12/09/2011

9 Worst Man-Eaters: THE X FACTOR

Ikhtitâm:

Di alam liar, harimau, hiu, singa, beruang, buaya, serigala, ular, dan sejenisnya, sama-sama dikenal dengan reputasi sebagai predator puncak dalam ekosistem masing-masing. Secara umum, mereka hanya menjadi ancaman bagi binatang lain yang memang merupakan mangsa alami mereka. Namun, dalam situasi tertentu, para predator ini kerapkali harus bertemu dan terlibat kontak fisik dengan para homo sapiens.

Belakangan ini memang amat jarang adanya laporan serangan predator atas manusia yang berakibat fatal (selain serangan ular berbisa yang relatif konstan pertahun). Malah sebenarnya para predator cenderung menghindar dari terlibat kontak dengan manusia. Kalaupun terjadi pertemuan, maka, tentu saja, senjata alami semacam taring dan cakar tak mampu melawan senjata rakitan manusia yang semakin lama berkembang semakin mematikan. Sehingga kebanyakan ‘perseteruan’ predator-manusia selalu berakhir dengan kematian bagi para predator itu. Belum lagi dalam kasus saat predator berubah status dari ‘pemangsa’ menjadi ‘mangsa’ di mata serakah (sebagian) manusia.

Statistik memang menunjukkan, ular adalah predator yang paling banyak menyebabkan kematian manusia. Namun pembunuhan oleh ular ataupun spesies buas lainnya, pada umumnya, tidak dilakukan dalam rangka ‘memangsa’, tapi lebih atas dasar pertahanan diri atau adanya unsur ‘kebetulan’; mereka melihat manusia sebagai sebuah ancaman. Namun bagaimanapun, para predator dalam catatan-catatan tersebut di atas, secara individual, benar-benar menjadi amat agresif, mematikan, dan mendudukkan manusia dalam ranking teratas daftar menu mereka.

Paling tidak, ada lima faktor yang melatar belakangi kasus-kasus serangan binatang atas manusia: Pertama, ‘perebutan’ sumber makanan dan hak hidup di lingkungan yang sama. Kasus Gustave, Tom, dan para beruang bisa menjadi contoh.

Kedua, murni asal terkam. Faktor kedua ini banyak ditemui dalam kasus serangan hiu dan para macan semisal harimau serta singa. Dalam perspektif hiu, orang yang sedang berenang, dilihat dari bawah, amat mirip dengan anjing laut, mangsa alami mereka. Dalam konteks serangan macan, menurut penelitian, manusia yang sedang membungkuk atau jongkok lebih banyak diserang daripada mereka yang berdiri tegak.

Ketiga, faktor keterbatasan fisik (baik karena cacat atau karena usia lanjut) yang manjadi hambatan serius untuk mendapatkan makanan secara alami. Insiden amukan para macan di Champawat dan Panar adalah contoh yang cukup gamblang. Tak tertutup kemungkinan, mengganasnya singa The Ghost dan The Darkness juga dilatar-belakangi hal yang sama. Namun saya lebih cenderung mengaitkan insiden Tsavo itu dengan faktor kedua di atas. Tapi, seandainya yang mengamuk adalah seekor singa, bukan dua ekor, maka kemungkinan terlibatnya faktor ketiga ini menjadi semakin besar.

Keempat, naluri untuk bertahan saat terancam. Pada situasi seperti ini, siapapun atau apapun akan melakukan hal yang sama: bertahan dan membela diri sesuai kemampuan, sebagaimana telah ditunjukkan Si Buas dari Gevauden. Tapi seandainya si Pemangsa Misterius di Perancis itu adalah benar serigala, maka faktor pertama pun akan menjadi logis.

Kelima, semakin berkurangnya habitat disebabkan perubahan cuaca yang ekstrim. Namun konsekwensi dari hal ini –sebagaimana faktor keempat— tidak hanya menyebabkan terjadinya serangan predator atas manusia, tapi serangan binatang pada umumnya, bahkan yang ‘sekelas’ semut dan lebah sekalipun.

Faktor apapun yang terjadi, jika sampai melahirkan seekor pemangsa manusia, maka resikonya akan sangat besar. Seekor predator yang sudah mencapai level pemangsa manusia, diyakini secara ilmiah akan tetap membunuh walaupun tidak sedang kelaparan.

