Kamis, 30 September 2010

KING DIAMOND: The Eye (1990)

THE BEGINNING

Bermula pada suatu malam, sekitar 1993 atau 1994-an, seorang saudara berkunjung ke kamar kos saya di daerah Sapen, Jogjakarta. Waktu itu ia membawa dan menunjukkan sebuah kaset band heavy metal (milik seorang saudara lain) seraya berkata: “Nih, musiknya bagus. Dan dari liriknya, sepertinya isi album ini berupa cerita dan berdasar kisah nyata. Bener ga ya?”

Dan dari kaset bersampul warna dominan ungu dengan gambar liontin bersayap dan ‘bola mata’ di tengahnya itulah, saya (mulai) dapat memandang dunia horor dan segala aura mistis di balik kegelapannya dalam perspektif lain: heavy metal bercorak gothic kelam…



THE EYE

Bagi saya, inilah karya King Diamond ‘paling’ masterpiece (setelah ABIGAIL)!

Dirilis pada Oktober 1990 (dan kabarnya tak diikuti promo tour sebagaimana biasa), THE EYE benar2 menyuguhkan atmosfer kegelapan total dari hulu ke hilir.

Kerja apik duo gitaris, Andy LaRocque dan Pete Blakk berhasil menajamkan unsur ghotic yg menjadi basis utama album ini (walaupun terasa sekali, betapa kecanggihan Andy mampu mengontrol hilir-mudik seksi guitar-line. Belum lagi bahwa album ini menunjukkan kontribusi substansial KD-Andy di area song-writing).

Namun ada dua hal yang cukup menyedihkan: Pertama, drummer Snowy Shaw, yang baru pertama kerja bareng band KD, ternyata tak bermain di seluruh nomor. Sebagian drum-line dalam album ini adalah hasil drum-machine. Namun, dengan porsi sekedarnya itu, Shaw menunjukkan bahwa ia paham betul, bagaimana ‘mengawinkan’ drum-set di hadapannya dengan konsep horor a la KD sehingga menjadi ‘pasangan harmonis’. Walaupun ia --bersama Hal Patino (basis)-- ditendang setelah album ini kelar (karena faktor rendahnya antusiasme dan kemungkinan masalah narkoba), toh ‘kelentikan’ lengan dan kakinya membuatnya kembali diajak bareng saat Mercyful Fate menggarap IN THE SHADOWS (1993) dan TIME (1994).

Kedua, basis Hal Patino: permainan bassnya sungguh tak maksimal, bahkan nyaris tak terdengar di sepanjang album (mungkin ia perlu belajar pada juragan “itu”, bagaimana cara ‘menjajah’ sebuah album dgn bunyi bass, :D)

Di atas semua itu, optimalisasi Roberto Falcao di seksi keyboard dan penggunaan instrumen biola benar2 berhasil menterjemahkan suasana kelam abad XV-XVII di negeri Prancis dengan keren; mengiris-ngiris gendang telinga dan benak yang sejak awal sudah dijejajali fakta bahwa “main part of this album is a f***in’ blooded true story!”.

Nomor pembuka, “Eye of The Witch”, menyuguhkan melodi berat dengan kombinasi suara organ gerejawi yang membentuk kesan seram yang kental. Juga chorus yang keren.

Lalu nomor berikutnya, “The Trial”, semakin menggelapkan suasana. Riff gitar yg mengawali nomor ini seolah mengajak kita melompati waktu, menuju lorong gelap dan ruang2 penjara bawah tanah yang pengap dan busuk. Di nomor ini pula, KD menunjukkan keahlian mendongengnya; suara falsettonya dgn mantap memerankan tiga karakter sekaligus: sang penghukum, si korban dan narator sendiri.

Proses lahirnya kutukan kalung The Eye dituturkan dalam nomor berikutnya, “Burn”. Dengan musik pembuka menggelegar, nomor ini menawarkan banyak momen keren dalam komposisi musiknya, disamping sebagai nomor tercepat dalam album ini.

