat’ yang lain akan cenderung egois, kejam, dan ‘semena-mena’, terutama saat musim kawin atau saat persediaan makanan sulit; ia akan mengawini betina manapun yang ia inginkan, dan (merasa) berhak atas semua hasil buruan. Ia jarang berburu, tapi suka sekali makan. Sebaliknya, saat buaya lain menghadapi kesulitan menjatuhkan mangsa karena berukuran besar misalnya, si penguasa ini lebih memilih cuek (Kalo teman-temannya berhasil, toh dia juga yang memperoleh jatah paling banyak tanpa harus ‘peras keringat’ dan beresiko terluka).

Ukuran pejantan penguasa yang besar memang cukup efektif mengintimidasi pejantan lain agar tidak coba-coba memancing kemarahannya. Kalaupun ada pejantan lain yang lebih kecil nekad ingin mencoba ‘mencicipi’ fasilitas sang penguasa, semisal mengawini betinanya, maka ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika sampai diketahui, resikonya besar sekali; sang penguasa tak segan menyerang pejantan nekad itu secara brutal bahkan membunuhnya (stasiun TV Nat Geo Wild pernah menayangkan, seekor buaya penantang yang berakhir dengan nasib tragis; ia memang masih hidup, namun kehilangan hampir seluruh moncongnya). Di bawah tekanan diktator semacam ini, biasanya, buaya-buaya lain yang ingin makan dengan tenang, harus menjauh dari wilayah itu; atau berburu di perairan dangkal dan berbelukar lebat, agar si penguasa kesulitan merampas bagiannya.

Maka, jawaban paling sederhana atas pertanyaan di atas adalah: belum ada yang cukup berani mengangkangi ‘meja makan’ buaya raksasa seperti Gustave!

(Bersambung ke Man-Eaters - Ikhtitâm, In Syâ' Allâh)

Jumat, 02 Desember 2011

9 Worst Man-Eaters #02 - RATU PEMBUNUH DARI CHAMPAWAT

Melanjutkan kisah penyerangan warga macan paling sepktakuler di India, sekarang saya akan memperkenalkan jenis macan kedua, yaitu harimau, tepatnya harimau Bengala (Panthera tigris tigris).

Dalam hal kasus serangan harimau atas manusia, dari semua jenis harimau, tak satupun yang menyamai rekor korban serangan harimau Bengala (saya sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi target harimau Bengala, hiks…). Dan di antara beberapa insiden serangan harimau Bengala, yang paling spektakuler adalah penyerangan seekor harimau betina pada tahun 1907 (atau 1911 menurut versi lain).

Mulanya, betina garang yang dijuluki “Harimau Betina dari Champawat” ini melakukan pembantaian di Nepal dan menewaskan 200-an orang. Para pemburu dikerahkan namun harimau itu terlalu licin untuk ditaklukkan. Ia menjadi jarang memunculkan diri, seolah mengerti bahwa nyawanya terancam. Pemerintah Nepal akhirnya memutuskan untuk mengerahkan sepasukan tentara guna memburunya. Namun bahkan Tentara Nepal-pun gagal membunuhnya. Mereka hanya berhasil mendesak posisi harimau itu ke sungai Sarda, yang memisahkan wilayah Nepal dengan India. Sang harimau menyeberang ke India, dan melanjutkan ‘aktifitas’nya di sana dan merenggut nyawa 236 orang penduduk. Dilaporkan bahwa setiap kali harimau ini melakukan pembunuhan, ia menjadi semakin berani dan nekad. Ia mulai melakukan intimidasi, teror dan penyerangan di siang hari. Para penduduk tak lagi berani meninggalkan rumah mereka untuk berakrtifitas, karena auman sang harimau masih sering terdengar di sekitar mereka.

Jim Corbett pun terpanggil. Pemburu berpengalaman yang pada usia 8 tahun telah sukses membunuh seekor leopard ini berhasil menemukan jejak sang harimau dengan menyusuri ceceran darah dan potongan tubuh korban terakhirnya, seorang gadis berusia 16 tahun. Jim Corbett adalah seorang pemberani, namun toh pria itu tak bisa menahan kengeriannya melihat pemandangan horor di hadapannya.

Corbett menembak mati sang Maut Loreng dari Champawat itu. Keberhasilan ini semakin melambungkan nama Jim Corbett. Ia bahkan dianggap sebagai ‘orang suci’ oleh sebagian penduduk setempat. Untuk menghormati pejuang konservasi alam India ini, sejak 1955 hutan lindung Ramgangga resmi diberi nama “Taman Nasional Corbett” (Anehnya, dari sekian jenis fauna khas India, justru hanya harimau Bengala yang tidak ditemui di sini.) Tentara berpangkat kolonel dan bernama lengkap Edward James Corbett ini menulis sebuah buku berjudul Man-Eaters of Kumaon (terbit 1944). Dalam buku itu, ia mengungkapkan secara detil pengalamannya dalam memburu dan membunuh sejumlah harimau serta leopard pemangsa manusia sejak 1900-an sampai 1930-an.

