5/19/2013

al-INSÂN al-KÂMIL



Ttg KESEMPURNAAN FISIK RASÛLU-LLÂH (Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam)*
·   
“Sesungguhnyalah hadits dan atsar yang menunjukkan kesempurnaan penciptaan serta kabagusan fisik Rasûlu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam telah tersebar luas. Oleh karenanya, termasuk kesempurnaan mengimani beliau Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam, adalah mengimani sepenuhnya bahwa Allâh Subhâna-Hû wa Ta’âlâ telah menciptakan fisik mulia Beliau dalam bentuk yang tidak pernah ada bandingannya, sebelum atau sesudah Beliau (diciptakan).

“Telah ada ketetapan bahwa Rasûlu-Llâh Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam dianugerahi seluruh keindahan ragawi. Namun (istimewanya) karena terlindung oleh mahkota kewibawaan dan cahaya yang benderang, maka ketampanan wajah Beliau tidak menjadi cobaan bagi siapapun yang memandangnya”. **

“Para shahabat radhiya-Llâh ‘anhum tak kuasa memandang Beliau secara cermat dan teliti karena kuatnya wibawa serta tingginya kemuliaan Beliau. Oleh karenanya, yang bisa mendeskripsikan raga beliau hanyalah para shahabat yang masih kecil atau mereka yang diasuh beliau sebelum Kenabian, sebagaimana Hindun bin Abi Hâlah dan Sayyidina ‘Ali radhiya-Llâh ‘anh.”
___________
*Lihat: “Muhammad Shallâ-Llâh ‘alaihi wa Sallam al-Insân al-Kâmilli al-Imâm al-‘Alim al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Mâlikiy al-Hasaniy Rahimahu-Llâh, hlm. 15, 19 dan 20.

**Tentang hal ini, saya juga mendengar langsung penjelasan al-‘Alim al-‘Allâmah al-Faqih as-Syeikh Muhammad bin Ismail az-Zain al-Yamaniy di PP. Ummul Qura, Blumbungan, Pamekasan, beberapa tahun lalu.

Allâhumma Shalli wa Sallim wa Bârik ‘alâ Sayyidinâ wa Maulânâ Muhammad wa ‘alâ Âlihî wa Shahbihî Ajma’în…


4/17/2013

212 ACACIA AVENUE: A Tribute to Wiro 'n Maiden

MUQADDIMAH (“New Frontier”, 2003)

Dalam dunia seni, ada dua nama yang menjadi favorit saya di antara banyak nama yang lain: WIRO SABLENG dan IRON MAIDEN. Yang pertama adalah karakter dunia persilatan rekaan alm. Bastian Tito, dan yang kedua adalah band pengusung genre New Wave of British Heavy Metal dan didirikan oleh Steve Harris.

Lalu, apa hubungan Wiro Sableng dan Iron Maiden? Mungkin tidak ada hubungannya (dan memang tidak ada hubungannya, kok!). Namun berhubung album Iron Maiden yang baru turun gunung, “Final Frontier” (2010), adalah album ke-17; dan usia Wiro Sableng saat turun gunungpun adalah 17 tahun, maka saya lalu menghubung-hubungkan keduanya agar terlihat berhubungan sehingga menjadi ada hubungannya, he… he… he… Dan hasilnya, Anda boleh percaya dan (tidak) boleh tidak percaya, ternyata beberapa titel full-length studio album Iron Maiden berikut sebagian lagu mereka bisa (saya paksakan agar) terlihat sebagai deskripsi atas tokoh utama dan hal-hal penting berkaitan denga petualangan Wiro Sableng!

Silahkan nikmati hasil ijtihad paling ‘maksa’ abad ini:

EYANG SINTO GENDENG: Guru Pendekar 212, seorang wanita tangguh, keras hati, pemarah, memilki ilmu silat dan kesaktian tinggi, datuk dari segala datuk di masanya, pernah merajai dunia persilatan Tanah Jawa selama 20 tahun, dan sampai nenek-nenek belum juga kawin, maka Iron Maiden cukup menggambarkannya dengan dua kata utama: IRON MAIDEN (nama band, judul lagu sekaligus album pertama, 1980).