Lalu nomor “Two Little Girls” menyusul. Hanya dengan denting kelam tuts2 keyboards dan suara KD, nomor ini –menurut saya—berhasil merepresentasikan arti kata “horror”. Walau slow, namun nomor ini amatlah jauh dari definisi balada. Dan lengkingan KD lewat phrase "No let me have it!", sungguh kecerdasan yang mematikan!

Kegarangan dark-gothic heavy metal juga ditunjukkan oleh nomor berikutnya, “Into The Convent”, yang endingnya begitu bertenaga; dan “Father Picard”, yang begitu dahsyat, terutama pada guitar-line. Duo Andy-Pete bermain dengan agresif, dan hasilnya, interlude yang begitu memorable dan layak Anda dijadikan ringtone hape!

“Behind These Walls” menyusul dgn style paling standart namun tak layak dilewatkan. Intro yang dimainkan Roberto Falcao menarik imaji kita ke suasana kontradiktif; pagi yang cerah tapi bernuansa kusam serta mengandung ketidakpastian. Nomor yang pantas difavoritkan!

“The Meetings” mungkin termasuk nomor yang membuat kening saya berkerut. Komposisinya yang terlalu rumit untuk mengiringi sebuah ‘dongeng’ menjadikan nomor ini sedikit ‘ganjil’ walaupun tidak lalu berarti menjemukan. Apalagi ada sayatan Andy yang menggelegar dan ber’sahut’2an dibagian endingnya, keren!

Berikutnya, menyusul karya Andy, “Insanity”. Di nomor instrumental ini, kombinasi gitar elektrik Andy dengan petikan akustik Pete yang ‘hening’, berhasil membangun atmosfer kegetiran secara tuntas. Pantas jika ia menjadi pengantar menuju nomor berikutnya: “1642 Imprisonment”. Komposisi dalam nomor ini nampaknya digarap tidak terlalu diniatkan sebagai pengaduk emosi. Wajar, karena lewat lagu ini, KD hanya ingin menceritakan akhir dari sebuah drama ‘lucu namun tak pantas mendapatkan bahkan sebuah senyumpun’.

Akhirnya, “The Curse” menutup rangkaian perjalanan lintas waktu KD. Digarap dengan unsur power-metal yang kental dan racikan ritme2 mistis padang pasir, nomor ini sungguh gagah. Komposisinya seolah menjembatani genre pure heavy metal dengan thrash dan speed. Pun, lagu ini cukup merepresentasikan secara vulgar keseluruhan tema, genre, story-line dan kegelapan album THE EYE. Terfavorit diantara yang lain!


THE DARK SIDES

Album ini bercerita tentang sebuah kalung yang disebut “The Eye (Sang Mata)”. Kekuatan magis kalung itu dapat menyeret jiwa pemakainya tanpa sadar melanglang melintasi waktu menuju masa silam, sehingga ia dapat melihat peristiwa apapun yang pernah dilihat Sang Mata.
Dan uniknya, hampir seluruh bagian kisah dalam album ini adalah kisah nyata, tentang perburuan para penyihir dan kejahatan seksual dengan setting Prancis antara tahun 1450-1670 (kecuali kisah tentang kalung THE EYE, yg murni fiksi).

Karakter utamanya adalah:

KING DIAMOND: Narator

NICHOLAS DE LA REYMIE: Kepala Penyidik di Pengadilan Kristen (utk) Hukuman Bakar (Chambre Ardente), Kota Paris, Prancis.

JEANNE DIBASSON: Tertuduh penyihir.

MADELEINE BAVENT: Biarawati Prancis berusia 18 tahun yang masuk dan menjadi anggota Biara Louviers pada 1625, setelah sebelumnya mengalami pelecehan seksual oleh seorang pendeta. Wanita ini meninggal di penjara pada 1647.