Bicara jumlah korban, tak disangsikan lagi bahwa “Harimau Betina dari Champawat” ini adalah predator pembunuh manusia paling ‘produktif’ dalam sejarah. Rekor korban kebuasannya yang berjumlah total 436 orang tewas (tanpa menutup kemungkinan ada korban lain yang tak tercatat), nyaris tak tertandingi, bahkan oleh manusia yang menjadi pembunuh berantai paling gila sekalipun. Mungkin, hanya ada 1 orang pembunuh berantai yang menyamai, bahkan mengalahkan reputasi “Harimau Betina dari Champawat”, yaitu seorang Putri Bangsawan berkebangsaan Hungaria bernama Elizabeth Báthory (1560 – 1614). Konon, wanita ini ingin mempertahankan kemudaannya dengan mandi darah perawan. Maka, bersama empat pembantunya, ia membunuh lebih dari 650 orang gadis. ‘Lucunya’, tuan putri haus darah ini dikenal dengan julukan “Harimau Betina dari Csejte“!

KOMENTAR SAYA: Harimau dikenal sebagai keluarga macan paling besar dibanding anggota panthera yang lain, khususnya sub-spesies harimau Siberia, yang bisa mencapai ukuran panjang lebih dari 3 meter dan bobot 300 kg. Tak seperti singa, harimau lebih suka berburu sendirian dan dikenal sebagai ambush predator (pemangsa yang menggunakan metode menyergap untuk menangkap korbannya).

Harimau Bengala sendiri merupakan salah satu dari 6 sub-spesies harimau yang masih eksis saat ini (setelah 3 jenis harimau dinyatakan punah, yakni harimau Kaspia, harimau Jawa dan harimau Bali). 5 sub-spesies lainnya adalah harimau Siberia (Panthera tigris altaica), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau Indochina (Panthera tigris corbetti), harimau Cina Selatan (Panthera tigris amoyensis), dan harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni). Habitat harimau Bengala meliputi India, Bangladesh, Nepal dan Buthan. Walaupun populasinya berjumlah sekitar 3000-an ekor di negara-negara tersebut, dan terbesar dibanding populasi jenis harimau lain, harimau Bengala ditetapkan berstatus “genting (endangered)” oleh Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature - IUCN).

Dengan populasi harimau sebesar itu, ditambah banyaknya hunian manusia terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan, India dan Bangladesh menjadi negara ‘penghasil’ kasus serangan harimau terbesar di dunia. Desa Bandhavgarh dan desa Sundarban bisa mewakili kedua negara tersebut sebagai daerah ajang pembantaian harimau atas manusia. Di Bandhavgarh, serangan harimau memang tergolong langka, bahkan sempat tidak laporan sama sekali. Namun sejak tahun 2004, mulai ada laporan masuk tentang insiden penyerangan harimau, dan frekwensinya tiap tahun cenderung meningkat. Adapun daerah yang benar-benar menjadi ajang perburuan bagi para harimau Bengala adalah Sundarban. Di desa yang dalam bahasa Bengali berarti “rimba yang indah” ini , korban tewas akibat serangan harimau Bengala berkisar 50-60 orang per tahun! (Apakah orang-orang di sana mulai berfikir untuk merubah nama desa mereka? Entahlah…)

***

Secara spesifik, kerutalan si Betina dari Champawat maupun Leopard Panar, berdasarkan data dan informasi yang saya dapatkan, dipicu oleh kondisi ‘terpaksa’. Kedua macan ini dilaporkan mengalami cedera oleh ulah pemburu. Cedera itu membuat mereka tak mampu berburu binatang-binatang liar yang selama ini menjadi mangsa alaminya. Sebagai perbandingan, seekor harimau yang sehat saja rata-rata hanya sukses 1 kali dari 15 kali perburuannya.

Terdorong upaya untuk bisa survive, akhirnya macan-macan ini turun gunung dan mengalihkan sasarannya pada mangsa yang lebih mudah diperoleh dan jumlahnya pun melimpah: manusia. Dan wajar jika kemudian mereka menjadi ketagihan dan mengakibatkan jumlah korban yang besar. Illustrasinya begini: Anda tak bisa mendapatkan makanan yang biasa Anda peroleh. Anda menjadi kelaparan. Lalu Anda disuguhi makanan lain yang berbeda dari yang selama ini Anda konsumsi. Rasa lapar tentu membuat Anda akan segera menyantapnya tanpa perlu berpikir dua kali. Lalu tiba-tiba Anda menyadari satu hal: makanan baru ini lebih nikmat daripada yang biasa Anda makan, dan ketersediaannya pun lebih dari cukup serta mudah pula diperoleh. So, why not?

(Bersambung ke Man-Eaters # 01, In Syâ' Allâh)

Minggu, 27 November 2011

9 Worst Man-Eaters #03 - TARIAN MAUT LEOPARD INDIA

Saudara-saudara, mari sejenak kita tinggalkan Afrika dan kembali mengunjungi India, salah satu negeri eksotik di Asia. Kali ini saya akan memperkenalkan dua spesies predator yang masih berkerabat dengan singa, alias sama-sama macan, namun dengan tampilan fisik yang lebih ‘fashionable’, yakni harimau dan leopard. Sebelum insiden serangan beruang sloth di Maysore, kedua jenis macan itu lebih dahulu telah menorehkan tinta darah paling merah dalam lembaran sejarah kontak binatang-manusia di India dan sekitarnya pada abad XIX dan awal abad XX.

Baiklah, saya mulai dari macan pertama, yaitu leopard India (Panthera pardus fusca).