WIRO SABLENG: Untuk seseorang yang “berambut gondrong, memegang kapak seraya mulutnya menyeringai”, Anda cukup melihat sosok Eddie (maskot Iron Maiden) yang nampang di sampul album “Killers” (1981), he… he… he… Dalam episode pertama Wiro Sableng (Empat Berewok Dari Goa Sanggreng), Wiro sama sekali belum mempergunakan Kapak Naga Geni 212 dalam sebuah pertempuran, maka pantas saja album pertama Iron Maiden hanya menampilkan sosok Eddie yang berambut gondrong sambil cengar-cengir. Baru pada episode kedua (Maut Bernyanyi di Pajajaran) Wiro menggunakan senjatanya yang berupa kapak bermata dua berhulu kepala naga itu, sehingga sampul album kedua Iron Maiden (Killers) pun memajang Eddie dengan pose sebagaimana saya sampaikan di atas. Selanjutnya, tentang garis hidup Wiro sebagai pendekar petualang (“The Journeyman”, 2000), Kakek Segala Tahu telah memberikan ramalan (“The Prophecy”, 1988): “Orang muda, masa depanmu penuh rintangan dan kesulitan-kesulitan (“Man on The Edge”, 1995). Kulihat garis-garis di telapak tanganmu itu penuh dengan garis-garis bahaya yang selalu mengikuti perjalanan nasibmu!” Peringatan akan jalan hidup yang mungkin akan dilalui oleh Wiro (“Fates Warning”, 1990) ini tergambarkan sebagai pertarungan hidup-mati lewat ungkapan titel album “A Matter of Life And Death” (2006).

212: Ini direpresentasikan oleh album/lagu “The Number of The Beast” (1982); yang terjemah bebas (dan nekat)nya adalah “Angka Yang Menggetarkan dan Menggentarkan”.

Selain itu, menariknya, angka yang banyak ditulis dalam lagu-lagu Iron Maiden adalah angka 2 dan angka 1. Angka 2 ditulis sebanyak 4 kali, yakni dalam “22 Acacia Avenue” (1982); “2 Minutes to Midnight” (1984); “2 A.M.” (1995). Sedangkan angka 1 ditulis 3 kali, yakni dalam “Virtual XI” (1998. XI adalah 11); dan “Satellite 15... The Final Frontier” (2010). Maka diketahui ada 4 x angka 2 dan 3 x angka 1 = 2, 2, 2, 2, dan 1, 1, 1. Nah, jika angka-angka itu kita susun secara proporsional, maka akan terbentuk 2 - 1 - 2 - 1 - 2 - 1 - 2 alias 2121212, ;-)

KAPAK NAGA GENI 212: Senjata ini memiliki sifat kuat dan atos luar biasa (sering diceritakan, senjata keras apapun yang berani ‘kontak fisik’ dengan Kapak Naga Geni, biasanya akan patah, gompal, atau setidaknya terlepas mental). Ia juga menghantar hawa sangat panas setiap kali dipergunakan dengan pengerahan tenaga dalam (tak sedikit dikisahkan bagaimana daun dan ranting pepohonan menjadi menghitam hangus dilanda sambaran angin senjata ini. Juga bagaimana luka pada daging/kulit yang disebabkan oleh kapak Naga Geni akan terlihat hitam hangus dan korbannya merasakan sengatan panas). Maka kesaktian Kapak Naga Geni 212 dapat tergambarkan dengan dua nomor lagu, “Sun and Steel” (1983) dan “Flash of The Blade” (1984).

PUKULAN SINAR MATAHARI: Pukulan yang berupa sinar putih menyilaukan dan panas luar biasa ini dapat digambarkan dengan lagu “Brighter Than A Thousand Suns” (1986).

ILMU SILAT DAN KESAKTIAN LAIN: Selain pukulan Sinar Matahari, kebanyakan ilmu pukulan Wiro Sableng berupa hembusan angin kencang membadai. Sebut saja misalnya pukulan Benteng Topan Melanda Samudera, Dewa Topan Menggusur Gunung, Kunyuk Melempar Buah, Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih, Angin Puyuh, dan sebagainya. Satu judul lagu Iron Maiden sudah cukup untuk melukiskan kedahsyatan pukulan-pukulan tersebut: “When The Wild Wind Blows” (2010).

Selain itu, ada beberapa nomor yang mengillustrasikan kesaktian-kesaktian lain milik Sang Pendekar, semisal “Be Quick or Be Dead” (1992) sebagai illustrasi untuk gerakan dan jurus-jurus silat yang serba cepat; “Can I Play With Madness” (1988) untuk menggambarkan musuh yang kebingungan saat Wiro menerapkan rangkaian Jurus Silat Orang Gila warisan si Tua Gila; “Out of The Shadows” (2006) untuk ilmu Meraga Sukma; “Lightning Strikes Twice” (1998) untuk ilmu kesaktian bernama Sepasang Pedang Dewa; “Run Silent Run Deep” (1990) untuk ilmu lari Kaki Angin, dan sebagainya.