Pdt. PIERRE DAVID: Kepala Pendeta di Biara Louviers. Jabatan itu dipegangnya sampai ia meninggal pada 1628.

Pdt. MATHURIN PICARD: Kepala Pendeta pengganti Pdt. David, dari 1628 sampai kematian menjemputnya pada 1642. Saat sakit, ia mengupayakan banyak cara untuk dapat memperkosa Madeleine.


-PROLOG-

Suatu malam di musim panas…

Langit begitu kelam dan awan, betapa gelapnya, ketika seorang pria (sang narator) tampak termangu. Sebelah tangannya memegang sloki anggur sedangkan tangan yang lain menggenggam erat seuntai kalung yang baru saja ia temukan; kalung dengan liontin berbentuk mata dan sepasang sayap di kedua sisinya (belakangan diketahui bahwa kalung itu adalah milik dan dikuasai roh seorang penyihir wanita).

Dari arah kegelapan, bisikan roh2 jahat alam gaib riuh rendah memasuki telinganya, mengendalikan jaringan otaknya, lalu memaksa sepasang matanya agar menatap langsung pada bagian berbentuk mata di liontin itu.

Halilintar dan petir bergulung-gulung, menghantar deras hujan yang menderu, seolah roh2 itu bersorak-sorai, saat mendadak, pria itu merasakan kehampaan total dalam jiwanya.
Sekujur badannya membeku. Matanya nyalang didera terror.
Pikiran dan jiwa si malang ini sepenuhnya telah berada dalam pengaruh Mata Sang Penyihir, yang dengan kejam menyeretnya menuju masa silam…


-I-
Paris, 1450…

Pengadilan (utk) Hukuman Bakar tengah berlangsung, dengan hunjaman2 tuduhan mengiris hati dari sang penyidik Nicholas de La Reymie atas si tertuduh penyihir, Jeanne Dibasson:

“Jeanne Dibasson, ketahuilah, di hadapan Pengadilan Bakar ini, Anda didakwa sebagai penyihir. Mengakulah! Kita punya banyak cara untuk memaksa Anda bicara. Nah, bagaimana pembelaan Anda?”

Dengan setengah histeri, si tertuduh menjerit lengking: “Saya tak pernah menyakiti seorangpun! Saya menentang (tuduhan) ini!”

Akhirnya, La Reymie memerintahkan pada para petugas pengadilan: “Bawa penyihir ini ke penjara bawah tanah untuk diuji. Keluarkan juga sekalian jarum2 itu. Kerjakan!”

Dan Jeanne pun mereka bawa ke penjara bawah tanah, yang begitu pengap dan busuk sampai ke setiap sudutnya. Jeanne mereka baringkan dilantai setelah terlebih dulu ditelanjangi. Ah, mereka punya maksud2 lain rupanya…

La Reymie menyusul masuk, dengan mata berbinar-binar memandangi Jeanne.

“Jeanne, kau sungguh mempesona,” desah La Reymie dgn nafas memburu, sementara jemari keriputnya secara kurang ajar mulai menjamahi bagian2 tubuh Jeanne.

Dan selanjutnya, puluhan jarum yg terlihat berkilau dalam gelap tiba2 saja telah menancapi sekujur tubuh Jeanne. Darah membanjir. Wanita itu mulai melemah kini, lunglai, tak berdaya, menahan derita yang tak lagi sanggup dituturkan…

Dengan suara lirih menahan perih, ber-kali2 Jeanne menbantah segala tuduhan atas dirinya. Namun manusia2 buas di sekitarnya mana mau melepaskan begitu saja mangsa mereka. Bahkan dengan pongah, La Reymie meradang:
“Kita adalah para pelayan ‘Tuhan’. Kita percaya adanya iblis, dan tandanya terlihat jelas pada dirimu! Mengakulah Penyihir!”