Yang paling legendaris dari berbagai kasus serangan leopard terhadap manusia, khususnya di India, adalah serangan yang terjadi pada tahun 1910, oleh seekor leopard jantan asal Kumaon, daerah pegunungan di bagian Utara India. Diketahui bahwa leopard ini paling aktif ‘berburu’ di Provinsi Panar. Keganasan dan kebrutalannya telah menyebabkan korban tewas sebanyak 400 orang!

Sebelumnya, pada kurun 1857-1867, juga pernah terjadi serangan seekor leopard. Kebrutalan macan tutul berjuluk “Pemakan Manusia dari Kahani” itu tercatat menewaskan 200 orang. Sayangnya, saya belum menemukan data-data yang menjelaskan secara detil insiden ini.

Lalu pada kurun 1918 dan 1926 di Rudraprayag, India, sekitar 125 orang tewas oleh serangan seekor leopard (yang belakang diduga kuat terlepas dari sebuah Menagerie). Leopard ‘iseng’ ini membuntuti dan membantai para peziarah yang tengah menuju sebuah kuil Hindu di India Utara.

Pada akhirnya, kebanyakan pemangsa manusia selalu berbagi nasib yang sama, tewas di ujung senjata manusia. Adalah seorang pemburu terkenal sekaligus pejuang konservasi alam, Jim Corbett (1875-1955), yang berhasil menghentikan angkara murka leopard Panar maupun leopard Rudraprayag.

KOMENTAR SAYA: Di antara keluarga panthera, leopard adalah yang terkecil ukuran tubuhnya, namun tak kurang mematikan daripada para kerabatnya. Bahkan seorang pemburu profesional bernama John Taylor (1904–1969) pernah menyatakan bahwa jika ukuran seekor leopard menyamai ukuran singa, itu akan membuatnya sepuluh kali lebih berbahaya. Kenneth Anderson, penulis Man-Eaters and Jungle Killers dan pemburu profesional yang sukses menghentikan aksi beruang Maysore, menyatakan bahwa justru karena ukuran fisiknya itulah, leopard lebih menakutkan daripada harimau. Dengan postur seperti itu, leopard bisa mengintai dari tempat-tempat tersembunyi yang tidak muat untuk seekor harimau. Karakternya yang berani sekaligus licik, dipadukan dengan kemampuannya untuk menyelinap layaknya siluman, membuat leopard menjadi tak tertandingi.

Inilah mungkin, kenapa para harimau, sebuas apapun, jarang berani menyerang masuk ke pemukiman padat penduduk. Berbeda dengan leopard, yang dikenal suka nekad dan berani mengamuk memasuki perkampungan.

Di India secara khusus, leopard masih menyebar teror. Di tahun 2011 ini saja, yang saya tahu, telah terjadi dua kali serangan. Pertama, pada Januari 2011. Seekor leopard belusukan ke desa Malgadh, mengamuk dan melukai setidaknya 4 orang penduduk dan seorang polisi hutan, sebelum akhirnya ditangkap oleh tim dari Gir Fondation di Taman Indroda.

Lalu, pada 19 Juli 2011 yang lalu, giliran desa Prakash Nagar, 600 km. dari Kalkuta, mendapat ‘kunjungan kehormatan’. Seekor leopard berhasil melukai 6 penduduk, seorang polisi, dan 4 orang jagawana. Macan cantik ini akhirnya bisa ditangkap, dan beberapa waktu kemudian ia mati karena cedera oleh pisau dan pentungan.

Dengan kecantikan kulit dan keganasannya, leopard mungkin dapat menyatukan dua gelar sekaligus: The Beauty and The Beast!

(Bersambung ke Man-Eaters # 02, In Syâ' Allâh)

Rabu, 16 November 2011

9 Worst Man-Eaters #04 - THE GHOST AND THE DARKNESS

Amerika, Asia dan Eropa telah kita jelajahi. Saatnya sekarang kita berkunjung ke benua hitam Afrika, rumah dari banyak predator tangguh dan hebat.

Di daratan, tak diragukan lagi, bahwa predator teratas dan paling disegani adalah singa. Hampir semua binatang di Afrika, mulai dari yang berukuran kecil seperti warthog; yang sedang seperti antelop dan zebra; sampai yang besar semacam kerbau liar, kuda Nil, jerapah, bahkan gajah, adalah mangsa potensial bagi keluarga singa, dan tentu saja, tanpa mengecualikan manusia.

DR. Craig Packer, pakar biologi dari universitas Stanford dan ahli senior di Serengeti Lion Project, memperkirakan bahwa (minimal) 200 orang/tahun menjadi korban serangan binatang semacam singa, buaya, gajah, kuda Nil, dan ular. 70 dari jumlah tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab para singa. Menurutnya, antara tahun 1990-2004, singa telah menyerang 815 orang di Tanzania, 563 di antaranya tewas. Sebelumnya, pada tahun 1932, di kota Njombe, Tanzania, pernah terjadi serangan brutal sejumlah besar singa atas manusia dan menewaskan 1500 (bahkan ada yang menyebutkan 2000) orang!

Namun, secara individual, singa pemangsa manusia yang rekor jumlah korbannya paling spektakuler adalah dua bersaudara singa jantan yang menjadi hantu-hantu penyebar maut pada tahun 1889. (Belakangan diketahui bahwa keduanya adalah subspesies singa Tsavo [Panthera leo nubica]. Singa jantan Tsavo dikenal memiliki perbedaan yang cukup mencolok dibanding singa jantan lain pada umumnya, yaitu surai yang pendek dan jauh dari kata “gondrong”).