Pada akhirnya, setiap insiden penyerangan binatang atas manusia, baik yang spektakuler sebagaimana dalam daftar di atas, atau yang sekedar mengakibatkan cedera ringan, biasanya selalu melahirkan pertanyaan yang sama: “siapa melanggar batas siapa?”

Jawabannya bisa kita cari dalam kedirian kita masing-masing sebagai “khalifah” di bumi ini…

Wa-Llâhu Subhânahû wa Ta’âlâ a’lam bi-s shawâb…

***

Partelon, Muharram 1433 H – Desember 2011
Al-Faqîr ilâ Rahmati Rabbi-hi-l ‘Allâm,
Zainur Rahmân Hammâm

12/08/2011

9 Worst Man-Eaters #01 - GUSTAVE: MESIN PEMBUNUH MASA KINI

Welcome to the Final Countdown!

Sebuas-buasnya para predator dalam catatan-catatan sebelumnya, toh mereka (paling tidak, diyakini) telah tiada. Kebrutalan dan keganasan mereka saat ini hanya menjadi horor dalam memori manusia. Mereka tak lagi menjadi ancaman; ya, mereka semua… kecuali yang satu ini!

Kembali ke Afrika, tepatnya di Republik Burundi, sebuah negara yang dilanda konflik parah sepanjang pertengahan abad XX. Perbedaan politik warga suku Tutsi dan Hutu telah melahirkan kerusuhan dan perang saudara berkepanjangan di negara yang telah berusia 5 abad ini. Tanah memerah oleh darah yang tertumpah. Korban berjatuhan. Namun, seolah tak mau ketinggalan, ada spesies makhluk lain yang ikut meramaikan pesta kematian di Burundi. Dan sialnya, walaupun sejak Agustus 2008 lalu kondisi politik di Burundi berangsur pulih, sang makhluk nampaknya belum tertarik untuk mengakhiri apa yang telah dimulainya sejak 20 tahun terakhir ini; seekor buaya Nil jantan (Crocodylus niloticus) berukuran raksasa. Dengan panjang lebih dari 6 meter dan berbobot sekitar 1 ton, buaya yang dikenal dengan panggilan akrab "Gustave" ini sukses menebar teror di sepanjang sungai Rusizi sampai ke pantai Utara danau Tanganyika!

Ukuran buaya ini memang mengukuhkannya sebagai predator tunggal terbesar di seluruh Afrika (karena pada umumnya, saat ini, buaya Nil berukuran panjang maksimal sekitar 5 meter). Namun bukan ukuran fisik semata yang membuat buaya dari Burundi ini menjadi monster menakutkan, tapi juga reputasinya sebagai pemangsa manusia paling besar yang sampai sekarang masih hidup dan (sangat mungkin) masih aktif. Dilaporkan, bahwa hingga saat ini, buaya itu telah membunuh lebih dari 300 orang!

Menurut penduduk setempat, Gustave sudah menaikkan peringkatnya dari predator buas menjadi pembunuh kejam. Dikatakan bahwa ia membunuh “just for fun”, tidak lagi semata-mata untuk makan. Seringkali ia meninggalkan korbannya begitu saja tanpa dimakan. Setiap kali ia berhasil membunuh, ia akan menghilang seperti hantu sampai berbulan-bulan, lalu muncul di tempat-tempat yang berbeda dan kembali melakukan pembunuhan. Oleh karenanya sulit diperkirakan kapan dan dimana ia akan mengulangi aksinya.

Para pemburu dan bahkan sekelompok pasukan bersenjata pernah berusaha membunuhnya, tapi tak ada yang berhasil (setelah insiden Si Buas dari Gevauden dan Harimau Betina dari Champawat, ini mungkin kasus besar ke-tiga dalam sejarah saat tentara dianggap perlu untuk berurusan dengan binatang pemakan manusia). Mereka hanya mampu menambah ‘tanda pengenal’ pada buaya ini, sehingga ia mudah dibedakan dari buaya-buaya Nil yang lain; sekujur tubuhnya yang seolah berperisai itu dipenuhi cacat bekas luka akibat pisau, tombak bahkan senjata api. Sebuah noda hitam bekas peluru di atas kepala buaya itu menunjukkan bahwa ia pernah ditembak di bagian yang seharusnya mematikan dan menghentikan angkara-murkanya.