Namun sebenarnyalah, tanda2 (bahwa Jeanne bersekutu dengan iblis) itu tidaklah muncul; tidak ekor, tidak tanduk, tidak pula kuku kuda! Lalu, La Reymie, mana buktinya?

***

Vonis telah dijatuhkan: Bakar!

Be-ramai2 mereka menggiring Jeanne ke sebuah puncak bukit, untuk (melaksanakan) sebuah pembunuhan atas nama ‘tuhan’.

Warga menyemut, dan tanpa simpati, mereka memandangi Jeanne Dibasson yang terikat erat pada sebatang tonggak kayu dengan tumpukan kayu bakar di sekelilingnya.

Para pendeta berbaris rapi, lalu serempak memberi perintah: “Nyalakan apinya!”

Api berkobar.

Ganas dan liar. Seliar tubuh Jeanne yang meronta-ronta sengsara.

Namun sang api tak mau kompromi. Dengan suka cita lidahnya mulai melahap kaki2 Jeanne. Bau sangit daging terbakar sontak memenuhi udara malam.


“Hanguslah kau malam ini, hai Anak Iblis! Hanguslah kau malam ini!”, demikian sorak sorai dan teriakan2 membahana, terdengar seolah ingin mengatasi gemuruh api yang membubung semakin tinggi. Sedangkan yang lain, sibuk memperlihatkan senyum menjijikkan di wajah licik mereka, mengiringi daging dan tulang yang mulai luruh menjadi abu.

Ya, mereka semua begitu sibuk, sangat sibuk dengan ‘pesta pora’ itu, sehingga mereka luput memperhatikan satu hal: Kalung di leher Jeanne, secara ajaib terangkat lalu menghunjam ke sepasang matanya!


Mendadak, kilat menggelegar!

-II-

Kejap berikutnya, aku melihat dua gadis kecil, tengah bermain bersama.

Seorang, dengan jemari yang kotor, asyik memainkan boneka rusaknya. Sedang yang lain tampak tengah menggali tanah. Hmmm… mereka rupanya akan memainkan sebuah permainan keji tak bernama, di atas…

Oh, tidak!

Kalian jangan bermain di situ!!!

Jangan! Jangan di atas bekas tonggak pembakaran sang penyihir!

Oh, jika saja mereka tahu, apa yang tersembunyi di bawah tanah tempat mereka bermain… Oh, mereka tertawa-tawa, mereka mengira mereka tengah bergembira… Mereka…

Terlambat!

Salah seorang tengah memungut seuntai kalung dengan liontin bersayap, dari tumpukan abu sisa sang penyihir!

Temannya tiba2 berseru: “Berikan padaku!”.

Ia rampas kalung itu tangan si penemu, dan detik berikutnya, ia diam terpaku. Dengan nafas tertahan, ia menatap tepat ke ‘mata’ sang penyihir, dan...

Dan ia melihatnya!

Melihat kengerian, yang seketika membuat gadis malang itu tercekik, sekarat…

Oh, seandainya mereka tahu, apa yang tersembunyi di bawah tanah tempat mereka bermain…
Pastilah mereka masih tertawa riang, dan menyaksikan mentari tenggelam…

Dan, jiwaku kembali melanglang…

-III-

Louviers, Prancis, antara tahun 1625-1642…

Madeleine Bavent, dengan keinginan menghindari masa lalu sekaligus membersihkan diri, memutuskan menjadi biarawati dan memasuki Biara pimpinan Pdt. Pierre David. Dengan senyum ceria, seraya berharap dapat menyembunyikan dosa2nya, Madeleine masuk menjadi anggota biara, tanpa menyadari, kesalahan fatal yang bakal terjadi di tempat itu.