Inggris --sebagai negara penjajah saat itu—tengah memulai proyek pembangunan jembatan kereta api di atas sungai Tsavo, Kenya. Dan kedua singa tersebut ternyata ikut “ambil bagian” dalam proyek yang sama, namun dengan cara berbeda: menyerang dan membantai para pekerja!

Mulanya, kedua singa itu menyergap para pekerja dalam tenda-tenda mereka di malam hari, menyeret mereka ke hutan dan melahap mereka. Tapi dalam waktu singkat, keduanya semakin berani dan tidak lagi main sembunyi-sembunyi. Mereka langsung menyerang dan memangsa korbannya di sekitar tenda.

Keganasan, kelicikan, dan ukuran fisik para singa ini begitu luar biasa (dilaporkan bahwa masing-masing berukuran panjang 3 meter) sehingga banyak pribumi meyakini bahwa mereka bukanlah singa-singa biasa, tapi reinkarnasi dari raja-raja lokal kuno yang berusaha mengusir para penjajah (kepercayaan bahwa seorang raja yang mati akan dilahirkan kembali sebagai singa pernah sangat mengakar di kalangan pribumi Afrika Timur). Kedua singa pemakan manusia yang mendapat julukan “The Ghost” dan “The Darkness” ini membuat ratusan pekerja begitu takut sehingga mereka memutuskan lari keluar dari Tsavo. Pembangunan jalur kereta api itu pun macet, karena tak seorang pun rela hati menjadi korban berikutnya.

Akhirnya, Letnan Kolonel John Henry Patterson (1867-1947), pimpinan dan penanggung jawab proyek pembangunan jalur kereta api itu, memutuskan bahwa satu-satunya solusi untuk mengakhiri mimpi buruk ini adalah dengan membunuh kedua pemangsa manusia tersebut. Dan pada 9 Desember 1898, Patterson berhasil melukai salah satu dari kedua singa itu dengan sebutir peluru kaliber 303. Sang singa berhasil lolos, lalu malamnya ia kembali dan menguntit Patterson yang masih terus memburunya. Berkali-kali Patterson menembak singa itu, namun hasilnya baru diketahui setelah malam berganti siang. Singa itu ditemukan sudah tak bernyawa.

20 hari kemudian, dia berhadapan langsung dengan singa kedua. Patterson menghadiahinya lima tembakan, namun singa ini benar-benar tangguh. Ia bangkit kembali dan menyerang Patterson. Patterson nyaris menjadi salah satu daftar korban sang singa. Pria itu kembali memberondongnya. Sang singa akhirnya tumbang tak bernyawa dengan dua peluru bersarang di dadanya dan sebutir lagi menembus kepalanya.

Selama proses perburuannya, Patterson juga menemukan gua sarang kedua singa itu. Di dalamnya ia menemukan banyak potongan tubuh manusia, potongan pakaian dan berbagai perlengkapan. Hingga kini, gua itu tetap lestari. Dan meskipun banyak tulang manusia yang digali dan ditemukan, namun dipercaya, bahwa di balik tanah lembab dan relung-relung gua yang gelap, sisa-sisanya masih tetap ada.

Sampai sekarang, tak ada yang bisa memastikan jumlah korban keganasan “The Ghost” dan “The Darkness” ini. Patterson mengklaim bahwa kedua singa itu telah menewaskan 135 orang. Beberapa ahli menyatakan, bahwa yang dimakan ‘hanya’ sekitar 35 korban. Penelitian terbaru, yang dilakukan oleh Tom Gnoske dan Julian Kerbis Peterhansa pada 2001 dan dipublikasikan dalam The Journal of the East African Natural History Society, mengindikasikan bahwa sangat mungkin korban tewas melampaui angka 100. Walau bagaimanapun, antara “membunuh saja” dengan “membunuh dan memakan” tentu berbeda. Pernyataan bahwa korban yang dimakan adalah 35 tidak berarti bahwa kedua singa Tsavo ini tidak membunuh lebih banyak orang yang lain.

Pada 1924, setelah lebih 25 tahun menjadi karpet penghias lantai Patterson, kulit kedua singa ini dijual ke Museum Chicago. Dengan taxidermis (seni mengawetkan binatang), kedua singa itu direkonstruksi dan sampai sekarang masih terpajang di museum tersebut. Konon, dalam rangka mengembalikan “Sang Hantu dan Sang Kegelapan” ke Tsavo, Pemerintah Kenya berminat membangun sebuah museum yang didedikasikan untuk singa-singa ini. Tapi, Stephen Hopkins, seorang sutradara kelahiran Jamaika, lebih dulu ‘menghidupkan’ singa-singa ini pada 1996 lewat film berjudul “The Ghost and the Darkness” dan melibatkan aktor watak kawakan Michael Douglas dan Val Kilmer.

KOMENTAR SAYA: Singa, bersama harimau, jaguar dan leopard, adalah keluarga kucing paling besar yang termasuk dalam jenis panthera. Namun singa memiliki ‘gaya hidup’ yang unik dan berbeda dari ketiga saudaranya. Jika ‘kucing’ lain pada umumnya ‘makan, makan sendiri; tidur pun aku sendiri’, maka singa lebih menyukai hidup dalam sebuah ‘organisasi sosial’; sebuah kelompok yang dikenal dengan istilah “pride”. Di setiap habitat singa seperti di Afrika dan sebagian Asia, lazim terdapat beberapa pride yang memiliki wilayah kekuasaannya masing-masing dan dijaga secara ketat. Memasuki wilayah kekuasaan pride lain dapat memicu timbulnya perang terbuka.