Seorang naturalis berkebangsaan Prancis bernama Patrice Faye, 58 tahun, bersama timnya, telah membuntuti dan melacak sang buaya pemakan manusia itu sejak tahun 1998 (konon, ia pulalah yang memberi nama "Gustave"). Mulanya, Faye, yang telah menetap selama 35 tahun di Burundi, memang ingin membunuh Gustave. Namun kini ia berusaha menangkap Gustave hidup-hidup. Jika usahanya berhasil, Faye ingin menempatkan Gustave di sebuah suaka perlindungan. Dia berharap dapat menyelamatkan manusia dari ancaman Gustave dan sekaligus menyelamatkan Gustave dari ancaman pembalasan manusia. Selain itu, barangkali Gustave bisa dikembang-biakkan dan merupakan bagian dari upaya konservasi buaya Nil secara lebih luas. Sebuah video dukumenter memperlihatkan wujud seekor buaya yang diduga kuat adalah Gustave (ukurannya memang fantastis, dan semakin terlihat nyata saat berdampingan dengan beberapa kuda nil dewasa). Video ini juga mengungkapkan usaha Faye dan timnya untuk menangkap Gustave.

Pada tahun 2002, Faye pernah mempersiapkan sebuah perangkap bawah air dari besi berukuran besar. Gustave memang muncul. Tetapi, dengan prediksi bahwa usianya waktu itu sudah 40 tahunan, Gustave barangkali cukup berpengalaman dan terlalu pintar untuk bisa dibodohi begitu saja. Ia bukanlah buaya-buaya culun dalam dongeng sebelum tidur, yang bisa ditipu mentah-mentah oleh seekor kancil. Gustave memang muncul, namun ia hanya berenang mengitari perangkap itu, lalu kembali menghilang.

Sayangnya, harapan untuk menemukan dan menangkap Gustave lewat Faye semakin menipis. Pada awal April 2011 yang lalu, Faye tersangkut kasus tindak pidana perkosaan. Ia dituduh memperkosa lima siswi sekolah yang ia dirikan untuk warga miskin. Faye diseret ke Pengadilan Negara Burundi di Ibukota Bujumbura. Walaupun menyangkal (bahkan pemeriksaan dokter menyatakan bahwa tiga gadis yang mengaku diperkosa ternyata masih perawan), sidang tetap memutuskan Faye bersalah dan memvonisnya dengan hukuman penjara selama 25 tahun serta denda sebesar €14,000,- ($20,000,-). Hingga kini, saya belum mendapatkan kabar, apakah para pembelanya berhasil membebaskan Faye dari tuduhan itu, ataukah ia malah meringkuk di balik terali besi.

Kembali ke urusan buaya tanpa tanda petik, sebuah tim independen dipimpin Michael McRae, seorang jurnalis veteran, dan Martin Best, seorang fotografer, pada tahun 2004 pernah melakukan pelacakan atas Gustave. Menurut laporan McRae, timnya bertemu dengan Faye. Faye memastikan, seminggu sebelumnya ia melihat Gustave di muara sungai Rusizi. Ia pun memimpin tim McRae menuju tempat itu, namun yang mereka dapatkan hanyalah kesia-siaan. Menurut McRae, mungkin rumor kematian Gustave itu benar. Misi dibatalkan dan tim itu memutuskan pulang dengan membawa catatan tak pasti.

Keberadaan Gustave nyaris menjadi mitos, sampai 3 tahun kemudian, Faye menelepon McRae dan memastikan bahwa: “Gustave masih hidup”. Menurutnya, Gustave kembali muncul di Rusizi. Beberapa wisatawan ‘beruntung’ sempat melihatnya. “Kondisinya cukup sehat, dan daftar korbannya bertambah”, kata Faye.

“Saya mengetahui gerak-geriknya selama tiga tahun terakhir ini,” Faye melanjutkan. “Saya memiliki banyak sumber –para nelayan, pilot yang terbang di atas danau- sehingga meskipun saya tidak mendapat informasi tiap hari, saya cukup tahu dimana keberadaanya”. Demikian laporan McRae yang dipublikasikan di majalah National Geographic Adventure (Februari, 2008).

Nampaknya Gustave masih menjadi mimpi buruk terbesar para penduduk setempat. Namun, seperti banyak pemangsa manusia lainnya, Gustave juga mengispirasi para pekerja film dan hiburan (bahkan “mimpi buruk”pun masih bisa menghasilkan uang, bukan?). Pada 2007 lalu, Hollywood Pictures merilis film horor berjudul “Primeval”, garapan sutradara Michael Katleman. Tagline film ini dengan gamblang mengakui bahwa “inspired by a true story” dengan sub-tagline berbunyi “he’s 20 feet long and has taken 300 lives. Now he’s about to resurface.”