PANGERAN MATAHARI: Musuh bebuyutan Wiro Sableng, layaknya Luthor bagi Superman dan Joker bagi Batman. Sesuai reputasi kejahatan dan kekejamannya, cukup banyak juga nomor Iron Maiden yang judulnya menggambarkan sang dedengkot golongan hitam yang mengagulkan diri sebagai “Pangeran Segala Cerdik, Segala. Akal, Segala ilmu, Segala Licik, Segala Congkak”. Bisa disebutkan antara lain “Prowler” (1980), “Wrathchild” (1981), “The Assassin” (1990), “Public Enema Number One” (1990), “The Unbeliever” (1995), “Virus” (1996), dan sebagainya. Sedangkan “Full Eclipse” (1984) adalah representasi dari salah satu pukulan sakti andalan Pangeran Matahari, Pukulan Gerhana Matahari.

PETUALANGAN-PETUALANGAN: Secara umum, tentang petualangan-petualangan Wiro di luar Jawa serta keberhasilannya menaklukkan banyak tokoh silat jahat di sana, sebagaimana saat Wiro bertualang di Pulau Andalas, Madura, Bali, bahkan di China dan Jepang, tercakup dengan ringkas lewat judul “To Tame a Land” (1983).

Secara khusus, ada satu petualangan Wiro yang dianggap paling fenomenal, cerdas, futuristik, dan berkelas science fiction, yakni saat Wiro bersama Naga Kuning dan Setan Ngompol terpesat ke negeri Latanahsilahsilam, negeri 1200 tahun di masa lalu. Rangkaian petualangan a la “time traveller” ini diceritakan oleh Bastian Tito dalam sebuah episode tersendiri yang terjalin dalam 18 judul serial. Episode di Latanahsilam ini merupakan episode dengan jumlah serial terbanyak. Maka tentu layak diapresiasi dengan 1 album pula. Dan yang cukup representatif untuk itu adalah album “Somewhere in Time” (1986). Kalo boleh (dan harus boleh), saya menterjemah judul album itu dengan “Di Negeri Latanahsilam”. Di negeri itu, Wiro mendadak menjadi seorang asing di sebuah negeri yang asing pula (“Stranger in a Strange Land”). Dia dan 2 temannya itu ibarat pelanglang buana kesepian (“Loneliness of The Long Distance Runner”) yang terperangkap di masa entah kapan (“Caught Somewhere in Time”). Waktu demi waktu mereka lalui dengan harapan yang semakin menipis (“Wasted Years”) bahwa mereka bisa kembali ke Tanah Jawa.

Namun di negeri itu mereka menemui banyak hal yang seolah pernah mereka alami di negeri asal mereka (“Deja vu”): wanita-wanita cantik semacam Peri Angsa Putih yang mengingatkan mereka pada Ratu Duyung; Luhcinta yang serupa dengan Bunga (Dewi Bunga Mayat). Lalu ada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang mirip Kakek Segala Tahu; serta Hantu Muka Dua yang berilmu tinggi serta memilki kejahatan dan kelicikan setara Pangeran Matahari. 

ROMAN: Dalam kehidupannya sebagai seorang pemuda, tentu Wiro Sableng juga terjangkit rasa cinta: mencintai dan ingin dicintai. Walaupun dalam hal ini, Kakek Segala Tahu mengungkapkan bahwa: “Garis percintaanmu tidak begitu bagus. Ini disebabkan karena kau punya sedikit sifat mata keranjang, tidak boleh lihat perempuan cantik...”, toh Iron Maiden tidak melupakan sisi manusiawi macam ini. “When Two Worlds Collide” (1997) misalnya, adalah judul yang mengillustrasikan kisah cinta Wiro dengan Bunga (Dewi Bunga Mayat), seorang gadis pendekar dari alam roh sebagai sebuah kisah cinta dua dunia. Namun, perbedaan dunia yang begitu nyata membuat cinta mereka tak lebih dari sebuah angan (“Infinite Dreams”, 1988) dan cinta yang sia-sia belaka (“Wasting Love”, 1992).

Lalu kerumitan hubungan ‘tidak jelas’ antara Wiro dengan Bidadari Angin Timur terungkap lewat nomor “The Thin Line Between Love & Hate” (2000). Dan nampaknya, hanya Ratu Duyung yang akan menjadi pelabuhan cinta abadi Wiro, “From Here to Eternity” (1992).

IKHTITÂM (“The Final Frontier”, 2010)

Inilah hasil utak-atik dan oprak-oprek nekat saya, dalam rangka menemukan sebuah “The X Factor” (1995) hubungan Wiro Sableng, seorang “wiro” atau “satria” (“The Trooper”, 1983) utama dunia persilatan, dengan salah satu legenda utama dunia heavy metal, Iron Maiden. Barangkali saja oprekan ini dapat menghadirkan hal baru, nuansa baru, cara pandang baru, sebuah “Brave New World” (2000), bagi penggemar keduanya.

...Dan hanya Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu.