Dalam sebuah pride, singa jantan dewasa bertugas sebagai raja, pelindung pride dan tukang bikin anak, sementara tugas berburu dan memberi makan anggota pride sepenuhnya menjadi tanggung jawab para betina (walaupun beberapa singa jantan muda –bahkan sang ketua juga- sesekali ikut berpartisipasi aktif dalam perburuan, terutama jika sasarannya berukuran besar).

Satu pride umumnya beranggotakan belasan bahkan sampai puluhan anggota yang terdiri dari singa-singa betina, anak-anak mereka, dan seekor jantan dewasa sebagai ‘kepala keluarga’ (pernah diketahui sebuah pride yang beranggotakan 30 ekor singa). Tak jarang pula, satu pride dikepalai 2 singa jantan atau lebih (diistilahkan dengan “koalisi”) yang masih memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat. Namun ‘koalisi’ ini biasanya tak akan bertahan lama. Saat seekor pejantan mencapai kematangan seksual, ia akan menjadi dominan dalam rangka menyingkirkan pejantan yang lain.

Menurut tradisi singa, jika dalam sebuah pride terdapat satu atau beberapa anak jantan yang beranjak dewasa, maka mereka ‘diharuskan’ keluar dari pride itu untuk membentuk pride-nya sendiri. Biasanya, singa-singa jantan yang ‘terusir’ ini akan berkelana selama beberapa waktu, sambil mempersiapkan ‘fisik dan mental’ mereka, sampai mereka siap untuk menantang dan bertarung habis-habisan dengan singa jantan lain untuk merebut pride-nya. (Inilah versi harfiah dari Pride Fighting Championship, he… he… he…)

Pada masa-masa sebelum dan sesudah perang perebutan pride inilah, akan dijumpai singa-singa jantan dewasa yang tak berada dalam sebuah pride, baik singa pengelana yang akan merebut kekuasaan atau singa pecundang yang tergusur dari tahtanya. Pada periode ini, mereka tertuntut untuk bisa berburu dan mencari makan sendiri. Di lain pihak, fisik yang besar dan berat, serta (kebanyakan memiliki) surai yang lebat, menjadi hambatan bagi singa-singa jantan ini untuk gesit berburu dengan metode reguler: “kejar dan tangkap”. Belum lagi seekor singa jantan yang turun tahta juga terkendala kondisi fisik karena faktor usia atau cedera serius. Maka, pada saat-saat seperi ini, singa jantan akan menjadi semakin agresif , buas, dan cenderung oportunis. Untuk mengisi perutnya, tanpa ‘malu-malu’ mereka akan merampas hasil buruan predator lain, mengkonsumsi bangkai, atau menyerang bayi-bayi binatang dan mangsa lain yang mudah ditangkap. Dan celakanya, di mata mereka, manusia termasuk ‘mangsa yang mudah dan relatif tanpa perlawanan berarti’.

Nah, sangat mungkin, insiden Tsavo di atas terjadi dalam suasana pra-pasca ‘pemindahan kekoeasaan dan lain-lain’ tersebut.

(Bersambung ke Man-Eaters #03, In Syâ' Allâh)

Selasa, 15 November 2011

9 Worst Man-Eaters #05 - SI BUAS DARI GÉVAUDAN

Dari sekian banyak pemangsa manusia tersadis dalam catatan sejarah, barangkali La Bête du Gévaudan (The Beast of Gévaudan – Si Buas Dari Gévaudan) inilah yang paling misterius; tak teridentifikasi dengan jelas spesiesnya.

Pada kurun masa 1764-1767, Propinsi Gévaudan, Prancis, tercekam dalam terror serangan makhluk buas, yang lebih suka menyerang manusia dan bahkan mengabaikan mangsa lain semacam binatang ternak maupun hewan domestik lainnya. Binatang ini menyerang 200 orang lebih. Dari 113 korban tewas, 98 diantaranya dimakan.

Mereka yang beruntung masih hidup setelah bertemu dengannya, memiki perspektif berbeda dalam mendeskripsikan si buas ini. Ada yang dengan ringkas menyebutnya sebagai “iblis”. Ada pula yang menganggapnya sebagai “Loup Garou“ (werewolf – manusia serigala). Beberapa, dengan sedikit lebih detail, menggambarkannya sebagai binatang serupa serigala berukuran besar, berwarna merah dan menebarkan aroma tak sedap.

Selain buas, pembunuh ini juga cerdik. Berkali-kali dia lolos dari sergapan para pemburu bahkan sepasukan tentara yang dikerahkan untuk membasminya. Namun, sepandai-pandai tupai, eh… salah; sepandai-pandai si buas ini menghindar, akhirnya ia jatuh juga. Pada 1767, seorang pemburu bernama Jean Chastel (1708 -1790) berhasil menamatkan riwayatnya, konon, dengan menggunakan peluru perak. Setelah membuka perut makhluk itu, Chastel menemukan sisa-sisa tubuh manusia korban terakhirnya.