Sementara itu, saat ini, di Taman Nasional Rusizi, Burundi, telah dibangun sebuah tempat yang secara khusus dipersiapkan untuk Gustave, sang pemangsa manusia terbesar abad ini!

KOMENTAR SAYA: Buaya, bersama aligator, gavial dan kaiman, adalah anggota keluarga Crocodylidae, kelompok reptil pemangsa terbesar yang masih bertahan di planet ini.

Sebagai reptil, sulit menentukan dengan pasti, buaya apa yang ukurannya paling masiv. Ini karena keluarga Crocodylidae (sebagaimana reptil yang lain) adalah spesies yang dikenal tidak menentu pertumbuhan fisiknya (erratic growth). Selama mereka hidup, maka ukuran fisik mereka akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Saat ini, yang diketahui sebagai buaya terbesar adalah buaya air asin (saltwater crocodile - Crocodylus porosus). Ukuran fisiknya bisa mencapai panjang 7 meter dan berat lebih dari 1 ton (walaupun laporan simpang siur pernah menyatakan bahwa panjang buaya air asin yang tertembak di Teluk Bengala pada 1840 mencapai 10 meter). Bersaing menempati posisi kedua adalah buaya Nil, aligator Amerika, dan gavial.

Sebagai pemangsa, tak disangsikan lagi bahwa buaya adalah ‘raja rimba’ di sungai. Hampir semua indera buaya berfungsi di atas rata-rata dan menunjang rancangan anatomi mereka sebagai pembunuh. Penglihatan mereka mampu melihat sama baiknya di bawah cahaya terang atau di kegelapan malam. Hidung mereka dapat mendeteksi bau mangsa dari jarak sekian kilometer. Dalam hal mendengar suara berfrekwensi rendah, pendengaran mereka masih lebih baik daripada indera pendengaran manusia. Bekal yang luar biasa ini sangat mendukung kerja senjata pembunuh mereka yang paling menakutkan: 70-an baris gigi tajam di atas rahang yang kekuatan cengkeramannya mencapai 2500-5000 psi. (ini berarti buaya mengungguli hiu putih sebagai juara rahang penghancur tulang terkuat di laut serta hyena tutul sebagai jawara di darat). Dengan anugerah perangkat pendukung rahang paling mematikan di bumi, layaklah jika para buaya menjadi predator kelas satu, para pemangsa efektif dan mesin pembunuh efisien.

Di samping itu, sebagai predator yang dikenal tidak memilih-milih makanan. Mereka mengkonsumsi apapun selama itu masih berupa daging, mulai dari ikan, unggas dan mamalia, bahkan yang sekelas (berat) gajah sekalipun. Dengan reputasi sebagai oportunis ulung seperti itu, hampir semua jenis buaya berpotensi sebagai pemakan manusia. Dan dalam hal ini, buaya Nil menempati posisi sebagai pemangsa manusia nomor 1 di dunia. Banyak laporan yang menyatakan bahwa buaya Nil membunuh sampai ratusan orang pertahun di Afrika.

Penyebabnya kurang lebih sama dengan kasus Tom: wilayah yang berdekatan dengan sumber air (dalam hal ini, sungai), dimanapun, selalu menarik untuk ditinggali baik oleh manusia ataupun oleh binatang. Saat manusia dan binatang berbagi habitat yang sama, maka problem yang kemudian biasanya adalah ‘perebutan’ untuk mendapatkan sumber makanan yang sama pula. Dan –tanpa bermaksud menghakimi—manusia, dengan segala perlengkapan dan peralatannya, terkadang berburu di darat dan di air secara berlebihan. Fauna sungai dan sekitarnya akan menipis, baik karena dibunuh atau karena ‘tidak betah’ lalu menyingkir. So, buaya-buaya yang selama ini mendiami daerah sungai yang pinggirannya sudah dipenuhi manusia, akan kesulitan menjumpai mangsa-mangsa alami mereka. Yang mereka lihat saat ini adalah spesies lain: manusia. Dan buaya sama sekali tidak keberatan dengan perubahan menu. Apalagi, spesies baru ini ternyata lebih menggoda karena tak segesit antelop serta zebra, dan tak menakutkan seperti kuda Nil, plus ketersediannya cukup menjanjikan. Maka, terjadilah apa yang telah terjadi.