12/09/2011

9 Worst Man-Eaters: THE X FACTOR

Ikhtitâm:

Di alam liar, harimau, hiu, singa, beruang, buaya, serigala, ular, dan sejenisnya, sama-sama dikenal dengan reputasi sebagai predator puncak dalam ekosistem masing-masing. Secara umum, mereka hanya menjadi ancaman bagi binatang lain yang memang merupakan mangsa alami mereka. Namun, dalam situasi tertentu, para predator ini kerapkali harus bertemu dan terlibat kontak fisik dengan para homo sapiens.

Belakangan ini memang amat jarang adanya laporan serangan predator atas manusia yang berakibat fatal (selain serangan ular berbisa yang relatif konstan pertahun). Malah sebenarnya para predator cenderung menghindar dari terlibat kontak dengan manusia. Kalaupun terjadi pertemuan, maka, tentu saja, senjata alami semacam taring dan cakar tak mampu melawan senjata rakitan manusia yang semakin lama berkembang semakin mematikan. Sehingga kebanyakan ‘perseteruan’ predator-manusia selalu berakhir dengan kematian bagi para predator itu. Belum lagi dalam kasus saat predator berubah status dari ‘pemangsa’ menjadi ‘mangsa’ di mata serakah (sebagian) manusia.

Statistik memang menunjukkan, ular adalah predator yang paling banyak menyebabkan kematian manusia. Namun pembunuhan oleh ular ataupun spesies buas lainnya, pada umumnya, tidak dilakukan dalam rangka ‘memangsa’, tapi lebih atas dasar pertahanan diri atau adanya unsur ‘kebetulan’; mereka melihat manusia sebagai sebuah ancaman. Namun bagaimanapun, para predator dalam catatan-catatan tersebut di atas, secara individual, benar-benar menjadi amat agresif, mematikan, dan mendudukkan manusia dalam ranking teratas daftar menu mereka.

Paling tidak, ada lima faktor yang melatar belakangi kasus-kasus serangan binatang atas manusia: Pertama, ‘perebutan’ sumber makanan dan hak hidup di lingkungan yang sama. Kasus Gustave, Tom, dan para beruang bisa menjadi contoh.

Kedua, murni asal terkam. Faktor kedua ini banyak ditemui dalam kasus serangan hiu dan para macan semisal harimau serta singa. Dalam perspektif hiu, orang yang sedang berenang, dilihat dari bawah, amat mirip dengan anjing laut, mangsa alami mereka. Dalam konteks serangan macan, menurut penelitian, manusia yang sedang membungkuk atau jongkok lebih banyak diserang daripada mereka yang berdiri tegak.

Ketiga, faktor keterbatasan fisik (baik karena cacat atau karena usia lanjut) yang manjadi hambatan serius untuk mendapatkan makanan secara alami. Insiden amukan para macan di Champawat dan Panar adalah contoh yang cukup gamblang. Tak tertutup kemungkinan, mengganasnya singa The Ghost dan The Darkness juga dilatar-belakangi hal yang sama. Namun saya lebih cenderung mengaitkan insiden Tsavo itu dengan faktor kedua di atas. Tapi, seandainya yang mengamuk adalah seekor singa, bukan dua ekor, maka kemungkinan terlibatnya faktor ketiga ini menjadi semakin besar.

Keempat, naluri untuk bertahan saat terancam. Pada situasi seperti ini, siapapun atau apapun akan melakukan hal yang sama: bertahan dan membela diri sesuai kemampuan, sebagaimana telah ditunjukkan Si Buas dari Gevauden. Tapi seandainya si Pemangsa Misterius di Perancis itu adalah benar serigala, maka faktor pertama pun akan menjadi logis.

Kelima, semakin berkurangnya habitat disebabkan perubahan cuaca yang ekstrim. Namun konsekwensi dari hal ini –sebagaimana faktor keempat— tidak hanya menyebabkan terjadinya serangan predator atas manusia, tapi serangan binatang pada umumnya, bahkan yang ‘sekelas’ semut dan lebah sekalipun.

Faktor apapun yang terjadi, jika sampai melahirkan seekor pemangsa manusia, maka resikonya akan sangat besar. Seekor predator yang sudah mencapai level pemangsa manusia, diyakini secara ilmiah akan tetap membunuh walaupun tidak sedang kelaparan.

Pada akhirnya, setiap insiden penyerangan binatang atas manusia, baik yang spektakuler sebagaimana dalam daftar di atas, atau yang sekedar mengakibatkan cedera ringan, biasanya selalu melahirkan pertanyaan yang sama: “siapa melanggar batas siapa?”

Jawabannya bisa kita cari dalam kedirian kita masing-masing sebagai “khalifah” di bumi ini…

Wa-Llâhu Subhânahû wa Ta’âlâ a’lam bi-s shawâb…

***

Partelon, Muharram 1433 H – Desember 2011
Al-Faqîr ilâ Rahmati Rabbi-hi-l ‘Allâm,
Zainur Rahmân Hammâm