Walaupun semua laporan mengarah pada serigala, namun tak satupun yang sesuai dengan ciri-ciri serigala Eropa yang umum dikenal pada masa itu. Banyak ahli percaya bahwa si buas ini sangat mungkin adalah hyena yang barangkali terlepas dari Menagerie (sejenis tempat penangkaran binatang yang populer di Prancis pada abad ke-17, dan merupakan salah satu cikal bakal dari apa yang kita kenal sebagai “Kebun Binatang”). Menurut mereka, deskripsi “lebih besar dari serigala, berwarna merah dan berbau tidak sedap” lebih cocok dialamatkan pada hyena, sejenis anjing liar yang banyak hidup di dataran Afrika dan sebagian wilayah Asia.

Namun demikian, tetap saja belum ada yang bisa memastikan, binatang apa sebenarnya si Buas ini. Memang, kisah dramatis tentang perburuannya pernah difilmkan oleh Christiophe Gans lewat “Brotherhood of The Wolf” (2001) dengan Mark Dacascos sebagai salah satu pemeran. Namun, disamping tidak tampil sebagai ‘binatang’ film utama (tak seperti hiu dalam JAWS, misalnya), si buas ini juga tak jelas bentuknya; serigala bukan, hyena-pun tidak. Tapi, jika hanya sebagai tambahan bahan bagi kita untuk membayangkan kebuasannya, film garapan sutradara asal Perancis ini cukup lumayan. (eh, kok jadi review film ya? Hiks…)

KOMENTAR SAYA: Asumsi para ahli bahwa si Buas dari Gévaudan adalah hyena (dubuk) rasanya lebih logis. Apalagi dengan adanya catatan sejarah bahwa hyena --terutama spesies hyena tutul (Crocuta crocuta) dan hyena belang (Hyaena hyaena)-- juga dikenal sebagai pemangsa manusia yang potensial. Sekedar illustrasi, pada kurun 1956-1961, serangan hyena di Republik Malawi, tepatnya di sepanjang dataran Phalombe sampai ke Pegunungan Michesi, telah menewaskan 24 orang. Dan pada 1962, sepasang hyena yang masing-masing berbobot 77 kg. dan 72 kg. bertanggung jawab atas tewasnya 27 orang di Mlanje, Malawi.

Walaupun hyena sering dianggap sebagai ‘pemulung pengecut’ di antara sesama predator di Afrika (karena kesukaannya memunguti bangkai, mencuri, bahkan -dengan mengandalkan ‘keroyokan’- merampas hasil buruan pemangsa lain), namun ia sebenarnya adalah salah satu predator kuat. Dengan modal rahang berkekuatan 800-1000 psi., hyena (khususnya hyena tutul) menjadi predator darat dengan rahang penghancur tulang terkuat, yang membuatnya dikenal sebagai musuh bebuyutan dari predator darat paling berkuasa di Afrika, singa.

Selain itu, di antara sesama ‘preman pasar daging’ di Afrika, hyena barangkali adalah predator paling ‘tidak berperasaan’. Setelah berhasil menjatuhkan mangsanya, singa dan predator sejenisnya lebih dulu akan mengincar dan menerkam bagian leher atau tenggorokan si mangsa lalu menggigit kuat-kuat bagian itu untuk memutus jalur pernafasan. Setelah si mangsa benar-benar mati, barulah mereka memakannya. Sedangkan hyena tak mau direpotkan dengan prosedur berbelit seperti itu. Saat menyerang, ia akan menancapkan taringnya di bagian manapun tubuh korbannya, lalu merengkah bagian itu, mencabiknya, dan memakannya, saat si korban masih hidup. Pendeknya, jika kelompok macan berpedoman pada panduan: “bunuh dulu, baru makan”, maka hyena merasa cukup dengan: “makan dulu, Bro. Mau mati mau ga terserah!”

Adapun pemicu timbulnya serangan si buas ini, dengan asumsi bahwa itu memang hyena yang terlepas dari menagerie, sangat mungkin adalah karena ia salah masuk alam. Ia tiba-tiba berada di sebuah dunia yang begitu asing dan dikelilingi pula oleh makhluk asing. Mulanya ia mungkin hanya panik. Paniknya seekor binatang tentu tidak disalurkan dalam bentuk teriakan-teriakan histeris, tapi lari menghindar atau malah menyerang manusia yang –menurutnya—mengancam keselamatannya. Dalam hal ini, nampaknya naluri sang hyena sebagai predator memberinya informasi, bahwa makhluk-makhluk asing dihadapannya tidak saja bisa ia kalahkan, namun juga bisa menjadi menu makan malamnya.

(Bersambung ke Man-Eaters #04, In Syâ' Allâh)

Sabtu, 12 November 2011

9 Worst Man-Eaters #06 - BERUANG BRUTAL DARI MYSORE

Salah satu jenis beruang hitam yang habitatnya hanya ada di India dan Srilanka adalah beruang sloth (beruang ‘pemalas’ - Ursus ursinus). Tak seperti namanya, beruang ini tercatat sebagai salah satu beruang paling agresif dan dilaporkan banyak menyerang manusia di India, rata-rata satu kali serangan per minggu, dan menyebabkan banyak korban tewas maupun luka-luka. Meski demikian, para beruang ini amat jarang memakan daging menusia, dan lebih memilih mengkonsumsi buah-buahan, madu dan rayap. Namun, pada kurun 1950-an, di Mysore, sebuah kota dalam wilayah Negara Bagian Karnataka, India, seekor beruang sloth mendadak menjadi terkenal sebagai spesialis pemangsa manusia.