Pdt. David, dengan senyum di wajah mesumnya, menyambut Medeleine:

“Selamat datang, Saudari. Akulah Kepala Pendeta-mu. Berlututlah, dan –jika kau mau- berdoalah. Di biara ini, akulah Tuan-mu. Cium salibku ini, atas nama…"

Di lain saat, Pdt. David berkata:

“Ayolah, Saudari. Dalam persekutuan ini kau harus telanjang. Ayolah, bentangkan mimpi terliarmu. Inilah saat pesta dimulai!”

Dan kehormatan biarawati berusia 18 tahun itupun, tergadaikan…

Lalu, malam itu juga, di salah satu sudut gelap biara, Madeleine menemukan”Sang Mata”, tergeletak di atas lantai batu yang dingin. Dan entah kekuatan apa yang membuat biarawati ini memakainya. Kemudian ia memperlihatkan kalung itu pada Si Pendeta.

Pengaruh sang kalung segera terlihat. Kekuatan aneh tiba2 menyergap saraf2 otak Pdt. David, memaksa sepasang matanya untuk memandang tepat pada “mata” kalung itu.

Lalu, esoknya, Pdt. David tewas.

“Mata” kalung itu, kembali memakan korban.

Dan satu jiwa, akan segera kembali ceria…

***

Kepala Pendeta baru bernama Pdt. (Mathurin) Picard itu telah tiba. Madeleine dan beberapa biarawati lain akan bertemu dengannya malam ini…

Dan malam itu, Pdt. Picard menyampaikan sambutannya, di hadapan Madeleine dan 3 orang biarawati lain:

“Selamat datang di markasku, Saudari sekalian. Masuklah, masuklah dalam cahaya. Aku Pdt. Picard, mengganti Pdt. David. Banyak hal akan berubah. Dan kalian adalah empat orang yang telah dipilih ‘tuhan’ untuk menjadi malaikat2-nya. Minumlah anggur manis suci-ku ini…”

Terpesona, biarawati2 itu meneguk anggur yang disuguhkan, tanpa mengetahui, bahwa Pdt. Picard telah mencampur anggur itu dengan sejenis bubuk putih!

Para biarawati itu mulai bertingkah ganjil, dengan sorot mata berkilau penuh gairah…

Mulai saat itu, setiap hari Minggu, Pdt. Picard sepenuhnya mengendalikan pikiran mereka!

***

Ah, ada apa di balik dinding2 Biara ini?

Madeleine berjalan sendirian, memetik bunga2 di bawah siraman matahari. Pagi itu sebenarnya indah. Burung berkicau riang. Namun Madeleine seolah tak mendengarnya. Pun ia tak melihat seorangpun biarawati lain.

Pada kemana mereka?

Oh, butakah Madeleine, ataukah pikirannya tengah gelap?

Ia tak bisa berpikir normal. Yang tertanam di benaknya, hanyalah erangan2 dan jeritan2 menjijikkan malam itu, berasal dari penjara bawah tanah yang dingin…

Lonceng berdentang. Waktu untuk persekutuan kembali tiba.

Hmmm… Pdt. Picard, benarkah dia itu seorang teman?

***

Malam itu begitu pekat.

7 sosok tubuh tampak menyusuri jalanan kota Louviers; Pdt. Picard, dua orang pendeta lain, beserta Madelaeine dan tiga temannya. Persekutuan jahat itu hendak menuju tempat pertemuan2 yang biasa mereka lakukan secara sangat rahasia; di sebuah ruangan yang begitu suram, hanya diterangi cahaya beberapa lilin dan sebuah altar pemujaan dengan salib tergantung tinggi di atasnya.

Dan ritual keji itu pun, mulailah…

Madeleine, dengan pikiran kosong dan buram tak ubahnya seorang asing di tempat itu, melangkah masuk, membawa sesosok bayi yang menangis meraung2 seolah mengutuk apa yang akan terjadi berikutnya.

Seseorang akan mati.