Lalu, kenapa juga buaya-buaya itu tidak ikut pindah ke daerah lain dimana mereka bisa menemukan mangsa alami mereka? Bukankah logikanya jika para mangsa berpindah, ke sana pulalah para pemangsa menuju?

Yup, umumnya, dinamika kehidupan hampir seluruh predator memang begitu: “di mana ada gula di situ ada semut”. Sedangkan buaya, tidak. Buaya adalah binatang teritorial. Artinya, sekali mereka merasakan mudahnya memperoleh mangsa di suatu tempat, maka mereka akan memutuskan untuk menetap di situ dan mengklaimnya sebagai ‘rumah makan’. Selain itu, kekuasaan mereka di air relatif tak tertanggu oleh populasi manusia yang berkuasa di darat. Apalagi dengan kenyataan bahwa para penghuni darat itu juga bisa menjadi mangsa potensial mereka. Jika pun buaya-buaya itu diuber-uber oleh manusia yang merasa terancam, mereka akan menghilang selama beberapa waktu, bahkan sampai berbulan-bulan, untuk kemudian kembali lagi bila keadaan dirasa cukup aman. Barangkali inilah salah satu sebab mereka dikaruniai Allah kemampuan bertahan dari rasa lapar. Dalam masa-masa sulit (semisal saat ‘menghilang’ ini), seekor buaya dapat bertahan tanpa makan selama setahun lebih!.

Dalam kasus Gustave, ilmuwan dan herpetologis (para peneliti amphibi dan reptil) mengklaim bahwa ukuran dan bobotnya yang melebihi rata-rata barangkali yang menyebabkan buaya itu menjadi pemangsa luar biasa. Tak cukup lincah untuk memburu mangsa yang gesit dan tertuntut untuk mengisi perut besarnya, Gustave mulai mengabaikan mangsa standar seperti ikan atau antelop dan beralih pada mangsa lebih besar yang sering betah di sekitar sungai semacam zebra, wildebeest, kerbau liar, dan –tentu saja- manusia. Nafsu makannya memang menakutkan. Pernah dilaporkan, Gustave menerkam dan memangsa seekor kuda Nil dewasa yang –karena ukuran dan kekuatannya—justru dihindari oleh kebanyakan buaya.

Selain itu, menurut saya, ada kemungkinan faktor lain yang bisa diajukan. Konon, tidak semua korban tewas perang saudara di Burundi dikuburkan, tapi ada yang dibuang begitu saja ke sungai. Ini tentu saja bagaikan undangan pesta makan bagi para buaya. Dan karena hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, sangat logis jika kemudian muncul para monster yang ketagihan makanan gratis nan gurih pula. Meminjam istilah karakter Tim Manfrey (diperankan Dominic Purcell) dalam Primeval (2007): “We make, create, our own monsters!”

Selanjutnya, barangkali muncul pertanyaan: Mengapa hanya Gustave yang menjadi satu-satunya pemangsa manusia paling produktif di Afrika?

Dalam sebuah masyarakat buaya (yang tidak ter’organisir’ dengan rapi sebagaimana dalam sebuah pride singa), berlaku sistem "hirarki"; pejantan manapun bisa menjadi penguasa dengan satu syarat: ukurannya haruslah paling besar! Seekor buaya yang ukuran fisiknya melebihi anggota ‘masyarakat’ yang lain akan cenderung egois, kejam, dan ‘semena-mena’, terutama saat musim kawin atau saat persediaan makanan sulit; ia akan mengawini betina manapun yang ia inginkan, dan (merasa) berhak atas semua hasil buruan. Ia jarang berburu, tapi suka sekali makan. Sebaliknya, saat buaya lain menghadapi kesulitan menjatuhkan mangsa karena berukuran besar misalnya, si penguasa ini lebih memilih cuek (Kalo teman-temannya berhasil, toh dia juga yang memperoleh jatah paling banyak tanpa harus ‘peras keringat’ dan beresiko terluka).