Ada banyak versi tentang asal-usul beruang pembunuh Maysore ini. Beberapa lebih menyerupai dongeng dengan kisah roman a la film King Kong (1933). Dikisahkan, bahwa seekor beruang sloth jantan menculik seorang gadis desa untuk ia jadikan pasangannya (alamaaaaaaak!). Gadis itu berhasil diselamatkan penduduk. Si Beruang menjadi murka. Ia membantai sejumlah penduduk sebagai aksi balas dendam.

Versi lain, yang relatif ‘normal’, menyatakan bahwa beruang ini adalah betina yang mengamuk membunuhi orang-orang yang telah membunuh anaknya. Namun menurut para ahli, beruang ini barangkali terluka oleh ulah tangan manusia, lalu menjadi sangat agresif.

Apapun, yang jelas, aksi tunggal beruang Mysore ini bertanggung jawab atas insiden penyerangan yang menyebabkan 12 orang tewas (3 diantaranya dimakan) dan lebih dari 20 orang lainnya terluka parah (bahkan beberapa ada yang kehilangan anggota badan)!

Melalui tiga kali usaha perburuan, seorang penulis sekaligus pemburu ulung, Kenneth Anderson (1910–1974), berhasil menewaskan beruang ini, lalu menuliskan kisah berdarah itu dalam bukunya, Man-Eaters and Jungle Killers (1957), pada bab “The Black Bear of Mysore”.

KOMENTAR SAYA: Fisik beruang sloth, sebagaimana umumnya keluarga beruang hitam, tidaklah sebesar beruang kutub dan beruang cokelat. Dewasanya ‘hanya’ berukuran panjang 1,9 meter dan bobot sekitar 100 kg. Namun jika sedang marah, taring dan cakarnya bisa menjadi ancaman serius. Insiden di Mysore bisa menjadi peringatan nyata.

‘Balas dendam’ memang cukup bagus untuk menjelaskan latar-belakang terjadinya insiden tersebut (daripada menceritakan romantisme model binatang buas). Intinya, yang berperan penting adalah unsur ‘ketidak harmonisan antar tetangga’ dalam sebuah habitat yang relatif berdekatan.

Analisa lain yang bisa saya kemukakan adalah, dimungkinkan bahwa tingginya intensitas konflik manusia dengan beruang sloth (termasuk di Mysore) merupakan ekses dari tradisi kuno bernama “Tarian Beruang” (semacam topeng monyet di Indonesia) yang telah dikenal sejak abad ke-16. Di beberapa daerah di India, tradisi ini banyak diminati dan cukup menjanjikan secara ekonomis. Orang-orang mulai menangkapi beruang-beruang muda untuk dilatih sebagai ‘penari’. Barangkali, sekali lagi: barangkali, ada proses pelatihan yang semena-mena dan tanpa mengindahkan ‘perasaan’ beruang-beruang tersebut. Salah satu dari mereka lalu memutuskan untuk memberontak dan menunjukkan bahwa “beruang juga predator”.

Belakangan, tradisi yang oleh para pencinta binatang dan pejuang pelestarian alam dianggap kejam ini mulai dihilangkan. Beberapa gerakan perlindungan binatang semacam International Animal Rescue (IAR) dan Wildlife SOS (WSOS) Cabang India sejak 2006 gencar mengkampanyekan penghapusan tradisi tersebut. Mereka bekerjasama dengan pemerintah India untuk mempertegas pemberlakuan undang-undang larangan penangkapan dan jual-beli beruang sloth. Pada 2009 lalu, pejabat berwenang di India memastikan bahwa tak ada lagi beruang sloth yang masih aktif sebagai ‘penari jalanan’.

(Bersambung ke Man-Eaters # 05, In Syâ' Allâh)

Minggu, 06 November 2011

9 Worst Man-Eaters #07 - KESAGAKE: MONSTER JEPANG SEBENARNYA

Saat mendengar kata “monster” dan “Jepang”, barangkali dalam benak kita akan segera tergambar Gojira; monster fiktif yang menteror layar-layar bioskop di Jepang sejak 1950-an; atau puluhan monster lain yang biasa menjadi lawan para superhero Jepang semacam Megaloman dan Ultraman. Namun monster Jepang yang sebenarnya dan yang paling mematikan adalah seekor beruang cokelat (mengingat insiden ini terjadi di Jepang, maka kemungkina besar yang dimaksud adalah Beruang Cokelat Amur - Ursus arctos lasiotus). Ia menjadi momok paling menakutkan di Hokkaido pada kisaran Desember 1915.

Pada masa itu, desa Sankebetsu, yang merupakan salah satu desa dalam wilayah Hokkaido, Jepang, adalah sebuah desa yang luas namun dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. Hutan di sekitar desa itu adalah habitat bagi beruang cokelat, jenis beruang terbesar kedua setelah beruang kutub. Salah satu beruang tersebut, yang sangat dikenal oleh warga desa, adalah jantan berukuran besar yang mereka panggil dengan nama Kesagake. Kesagake acapkali turun gunung dan memasuki desa Sankebetsu untuk menjarah hasil panen jagung penduduk. Dianggap sebagai pengganggu, Kesagake pernah ditembak oleh 2 penduduk, membuatnya lari ke gunung dalam keadaan cedera. Penduduk desa mengira, mereka telah membuat beruang itu belajar takut pada manusia dan menjauh dari ladang. Tapi mereka salah!