Para biarawati lain mulai ‘berdoa’…

Madeleine dan biarawati yang lain, bersama-sama mengangkat bayi itu tinggi2, mengarahkannya ke salib di atas altar. Dan Pdt. Picard, bersama kedua pendetanya, mendekat, dengan palu dan paku…

Raungan sang bayi mendadak senyap, digantikan deru darah yang memancar deras!

***
Kegilaan berdarah, yang mendekap erat para penghuni Biara Louviers, harus berakhir, dalam hukuman penjara pada tahun 1642.

Betapa tidak!

Segala pengorbanan tumbal, rituil, rahasia, dan anggur yang ganjil, mengiringi pertemuan2 yang berulangkali mereka lakukan. Pdt. Picard seolah ketagihan mencabut nyawa demi nyawa bayi tak berdosa. Ia, dan semua yang terlibat dalam permainan kejinya, benar2 gila.

Dan dibalik terali2 besi penjara, satu-satu mereka mengalami kehancuran jiwa. Toh para biarawati itu tak mau dipersalahkan, dengan mengakui adanya kendali pikiran yang keji atas mereka.

Apapun, di penjara itu pula, Sang Maut dengan senang hati menjemput mereka…


-EPILOG-

Kutukan Sang Mata, akan membawamu menjelajah masa!

Semua (seolah) hanya kemarin terjadinya. Petir yang membelah langit, dan hujan yang mendera, sungguh membuatku gila. Kutukan ini begitu menyiksaku. Jiwaku perih.

Tapi ingatlah, kawan!

Kekuatan kalung ini, mutlak milikku. Hanya akulah yang bisa mempergunakannya. Dengan kekuatannya, aku bisa mengetahui apapun yang kau kerjakan, sekalipun aku jauh darimu.

Sekali lagi, milikku, MILIKKU!!!

©2010, August, 14th_z@envanhamme
Diolah dari berbagai sumber dan keterbatasan untuk berbahasa Inggris yang baik, hiks...

6 komentar:

  1. mantap broo!! *yang penting komen dulu baru baca hihihi*

    tapi sempat baca yang bawah ini:

    Hal Patino: permainan bassnya sungguh tak maksimal, bahkan nyaris tak terdengar di sepanjang album (mungkin ia perlu belajar pada juragan “itu”, bagaimana cara ‘menjajah’ sebuah album dgn bunyi bass, :D)

    setuju berat, entah berapa kali muter2 album ini, kayaknya ngga ada bassline yang nyantol wkwkwkwkwk

    BalasHapus
  2. Emang, Bro; tp kalo bodi bass-nya sih nyantol ke lehernya si Hal kok, haghaghag

    BalasHapus
  3. kok, urutan lagunya beda ya? Sama yg di kaset. Setahu saya
    1. The curs
    2. Eye of the witch
    3. Burn
    4. Father picard
    5. Insanity
    6. Two little girls

    side b:
    1. Behind theese wall
    2. The meeting
    3. The trial (chambre ardente
    4. Into the convent
    5. 1642 imprisonment.

    BalasHapus
  4. kok, urutan lagunya beda ya? Sama yg di kaset. Setahu saya
    1. The curs
    2. Eye of the witch
    3. Burn
    4. Father picard
    5. Insanity
    6. Two little girls

    side b:
    1. Behind theese wall
    2. The meeting
    3. The trial (chambre ardente
    4. Into the convent
    5. 1642 imprisonment.

    BalasHapus
  5. kok, urutan lagunya beda ya? Sama yg di kaset. Setahu saya
    1. The curs
    2. Eye of the witch
    3. Burn
    4. Father picard
    5. Insanity
    6. Two little girls

    side b:
    1. Behind theese wall
    2. The meeting
    3. The trial (chambre ardente
    4. Into the convent
    5. 1642 imprisonment.

    BalasHapus
  6. Jadi kangen masa lalu saya kenal pertama King Daimond lewat The Candle saat kelas 6 di tahun 1987

    BalasHapus