Ukuran pejantan penguasa yang besar memang cukup efektif mengintimidasi pejantan lain agar tidak coba-coba memancing kemarahannya. Kalaupun ada pejantan lain yang lebih kecil nekad ingin mencoba ‘mencicipi’ fasilitas sang penguasa, semisal mengawini betinanya, maka ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika sampai diketahui, resikonya besar sekali; sang penguasa tak segan menyerang pejantan nekad itu secara brutal bahkan membunuhnya (stasiun TV Nat Geo Wild pernah menayangkan, seekor buaya penantang yang berakhir dengan nasib tragis; ia memang masih hidup, namun kehilangan hampir seluruh moncongnya). Di bawah tekanan diktator semacam ini, biasanya, buaya-buaya lain yang ingin makan dengan tenang, harus menjauh dari wilayah itu; atau berburu di perairan dangkal dan berbelukar lebat, agar si penguasa kesulitan merampas bagiannya.

Maka, jawaban paling sederhana atas pertanyaan di atas adalah: belum ada yang cukup berani mengangkangi ‘meja makan’ buaya raksasa seperti Gustave!

(Bersambung ke Man-Eaters - Ikhtitâm, In Syâ' Allâh)

12/01/2011

9 Worst Man-Eaters #02 - RATU PEMBUNUH DARI CHAMPAWAT

Melanjutkan kisah penyerangan warga macan paling sepktakuler di India, sekarang saya akan memperkenalkan jenis macan kedua, yaitu harimau, tepatnya harimau Bengala (Panthera tigris tigris).

Dalam hal kasus serangan harimau atas manusia, dari semua jenis harimau, tak satupun yang menyamai rekor korban serangan harimau Bengala (saya sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi target harimau Bengala, hiks…). Dan di antara beberapa insiden serangan harimau Bengala, yang paling spektakuler adalah penyerangan seekor harimau betina pada tahun 1907 (atau 1911 menurut versi lain).

Mulanya, betina garang yang dijuluki “Harimau Betina dari Champawat” ini melakukan pembantaian di Nepal dan menewaskan 200-an orang. Para pemburu dikerahkan namun harimau itu terlalu licin untuk ditaklukkan. Ia menjadi jarang memunculkan diri, seolah mengerti bahwa nyawanya terancam. Pemerintah Nepal akhirnya memutuskan untuk mengerahkan sepasukan tentara guna memburunya. Namun bahkan Tentara Nepal-pun gagal membunuhnya. Mereka hanya berhasil mendesak posisi harimau itu ke sungai Sarda, yang memisahkan wilayah Nepal dengan India. Sang harimau menyeberang ke India, dan melanjutkan ‘aktifitas’nya di sana dan merenggut nyawa 236 orang penduduk. Dilaporkan bahwa setiap kali harimau ini melakukan pembunuhan, ia menjadi semakin berani dan nekad. Ia mulai melakukan intimidasi, teror dan penyerangan di siang hari. Para penduduk tak lagi berani meninggalkan rumah mereka untuk berakrtifitas, karena auman sang harimau masih sering terdengar di sekitar mereka.

Jim Corbett pun terpanggil. Pemburu berpengalaman yang pada usia 8 tahun telah sukses membunuh seekor leopard ini berhasil menemukan jejak sang harimau dengan menyusuri ceceran darah dan potongan tubuh korban terakhirnya, seorang gadis berusia 16 tahun. Jim Corbett adalah seorang pemberani, namun toh pria itu tak bisa menahan kengeriannya melihat pemandangan horor di hadapannya.

Corbett menembak mati sang Maut Loreng dari Champawat itu. Keberhasilan ini semakin melambungkan nama Jim Corbett. Ia bahkan dianggap sebagai ‘orang suci’ oleh sebagian penduduk setempat. Untuk menghormati pejuang konservasi alam India ini, sejak 1955 hutan lindung Ramgangga resmi diberi nama “Taman Nasional Corbett” (Anehnya, dari sekian jenis fauna khas India, justru hanya harimau Bengala yang tidak ditemui di sini.) Tentara berpangkat kolonel dan bernama lengkap Edward James Corbett ini menulis sebuah buku berjudul Man-Eaters of Kumaon (terbit 1944). Dalam buku itu, ia mengungkapkan secara detil pengalamannya dalam memburu dan membunuh sejumlah harimau serta leopard pemangsa manusia sejak 1900-an sampai 1930-an.