Pada 9 Desember 1915, si Bola Bulu Cokelat Kesagake muncul lagi, dan mendobrak masuk ke sebuah rumah keluarga petani bernama Ota. Di rumah itu hanya ada Abe Mayu, isteri Ota, dan anak mereka yang masih bayi. Setelah membantai si bayi, Kesagake beralih menyerang si Ibu. Wanita itu mulanya melawan dengan melempari si beruang dengan obor, namun sia –sia belaka. Kesagake menyeretnya masuk hutan. Saat penduduk tiba di rumah itu, mereka hanya menemukan darah membasahi dinding dan lantai. 30 orang penduduk mengejar Kesagake ke hutan dan berhasil menyusulnya. Mereka juga berhasil menembak beruang itu, namun gagal membunuhnya. Pada akhirnya, terpandam dibalik timbunan salju di bawah sebatang cemara, mereka menemukan jenazah, tepatnya, sisa jenazah Abe Mayu, yang hanya berupa potongan kepala dan bagian kaki wanita malang itu (sebagaimana umumnya beruang menyimpan sisa buruannya untuk disantap lain waktu).
Nikmatnya daging manusia membuat Kesagake ketagihan. Dia kembali ‘berkunjung’ ke pertanian Ota. Penduduk yang telah bersiaga segera mengejarnya. Namun mereka terkecoh. Kesagake menyelinap kembali ke perkampungan yang kini tak terjaga itu. Ia menyerang rumah keluarga Miyake dan melukai semua penghuniya. Beberapa orang memang dapat menyelamatkan diri, namun, 2 orang anak kecil dan seorang wanita hamil terbunuh. Saat penduduk desa menyadari kesalahan mereka dan bergegas kembali ke desa, mereka hanya menemukan mayat-mayat bergelimpangan berkubang darah.

Hanya dalam 2 hari, Kesagake telah membantai enam orang!

Seorang pemburu terkenal spesialis beruang, Yamamoto Heikichi, didatangkan. Mulanya ia menolak, karena, menurutnya, beruang yang didentifikasi penduduk sebagai Kesagake telah terbunuh sebelum penyerangan di Sankebetsu. Namun penduduk bergeming. Si pemburu pun bersedia ikut serta memburu si beruang. Dan dialah yang akhirnya berhasil membunuh Kesagake. Dari bangkainya, diketahui bahwa beruang itu memang berukuran monster: panjang nyaris 3 meter dan berbobot 380 kg.! Dari perutnya, dikeluarkan sisa-sisa tubuh manusia.

Horror ini belum sepenuhnya berakhir. Seorang korban selamat akhirnya meninggal karena cedera yang terlalu parah. Para penduduk pun memilih meninggalkan desa Sankebetsu dan menjadikan desa itu sebagai kota hantu. Bahkan sampai saat inipun, insiden Sankebetsu tetap tercatat sebagai serangan binatang buas paling brutal dalam sejarah Jepang. Dan novel berjudul “The Bear Wind” (1965) karya Yukio Togawa serta “The Bear Storm” (1977) karya Akira Yoshimura mengabadikan insiden tragis ini.

KOMENTAR SAYA: Secara fisik, beruang cokelat memang yang terbesar di antara para beruang; kedua di bawah beruang kutub (Ursus maritimus). Hampir semua jenis beruang adalah omnivora (kecuali beruang kutub yang diyakini merupakan karnivora tulen). Beberapa jenis beruang (khususnya yang berukuran kecil) malah lebih memilih buah-buahan dan tumbuhan untuk dikonsumsi walaupun tentu mereka tak menolak disuguhi daging. Sedangkan beruang-beruang yang berukuran lebih besar lebih dikenal sebagai pemburu. Beruang kutub terkenal dengan kesukaannya memangsa anjing laut, sementara beruang cokelat (termasuk beruang grizzly) menyukai ikan salmon, rusa dan babi hutan.



Berdekatannya habitat beruang dengan hunian manusia biasanya menjadi pemicu munculnya kasus serangan beruang atas manusia. Di beberapa daerah di Amerika Utara, beruang-beruang yang berkeliaran di jalan-jalan raya dan halaman rumah merupakan pemandangan yang biasa. Para beruang ini suka sekali mengaduk-ngaduk tong sampah. Namun di tempat itu malah amat jarang terjadi serangan fatal; manusia dan beruang di sana sudah bisa menerima kehadiran masing-masing dan cukup ada rasa saling hormat di antara mereka. Kalupun ada yang merasa terganggu, penduduk tinggal menghubungi sebuah unit khusus penanganan binatang liar. Merekalah akan menangani ‘pengunjung’ yang tak dikehendaki itu dengan baik tanpa harus ‘menyinggung perasaan’nya.

Nah, kasus di Sankebetsu bisa dijadikan illustrasi dari resiko hilangnya rasa saling menghormati itu.

Selain itu, nampaknya peristiwa itu terjadi pada musim dingin. Walaupun beruang cokelat bukanlah jenis beruang yang berhibernasi (tidur panjang) secara penuh di musim dingin, namun di musim ini mereka lebih membatasi aktifitas dan memilih menyembunyikan diri di tempat-tempat terlindung semacam gua, ceruk gunung dan semacamnya. Kecuali saat benar-benar lapar, barulah beruang-beruang ini bergentayangan. Dan Kesagake barangkali adalah salah satunya.

Dari situ kita bisa belajar, bahwa melukai seekor beruang yang kelaparan bukanlah tindakan bijaksana.

(Bersambung ke Man-Eaters # 06, In Syâ' Allâh)