Bicara jumlah korban, tak disangsikan lagi bahwa “Harimau Betina dari Champawat” ini adalah predator pembunuh manusia paling ‘produktif’ dalam sejarah. Rekor korban kebuasannya yang berjumlah total 436 orang tewas (tanpa menutup kemungkinan ada korban lain yang tak tercatat), nyaris tak tertandingi, bahkan oleh manusia yang menjadi pembunuh berantai paling gila sekalipun. Mungkin, hanya ada 1 orang pembunuh berantai yang menyamai, bahkan mengalahkan reputasi “Harimau Betina dari Champawat”, yaitu seorang Putri Bangsawan berkebangsaan Hungaria bernama Elizabeth Báthory (1560 – 1614). Konon, wanita ini ingin mempertahankan kemudaannya dengan mandi darah perawan. Maka, bersama empat pembantunya, ia membunuh lebih dari 650 orang gadis. ‘Lucunya’, tuan putri haus darah ini dikenal dengan julukan “Harimau Betina dari Csejte“!

KOMENTAR SAYA: Harimau dikenal sebagai keluarga macan paling besar dibanding anggota panthera yang lain, khususnya sub-spesies harimau Siberia, yang bisa mencapai ukuran panjang lebih dari 3 meter dan bobot 300 kg. Tak seperti singa, harimau lebih suka berburu sendirian dan dikenal sebagai ambush predator (pemangsa yang menggunakan metode menyergap untuk menangkap korbannya).

Harimau Bengala sendiri merupakan salah satu dari 6 sub-spesies harimau yang masih eksis saat ini (setelah 3 jenis harimau dinyatakan punah, yakni harimau Kaspia, harimau Jawa dan harimau Bali). 5 sub-spesies lainnya adalah harimau Siberia (Panthera tigris altaica), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau Indochina (Panthera tigris corbetti), harimau Cina Selatan (Panthera tigris amoyensis), dan harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni). Habitat harimau Bengala meliputi India, Bangladesh, Nepal dan Buthan. Walaupun populasinya berjumlah sekitar 3000-an ekor di negara-negara tersebut, dan terbesar dibanding populasi jenis harimau lain, harimau Bengala ditetapkan berstatus “genting (endangered)” oleh Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature - IUCN).

Dengan populasi harimau sebesar itu, ditambah banyaknya hunian manusia terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan, India dan Bangladesh menjadi negara ‘penghasil’ kasus serangan harimau terbesar di dunia. Desa Bandhavgarh dan desa Sundarban bisa mewakili kedua negara tersebut sebagai daerah ajang pembantaian harimau atas manusia. Di Bandhavgarh, serangan harimau memang tergolong langka, bahkan sempat tidak laporan sama sekali. Namun sejak tahun 2004, mulai ada laporan masuk tentang insiden penyerangan harimau, dan frekwensinya tiap tahun cenderung meningkat. Adapun daerah yang benar-benar menjadi ajang perburuan bagi para harimau Bengala adalah Sundarban. Di desa yang dalam bahasa Bengali berarti “rimba yang indah” ini , korban tewas akibat serangan harimau Bengala berkisar 50-60 orang per tahun! (Apakah orang-orang di sana mulai berfikir untuk merubah nama desa mereka? Entahlah…)

***

Secara spesifik, kerutalan si Betina dari Champawat maupun Leopard Panar, berdasarkan data dan informasi yang saya dapatkan, dipicu oleh kondisi ‘terpaksa’. Kedua macan ini dilaporkan mengalami cedera oleh ulah pemburu. Cedera itu membuat mereka tak mampu berburu binatang-binatang liar yang selama ini menjadi mangsa alaminya. Sebagai perbandingan, seekor harimau yang sehat saja rata-rata hanya sukses 1 kali dari 15 kali perburuannya.

Terdorong upaya untuk bisa survive, akhirnya macan-macan ini turun gunung dan mengalihkan sasarannya pada mangsa yang lebih mudah diperoleh dan jumlahnya pun melimpah: manusia. Dan wajar jika kemudian mereka menjadi ketagihan dan mengakibatkan jumlah korban yang besar. Illustrasinya begini: Anda tak bisa mendapatkan makanan yang biasa Anda peroleh. Anda menjadi kelaparan. Lalu Anda disuguhi makanan lain yang berbeda dari yang selama ini Anda konsumsi. Rasa lapar tentu membuat Anda akan segera menyantapnya tanpa perlu berpikir dua kali. Lalu tiba-tiba Anda menyadari satu hal: makanan baru ini lebih nikmat daripada yang biasa Anda makan, dan ketersediaannya pun lebih dari cukup serta mudah pula diperoleh. So, why not?

(Bersambung ke Man-Eaters # 01, In Syâ' Allâh)